Prita vs RS Omni, Sebuah Contoh Bunuh Diri Sosial
Dalam kasus Prita Mulyasari vs RS Omni Intl tampak sekali bahwa apa yang dilakukan RS Omni telah melanggar kesetimbangan “Bargaining Position” atau “Posisi Tawar”. Hubungan antara Rumah Sakit dan Pasien seharusnya merupakan hubungan antara yang memberikan pelayanan dan yang dilayani. Rumah Sakit memberikan pelayanan lalu Pasien membayar sejumlah uang untuk pelayanan yang didapatnya. Jadi untuk hidup sebuah Rumah Sakit membutuhkan Pasien. Sangat jelas bahwa Pasien memegang Bargaining Position yang lebih tinggi daripada Rumah Sakit.
Institusi-institusi pelayanan dalam era kompetisi yang ketat sekarang ini berlomba-lomba memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggannya. Hotel, restoran, bank bahkan sering menempatkan karyawan yang tugasnya khusus membukakan pintu dan menyapa pelanggan yang datang. Apakah ini mereka lakukan karena mereka memang benar-benar menghormati orang yang masuk pintu mereka ? Sepertinya bukan begitu, mereka melakukan itu supaya para pelanggan ini membeli pelayanan mereka, dan terus kembali untuk membeli. Dan efek yang diharapkan lainnya adalah para pelanggan ini memberi tahu lingkungannya betapa bagus pelayanan yang diberikan sehingga menambah pelanggan baru bagi institusi yang bersangkutan.
Sebenarnya langkah RS Omni Intl untuk menuntut Prita terlihat ganjil, sepertinya RS Omni tidak paham hubungan antara sebuah Rumah Sakit dan Pasiennya. Ketika mendapati email Prita yang tersebar luas RS Omni seharusnya segera menghubungi Prita, mendengarkan komplainnya, dan memperbaiki pelayanannya bila memang ada kesalahan yang dilakukan RS Omni. Kalau memang RS Omni merasa tidak bersalah mereka bisa dengan baik-baik menjelaskan apa yang dikeluhkan Prita. Kemudian bila keluhan bisa diatasi, RS Omni bisa meminta Prita untuk membuat email tentang bagaimana profesionalnya RS Omni dalam menanggapi komplainnya. Bila ini dilakukan maka publik akan melihat bahwa RS Omni adalah Rumah Sakit yang memberikan pelayanan yang bagus, dan akan membeli jasa Rumah Sakit itu ketika membutuhkan.
Tapi dengan menuntut Prita seperti yang dilakukan sekarang apa yang akan didapat RS Omni ? Terlepas dari apakah email yang disebarkan Prita itu benar atau tidak, publik sudah terlanjur tidak bersimpati pada RS Omni. Yang dicatat di memori publik tentang RS Omni adalah : Rumah Sakit yang memberikan pelayanan buruk, dan akan memperkarakan pasiennya yang berani komplain karena pelayanan buruk tersebut. Siapa yang mau masuk ke Rumah Sakit seperti itu ?
Ditambah lagi kejadian ini berlangsung pada masa kampanye pilpres. Para capres berlomba-lomba menunjukkan simpati pada Prita, hal ini secara tidak langsung menunjuk RS Omni adalah pihak yang bersalah. Seluruh media memberitakan kasus ini dengan tema seorang ibu rumah tangga sederhana diperlakukan sewenang-wenang oleh sebuah Rumah Sakit. Bagi sebuah Rumah Sakit tidak ada publikasi yang lebih buruk dari itu.
Ada sebagian pihak yang menyatakan bahwa RS Omni itu arogan, tapi barangkali yang lebih tepat istilah bagi tindakan RS Omni ini adalah “naif” dan “lugu”. Sebuah contoh bunuh diri sosial yang perlu dijadikan pelajaran bagi semua institusi pelayanan, agar tidak cepat gulung tikar karena ditinggal pelanggan.
June 4th, 2009 at 11:50
Sebuah analisa yang brilian (karena sama ama yang di kepala aku :-))
June 4th, 2009 at 11:55
Wow. Your last paragraph is without a doubt pictures everything.
I bet NO ONE will ever come to that stupid hospital anymore. And it will take decades for them to rebuild the reputation. What a suicidal move.
