Tentang Komsil
Tentang Komsil (Komentar Usil)
Apa Itu Komsil ?
Komsil adalah sebuah metode penulisan yang bentuknya berupa kalimat-kalimat pendek. Tampilan redaksional biasanya didahului teks topik yang akan dikomentari, lalu diikuti dengan kalimat komentar.
Komsil cenderung mengandung muatan opini dari penulisnya terhadap suatu topik atau peristiwa. Walaupun muatan opini tidak selalu ada. Terkadang komsil malah hanya berupa celetukan lucu belaka, yang lebih mengeksploitasi unsur humor dan tidak terlalu menyentuh substansi topik yang di-komsil-i. Namun komsil yang baik adalah yang memuat opini dari sudut pandang yang kritis, namun sekaligus mengandung nilai humor dan “tingkat keusilan” yang tinggi. Gabungan kedua unsur tersebut bisa memunculkan “daya gigit” dari sebuah komsil.
Memunculkan “daya gigit” yang baik pada sebuah komsil punya karakteristik kesulitan tersendiri, dibandingkan dengan metode penulisan yang lain. Ini karena komsil harus tampil singkat, semakin singkat semakin baik. Penulis harus bermain dalam ruang yang sempit, jadi tiap kata dan tanda baca harus diberdayakan sampai batas maksimalnya. Tingkat kesulitan penulisan komsil barangkali bisa disejajarkan dengan pembuatan kartun editorial, atau yang sering dikenal dengan karikatur. Walaupun kartunis punya ruang yang sedikit lebih luas untuk eksplorasi gagasannya karena presentasinya yang berbentuk grafis.
Walaupun bentuknya singkat, sebuah komsil yang baik bisa menghasilkan efek apresiatif yang tertinggal lama di otak pembaca. Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk membaca sebuah komsil, namun pembaca bisa mengingat isi sebuah komsil bahkan setelah bertahun-tahun kemudian. namun itu semua tergantung dari kekuatan “daya gigit” komsil tersebut.
Keberadaan
Sampai sekarang komsil masih belum secara luas dianggap sebagai sebuah genre metode penulisan tersendiri. Barangkali karena bentuknya yang sederhana jadi membuatnya tampak seperti sesuatu yang sepele. Atau sebab lain karena pembuatannya yang tidak mudah jadi tidak banyak media yang menyediakan rubrik komsil. Komsil yang tidak baik akan dipersepsikan oleh pembaca sebagai “garing”, ini justru amat kontraproduktif bagi image keseluruhan sebuah media. Maka memiliki rubrik komsil bagi sebuah media barangkali merupakan sesuatu yang beresiko.
Rubrik komsil yang paling menonjol adalah Rubrik Pojok Kompas, yang penulisnya berjuluk Mang Usil. Banyak pembaca Kompas yang mengaku tidak pernah melewatkan rubrik ini setiap harinya. Bahkan beberapa institusi yang namanya disentil dalam rubrik ini menyimpan klipingnya dalam arsip resmi. Beberapa topik yang diangkat dalam Pojok Kompas bahkan pernah dibahas secara luas di milis-milis politik. Komsil di Kompas ini oleh publik dipersepsi sebagai opini resmi Kompas untuk topik atau peristiwa tertentu, jadi tentunya tantangan yang tidak mudah bagi penulisnya. Sebuah misi besar dalam kabin sempit.
Namun kualitas komsil Mang Usil menurun cukup drastis lima tahun terakhir ini. Dulu Mang Usil selalu tajam dan berbobot, dengan tingkat keusilan yang tinggi. Sehingga pembaca sejenak ditarik ke dalam dunia lain, menjauh dari fakta-fakta berita yang biasanya tragis dan menggelisahkan. Namun sekarang Pojok Kompas tampil datar-datar saja, bahkan terkadang cenderung “garing”, sebutan yang merupakan cela besar bagi sebuah komsil.
Rubrik komsil yang lain adalah di Jawa Pos, Rubrik Clekit yang penulisnya bergelar Mr. Pecut. Sementara ini Mr. Pecut masih lebih terasa pecutannya dari pada Mang Usil Kompas. Ada beberapa media lain yang memuat rubrik komsil seperti misalnya media online Indonesia Monitor.
Perkembangan
Dengan berkembangnya bentuk-bentuk media maka sekarang komsil tidak hanya bisa ditampilkan dalam media cetak, namun bisa juga media elektronik seperti lewat internet. Jadi perkembangan komsil ke depannya tentunya bisa lebih cerah.
Banyak berkembang pula blog atau website yang isinya khusus hanya menampilkan komsil, walaupun kebanyakan masih berupa penyaluran hobi saja.
Perkembangan komsil baik sebagai genre tersendiri ataupun tidak tentunya akan punya nilai dukung yang baik bagi eksplorasi penggunaan Bahasa Indonesia. Siapa lagi yang seharusnya mengembangkannya bila bukan para pemilik bahasa itu sendiri.
Mr. Asbun