Ayo Naik Motor ke Kantor
Sudah dua setengah tahun terakhir ini Asbun naik motor tiap berangkat ke kantor, tepatnya dimulai ketika harga bensin melonjak sampai hampir dua kali lipat. Sebelumnya tiap berangkat ke kantor Asbun selalu mengendarai mobil, saat harga bensin melonjak tiba-tiba biaya transpor membengkak besar membebani pengeluaran sehari-hari, istri Asbun jadi uring-uringan, pos-pos pengeluaran lain jadi banyak yang harus dipotong, hidup jadi jadi seperti tercekik.
Asbun terpaksa cari jalan keluar untuk masalah tersebut, dan akhirnya Asbun membeli sebuah sepeda motor untuk jadi alat transportasi tiap hari ke kantor. Sebuah motor bebek manual ukuran 100cc, ukuran terkecil saat itu.
Jadilah Asbun memulai sebuah kehidupan baru, sekarang dia adalah seorang “BIKER”. Ternyata pilihan untuk mengendarai motor ini tidak salah. Mobil Asbun yang berukuran 1.500 cc minum bensin 1 liter untuk jalan 10 kilometer dalam kondisi perjalanan berangkat kantor yang selalu padat, sedangkan dengan sepeda motor konsumsi bensinnya tiap 1 liter bisa 50 kilometer lebih. Jadi konsumsi bensin motor hanya seperlima dibanding mobil, atau motor hanya perlu 20% dari keperluan bensin mobil untuk jarak yang sama.
Keperluan biaya transpor sehari-hari jadi turun 80%, sebuah jumlah yang sangat berarti. Belum lagi biaya-biaya untuk perawatan, karena biaya perawatan motor jauh lebih rendah dibanding mobil. Perbandingan biaya servis dan onderdil untuk motor juga kira-kira 20% dari biaya mobil, jadi penghematan benar-benar terasa jumlahnya. Mobil hanya digunakan saat akhir minggu saja jadi perawatan tidak perlu sesering bila digunakan tiap hari.
Selain penurunan pengeluaran Asbun juga mendapatkan sesuatu yang lain ketika dia menyusuri jalanan Jakarta tiap hari dengan motornya. Perjalanan berangkat ke kantor selalu harus melalui lalulintas yang dalam kepadatan puncak, mobil-mobil berderet panjang, merambat pelan seperti siput. Dengan mobil perjalanan ke kantor yang berjarak 17 kilometer memakan waktu dua jam atau lebih. Setelah naik motor Asbun merasa seperti seorang “raja jalanan”, dia tidak perlu lagi berada dalam deretan mobil-mobil yang seperti tidak berdaya digencet kemacetan, dengan motor dia selalu bisa maju terus walaupun jalanan sedang padat. Setiap pagi selalu manjadi petualangan baru, dengan lincah motor meliuk-liuk diantara sela-sela kemacetan, tidak ada yang bisa menahannya. Waktu tempuh ke kantor dengan motor hanya 45 menit, bahkan bila berangkat lebih pagi bisa hanya 30 menit.
Asbun sering berpikir mungkin sepeda motor adalah alat transportasi yang paling ideal untuk warga Jakarta yang rutin berangkat kerja tiap hari. Kepadatan lalu lintas yang semakin mencekik membuat perjalanan menggunakan mobil menjadi sangat tidak efisien dari segi biaya dan waktu.
Kondisi angkutan umum di Jakarta juga masih sangat memprihatinkan, sangat tidak nyaman, tidak bisa diandalkan dari segi waktu, dan lagi biaya transport dengan kendaraan umum bila dihitung jumlahnya bisa sama dengan biaya angsuran sepeda motor sekaligus biaya bensinnya per bulan. Artinya bila seseorang membeli sepeda motor baru dengan cara angsuran dan memakainya untuk transpor ke kantor maka biaya yang dia keluarkan per bulan akan sama dengan bila dia menggunakan angkutan umum tiap harinya. Bedanya bila mengangsur motor maka dalam dua tahun motornya akan lunas terbayar dan sepenuhnya menjadi miliknya, tapi bila dia mengandalkan angkutan umum maka dia tetap tidak memiliki apa-apa, semua uang yang keluar menguap tanpa bekas.
Asbun sering merasa aneh jika pemerintah beberapa kali hampir mengeluarkan kebijakan yang membatasi pengguna sepeda motor, untungnya kebijakan-kebijakan tersebut tidak terealisasi karena pemerintah sendiri merasa belum sanggup menyediakan transportasi umum yang memadai.
Sepeda motor hanya memerlukan ruang sebesar 1 meter kali 2 meter, jadi luasan jalan yang diperlukan sebuah sepeda motor hanya 2 meter persegi, bandingkan dengan mobil yang memerlukan 10 meter persegi luas jalan. Jadi motor hanya menghabiskan seperlima luas jalan yang dihabiskan mobil,atau hanya 20% nya. Bayangkan jika lebih banyak warga Jakarta yang berangkat kerja dengan mobil beralih ke sepeda motor, ruas jalan yang dipakai bisa menjadi lebih sedikit. Artinya kepadatan bisa berkurang, kemacetan bisa berkurang pula. Walaupun tentunya pengedara mobil yang bisa beralih ke sepeda motor adalah yang berangkat sendirian atau maksimum berdua. Kondisi kesehatan badan juga harus lumayan prima karena mengendarai motor lebih melelahkan dibandingkan mobil. Jarak tempuh ke tempat kerja juga kira-kira maksimal 30 kilometer, karena jarak yang terlalu jauh bila ditempuh dengan motor akan sangat melelahkan.
Sisi negatif dari sepeda motor adalah para pengendaranya cenderung suka tidak disiplin di jalanan, ukuran yang kecil dan keleluasaan bergerak membuat para pengendara motor merasa aturan lalu lintas tidak berlaku bagi mereka. Yang paling menyebalkan adalah banyaknya pengendara motor yang berteduh di bawah jembatan layang atau jembatan penyeberangan ketika cuaca hujan. Hal seperti ini sangat merugikan pemakai jalan lain karena deretan pengendara motor yang berteduh tersebut memakan badan jalan dan bisa mengakibatkan kemacetan. Padahal pengendara motor yang cerdas seharusnya selalu siap dengan jas hujan, jadi ketika cuaca hujan tidak menjadi penghambat perjalanannya atau perjalanan orang lain.
Bagaimanapun juga sepeda motor adalah salah satu sarana transportasi unggulan bagi warga Jakarta, tidak pada tempatnya bila pemerintah mengeluarkan aturan-aturan yang membatasi para pengguna motor ini. Justru melihat pontensinya seharusnya pemerintah mulai tanggap mengantisipasi semakin banyaknya jumlah pengendara motor di jalanan. Harus segera diadakan kampanye-kampanye yang berisi ajakan agar para pengendara motor lebih berdisiplin di jalanan. Banyaknya kelompok-kelompok bikers bisa dimanfaatkan sebagai wadah bagi kampanye seperti ini
Di luar itu semua Asbun sekarang selalu bisa menikmati hari-harinya berangkat kerja karena lebih cepat, lebih leluasa dan yang paling penting jauh lebih hemat.
September 18th, 2011 at 11:45
Naik sepeda motor di Jakarta adalah pilihan yang tepat, tapi bukan pilihan yang menyenangkn sebenarnya. Karena pilihan yang lain lebih tidak menyenangkan lagi. Naik mobil pribadi borosnya minta ampun, apalagi kalau jalan macet. Naik kendaraan umum sangat tidak nyaman dan tidak aman.