June 4th, 2009 at 11:59
sip, kalau menurut aku harus di tutup, dan prita minta ganti rugi juga, lebih besar, seperti kasus red camel di amerika
June 4th, 2009 at 12:01
Yeah, kita sulit mengatakan yg sebaiknya tidak perlu kita katakan,yakni: Hendaknya Kemanusiaan Dijadikan Nilai, jangan segi bisnisnya saja. Bukankah Perikemanusiaan ada dlm Pancasila?
June 4th, 2009 at 12:02
sip analisanya; klo sudah begini sangat susah ato mustahil mengembalikan nama baik institusi pelayanan malah bisa2 bangkrut; kata orang-lebih susah bangun nama baik di banding bangun jembatan; viva ibu prita
June 4th, 2009 at 12:03
wow, good blog. Inilah cerminan pelayanan diindonesia.
June 4th, 2009 at 12:05
Yang pasti sih orang akan takut untuk datang kesana….. pasien bayar tapi ga dapet haknya… komplain malah dituntut…….
bener2 bunuh diri sosial….. kita lihat itu omni bisa bertahan berapa lama
June 4th, 2009 at 12:09
Saya setuju. Langkah yang diambil RS Omni sangat tidak bijak untuk sebuah instansi publik..
June 4th, 2009 at 12:10
saya termasuk korban dari rumah sakit yang tidak “mencerdaskan” pasiennya…..
June 4th, 2009 at 12:14
Alhamudillah skrng Ibu Prita telah kembali ke pelukan anak2nya yg msh kecil2.R.S. Omni perlu dikasih pelajaran biar gak bertindak seenaknya dan hanya mementingkan bisnis saja.
June 4th, 2009 at 12:20
saya TIDAK AKAN menggunakan rs omni alam sutra… takut dehhhhhhhh….
June 4th, 2009 at 12:27
sutuju banget ..!! rumah sakit sekarang kebanyakan melayani uda gak pake hati nurani ! hope they got their lesson this time !
June 4th, 2009 at 12:28
RS dudul !
June 4th, 2009 at 12:28
Sepakat dengan opini Anda. Menuntut Prita dengan alasan pencemaran nama baik justru menjadi blunder bagi RS Omni Internasional: jika “pencemaran nama baik” tadinya hanya beredar di milist2, saat ini kasusnya justru terekspos besar-besaran di berbagai media. Nama baik RS Omni Internasional: ke laut aja deh. Enough said.
June 4th, 2009 at 12:30
Lebih baik ke Puskesmas aja, udah Gratis, kagak pakai acara gugat menggugat..soalnya ibu2 disana kagak punya email…
apa lagi blog he he he
June 4th, 2009 at 12:34
betul mas, benerna bukan semuanya salah RS OMNI atau prita, tapi ini ada kesalahan lemahnya undang undang negara ini. terlalu ribet dan malah menyampingkan apa yang sbenernya menjadi tujuan di buatnya undang undang itu sendiri, yaitu keadilan mas. keadilan bagi semua orang, dan saya ngak ngelihat itu di kasus ini. undang undang ini malah menjadi sesuatu yang ditakuti masyarakat, bukan menjadi pelindung hak menjadi warga negara
June 4th, 2009 at 12:36
lebih baik kita konsen ke kasus gini daripada manohara..hidup prita
June 4th, 2009 at 12:38
yah mg2 prita bebas………
dengan berita ini jadi menambah keburukan citra status RS omni…..
semoga yang ingin berobat berhati2lah pada rumah sakit manapun. blum tentu RS besar dan terkenal menjadi jaminan kenyamanan berobat…..
dan lagi2 ketidak berdayaan orang kecil di indonesia…..
hhehe…..
June 4th, 2009 at 12:43
jangan lupa, walaupun dah bisa ktemu keluarga, posisi bu prita belum aman karena status masih terdakwa tahanan kota
June 4th, 2009 at 12:56
Ayo kita beri dukungan buat Bu Prita
June 4th, 2009 at 12:57
Berdoa saja semoga kebenaran cepat terungkap
June 4th, 2009 at 12:58
berarti rame-rame kita rekomendasikan ke keluarga, sahabat, teman, kenalan kalau berobat jangan ke RS Omni Internasional Alam Sutra……… takut deh……..
June 4th, 2009 at 12:59
EMAIL adalah suatu surat pribadi dan memiliki sifat pribadi, jadi bukan untuk konsumsi umum.
Heran sekali suatu tuntutan PENCEMARAN NAMA BAIK didasarkan atas suatu surat yang PRIBADI.
Hal ini bisa diasumsikan seseorang yang membuat surat tertulis kepada teman baiknya mencurahkan keluhan dan rasa kesalnya. Karena kejadian tertentu surat tersebut tersebar entah dari mana asalnya sehingga diketahui umum. Apakah hal ini disebut sebagai PENCEMARAN NAMA BAIK?????.
Oh kasihan sekali kalau demikian, kita akan balik ke jaman SILENT IS GOLDEN atau diam itu emas, bukan jaman DEMOKRASI .
Penahanan Ibu yang mempunyai 2 anak tanpa diberi kesempatan membela diri adalah suatu pelanggaran Hak azasi yang semena-mena dan tidak mempertimbangkan azas kemanusiaan dan tidak sesuai dengan sila ke 2 PANCASILA.
Kenapa harus seperti kebakaran jenggot menganggap PENCEMARAN NAMA BAIK, dengan menangkap dan memenjarakan seorang Ibu yang tidak berdaya, melarikan diripun tidak, merusakpun tidak. Terlebih lagi didasarkan atas —————-SURAT PRIBADI—————–
BUKAN tulisan umum.
Bukankah ini mencerminkan suatu sifat AROGAN yang tidak seharusnya.
Apakah Pelayanan publik seperti ini masih harus dipertahankan atau DITUTUP Saja.
Prita teruslah bertahan Tuhan Bersertamu. Teruskan Perjuanganmu.
Salam
June 4th, 2009 at 13:03
yang perlu diperiksa jaksanya tuh kelihatanya jaksanya ada main mata dengan RS omni tersebut,hal yang aneh pembeli jasa kok dipenjarakan,kecuali bu pritanya kagak bayar jasa RS tersebut baru depenjarakan,kan hal yang lumrah pembeli mengomentari barang/jasa yang mau dibeli
June 4th, 2009 at 13:03
Kasihan bu Prita ya..!!!?? Ayo galang dukungan untuk bu Prita.jika perlu membangun komunitas untuk membantu bu Prita- bu Prita yang lain.
June 4th, 2009 at 13:04
Kasus yang menarik, walaupun untuk ikut didalamnya sama sekali tidak tertarik. siapa siy yang mau masuk bui hanya karena email pribadi yang dikirim mendapat respon yang sangat reaktif kek gini.
Entah kesalahn undang-undang atau menyalahgunakan jabatan, yang pasti kasus ini menjadi menarik untuk ditelusuri.
Agar kedepannya pasien mendapat perlindungan, sebagai konsumen.
Terlepas dari opini publik, alangkah baiknya jika kita juga memikirkan jika RS sampai ditutup bukankah malah menambah beban bagi sebagian masyarakat yang lain. Secara RS besar memperkerjakan tenaga kerja yang lumayan banyak. Jika sampai ditutup mereka mau bekerja dimana?
Saran saya hendaknya pihak yang bersengkat saja yang menyelesaikan.
(ibu prita Vs dokter yanng menangganinya) RS harusnya mendapat teguran untuk memperbaiki kinerja dimasa mendatang.
Mohon maaf dan terima kasih.
June 4th, 2009 at 13:05
Itu jaksa cpat sekali bertindak dan langsung prita masuk tahanan. Beapa akrab hubungan jaksa dengan rs Omni. Kalo udah begitu orang takut masuk rs omni, salah2 masuk penjara.
June 4th, 2009 at 13:11
gw setuju dgn analisis d atas… justru pihak RS.OMNI sendiri yg membuat nama jeleknya makin menyebar luas di masyarakat.. gw ga mo comment terlalu frontal ah,,nanti malah ikut2an dituntut lg..hehehe
June 4th, 2009 at 13:16
SAYA TIDAK AKAN PERNAH MENGIJAKANc KAKI SAYA KE RS. OMNI UNTUK BOEROBAT !!!!
jauh sih….dari depok !
OMNI = MALES BANGET…
June 4th, 2009 at 13:20
ke Omni, No Way-lah, takuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut……………….
June 4th, 2009 at 13:29
Dari sudut pandang ilmu marketing apa yang dilakukan RS OI betul-betul tolol dan goblok, apakah RS tsb tidak mempunyai staf public relation yang berfungsi sebagai humas dan pemberi informasi kepada masyarakat? Terus terang saya curiga pihak RS tersebut telah memberikan sejumlah rupiah kepada oknum aparat agar ibu Prita dimasukan penjara, dengan harapan tidak ada orang lain yang akan berani mengkritik seperti Ibu Prita. Nah disinilan letak ketololan manajemen RS tersebut!!! Saat ini simpati yang terbangun (saya yakin 90 % lebih mendukung Ibu Prita) kepada Ibu Prita akan berubah menjadi bumerang yang malah akan menghancurkan nama baik RS itu sendiri. Pasien akan berpikir berkali-kali sebelum menggunakan jasa RS tersebut. Bagi manajemen perusahaan lain, jangan sampai meniru ketololan RS tersebut!!!
June 4th, 2009 at 13:30
banyak rumah sakit yang memberikan pelayanan ga bagus…
June 4th, 2009 at 13:33
benar sekali analisisnya…..
saya tunggu gedung Omni sekarang berubah jadi mall baru di serpong ! .. jangan lama-lama ya..pengen buka toko nih
June 4th, 2009 at 13:35
RS OMNI (only money, no interest) pada pasien….. blacklist sampai 7 turunan….
June 4th, 2009 at 13:38
makanya kata “rumah sakit” mungkin lebih baik diganti dengan “yayasan kesehatan” atau “balai pengobatan” atau “pusat kesehatan”, jadi masuk ke sana jadi sehat, bukan malah tambah sakit. dokter memang hidup dari menyembuhkan orang sakit, tapi tidak sedikit yang hidup dari orang sakit, kalau tidak ada orang sakit dokter tidak hidup, sama dengan penjual peti mati yang hidup dari orang mati.
June 4th, 2009 at 13:39
Dengan adanya kasus ini semoga RS2 lainnya berbenah diri. Prita bukan penjahat jadi tak seharusnya dituntut
June 4th, 2009 at 13:41
RS.OMNI bukan lugu tapi bodoh…
bagian marketing-nya harus baca buku marketing horizontal dulu sepertinya…gak sadar klo mereka sedang menggali kuburan sendiri…:)
June 4th, 2009 at 13:43
Mungkin management dari RS Omni dapat juga memeriksa kuasa hukum nya, Seharus nya khan kuasa hukum dapat memberikan masukan2x kepada client nya mana yang bisa di tuntut secara hukum dan mana yang tidak bisa. Jangan manut tok. RS Omni mesti belajar cara “damage control” yang baik bukan dengan cara serampangan seperti ini. Kasus ini seumpama membunuh tikus pakai bom. alias celaka sendiri.
June 4th, 2009 at 13:45
opini yang mantab…
saya sangat setuju, rumah sakit adalah tempat pelayanan yang harusnya memberikan pelayanan kpd masyarakat dan masyarakat memberikan imbalan atas pelayanan tersebut, bukannya memenjarakan pasiennya,….saya dukung prita…
RS OMNI INTERNATIONAL telah mencoreng dunia kedokteran di Indonesia ataupun international.
June 4th, 2009 at 13:47
Wualahhhh……rekkkk???
HAri gini ….”Pencemaran Nama Baik” di rusak dengan hak pasien….mau kemana kita mengadu kalau pihakRS pelayananx buruk….Tapi dengan kasus ini menjadi pelajaran bagi seluruh RS agar bis lebih profesional dan care terhadap Customer….
Hiduuupppp Bu Prita….
_Semangat Bu_…………………
June 4th, 2009 at 13:47
Hanya gara-gara secarik kertas yang seharusnya diberika ke pasien malah itu membunuh aktivitas seluruh rumah sakit. Dengan kejadian seperti ini hampir sulit rasanya orang mau berobat ke rumah sakit Omni International.. Perlu segera disahkan RUU untuk pelayanan Rumah Sakit dan Pasien.. Inilah potret kehidupan negara kita, disaat orang komplain karena tidak mendapatkan haknya malah dipenjarakan, dan masih disidang pula setelah dibebaskan. Sekarang untuk pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak baik dan merugikan masyarakat tidak dapat diperkarakan.. mari para pengacara terbaik Indonesia, buktikan kalau anda masih memiliki hati nurani untuk membela orang yang terinjak2 oleh orang2 yang sok merasa kuat.. Terkadang beberapa dokter pun seringkali sombong dan tidak perduli dengan kondisi pasien. Pasien itu orang awam, dan tidak terlalu paham tetapi seringkali jawabannya ketus apabila pasien sudah cari tahu tentang penyakit yang dideritanya atau alternatif pengobantannya.. Mentang2 semua orang bergantung dengan yang namanya dokter.. Seringkali orang yang berobat ke rumah sakit bukan menjadi beres, malah terkadang ada aja tambahan sakit sana-sini..
June 4th, 2009 at 13:49
Kasihan ya karyawan OMNI, sebentar lagi mereka akan banyak yang menganggur.
June 4th, 2009 at 13:53
Omni goblok dan tolol
polisi = ????
June 4th, 2009 at 13:54
Ternyata bukan hanya Prita seorang yg kecewa, ada yang lain lagi sampai gak mau bayar tagihan karena tidak mendapatkan haknya.. cuma gak jelas yg ini OMNI mana…
http://hukumonline.com/detail.asp?id=21899&cl=Berita
June 4th, 2009 at 13:55
Bloger2 bikin spanduk yuk….boikot RS OMNI….ntar pasang di jalan protokol…sapa mau koordinir…
June 4th, 2009 at 13:55
Bukankah negara kita bebas berpendapat…salahkah bila kita mengeluhkan suatu pelayanan yang kurang bagus.
June 4th, 2009 at 13:55
Yg paling mungkin dilakukan RS. Omni adalah segera ganti nama dan operasi plastik.. supaya tidak ada lagi yang mengenali identitasnya.. atau siap2 gulung tikar
June 4th, 2009 at 13:56
Saya rasa, RS Omni merasa Omni-Power dan Omni-Potent.
Tapi rasanya, RS itu sebenarnya IMPOTENT !!!
June 4th, 2009 at 13:56
itu bukti bhwa siapa yang punya duit banyak dengan seenaknya menindas wong cilik..dan ini sebuah contoh kongkrit….menurut saya yang perlu diselidiki adalah lembaga hukum yang dengan seenaknya mempidanakan mbak prita…dari sini jelas ada ‘main’ antara pihak RS OMNI dengan Oknum yang nakal…semoga siapapun pimpinan kita nanti bisa belajar dari masalah ini dengan mengedepankan keadilan dan kemanusiaan…………
June 4th, 2009 at 13:58
rumah sakit merupakan institusi profesional yang komplex, oleh karena itu upaya pelayanan jasa kesehatan yang di selenggarakan harus menempatkan upaya pelayanan yg profeional, baik oleh dokter, karyawan non medis dan manjemen harus berbasis profesionalisme.
profesionalisme dokter dan institusi manajemen rs yang paling mendasar adalah
- senantiasa berbuat baik
- tidak merugikan
- menghargai hak otonomi pasien
- adil dan patut dalam menyelenggarakan pelayanan.
kalau ada peenerapan tata kelola rumah sakit yang berbasis pada
- safety
- timeliness
- efficient
- effective
- patient -centredness
- accessability
saya yakin peristiwa yang terjadi ini pasti dapat diselesaikan secara baik.
hal yang paling mendasar dalam pelayanan jasa rumah sakit adalah bagaimana dokter dan manajemen rs membangun ” TRUST “
June 4th, 2009 at 14:02
Kalau sampai RS OMNI Bangkrut (karena ditinggalkan calon pasien) jangan salahkan ibu Prita karena RS OMNI (tepatnya kuasa hukum) yang menggali kubur sendiri…
June 4th, 2009 at 14:04
wah-wah….coba saja tindakan jaksa dan aparat tersebut dilakukan dengan KORUPTOR pasti pada ga ada yang korupsi ya….saya pribadi “ra sudi” ke RS OMNI ( Organisasi Musyrik Najis Iblis)
June 4th, 2009 at 14:04
Pasien yg berobat memang dalam posisi membutuhkan (dalam hal kesembuhan) namun demikian dokter2 yang merawat harus bisa menjalankan tugasnya secara professional.
Jangan sok penting karena pasien juga berhap mendapatkan pelayanan dan informasi yang layak terhadap penyakit yang sedang berusaha disembuhkan karena itu pasien akan bayar biaya pengobatannya.
Untuk sebagian orang profesi dokter adalah profesi yang wah atau keren, tp kl pembawaannya yg sok penting dan mengabaikan etika kedokteran dan hak2 pasien maka siap-siaplah terjadi kasus seperti bu prita ini.
Saya yakin kasus seperti ini tidak terjadi di RS Omni saja mungkin di RS lainnya juga ada.
June 4th, 2009 at 14:09
Lho…lho… lha kok pada ngomel saja ya…… mbak Prita sekarang sedang dituntut pidana dan digugat perdata oleh si Omni agar bayar ganti rugi milyaran rupiah… ayo kita kumpulin uang biar seribu2 kita bisa bantu meringankan beban dia toh? Si Omni itu memang jauh lebih kaya dari mbak Prita makanya dia ingin tunjukin dirinya itu siapa …. “Jangan sekali-kali melawan gue…lu rasain akibatnya … masuk bui, gue tuntut sampai betul-betul miskin lu…dengan duit gue yang tak terhitung ini … apa pun gue bisa lakukan…”
Tapi ada yang lebih menyedihkan lagi, jaksa penuntutnya yang urusin perkara dia itu ….perempuan lho. Lha kok sama-sama perempuan bisa setega itu menjebloskan mbak Prita ke penjara. Sementara dia punya anak yg masih nenen ibunya. Aduuuuuuuuh ampuuuuuun duh Gustiiiiiii……………..
June 4th, 2009 at 14:18
Jangan jangan begitu RS ini bangkrut, dia akan menuntut kuasa hukumnya, dengan dalih pembelaan kurang profesional sehingga menjadi black campign, dan membangkrutkan RS.
aya aya wae and arogan kali nich rs
June 4th, 2009 at 14:18
pemikiran yang bagus.. sebenernya kalo seluruh masyarakat mau jujur pasti kita semua akan setuju kasus yang dialami oleh prita bukan hal yang aneh, justru sering terjadi.. hanya mungkin prita yang sedang ketiban sial..
disetiap sudut atau dimanapun pasti setiap detiknya ada saja yang sedang mengeluh atas pelayanan RS yang yang ada di Indonesia, walaupun tidak sedikit juga yang merasa puas.
saya adalah salah satu orang yang sering merasakan buruknya pelayanan RS, bukan hanya 1 RS.. tetapi justru saya akan merasa salut jika ada rs yang mau menerima kritikan dengan lapang dada, dan langsung bertindak baik itu benar atau tidak komplain dari pasien.. karena sebenernya sangat jarang orang mau dengan sengaja melakukan komplain kalau dia memang tidak dilayanin dngan baik, tapi yang banyak justru jarang orang berani melakukan komplain atau malas karena merasa percuma toh tidak akan ditanggapi..
jikalau prita tidak bebas..mati sudah hukum dan kebenaran yang ada Indonesia..
mungkin ekstrimnya saya tidak akan memilih ulang presiden yang sedang menjabat
June 4th, 2009 at 14:21
pemikiran yan sempit dari rumah sakit…ingin mematikan kreatifitas para blogger…kapan sih masyarakat pebisnis mau membuka pikiran mereka untuk konsumen dalam menyampaikan keluhan….
June 4th, 2009 at 14:34
Kita ikuti berita selanjutnya tentang persidangan kasus Prita ini.
June 4th, 2009 at 14:36
OMNI sudah salah langkah dan strategi………………..siap2 terima akibatnya……………..
June 4th, 2009 at 14:45
Ke laut aja deh tuh rumah sakit, jujur belum lama ini sempet berencana mau berobat dan akan memilih tempat untuk melahirkan disana karena ga jauh dari rumah dan ada tulisan “OMNI INTERNASIONAL” gtoh, tapi ngeliat kejadian ini amit-amit 7 turunan 8 tanjakan deh buat berobat kesitu, kita liat aja kapan collapsenya tuh rumah sakit. Jangan tanggung2 dong ga liat apa udah banyak sekali protes dan hujatan untuk OMNI, kalau mau tuntut pencemaran nama baik jangan email curhat bu prita aja, sekalian aja tuntut jutaan orang yang menghujat OMNI dan pro ke Bu prita, biar bangkrut aja sekalian tuh OMNI karenagunain uangnya untuk bayar orang untuk nangkep jutaan orang pro bu prita. sanggup ga?????????? please deh, secara tuh rumah sakit ga rame2 amat kok pasiennya
June 4th, 2009 at 14:53
takut komentar ………….
Takut dipenjara juga.
Yang pasti kalau ke RS OMNI INT ..enggak deeh!
June 4th, 2009 at 15:03
dokter-dokter RS di Indonesia jaman sekarang sudah kayak anjing semua!!!
nglayanin gak becus, tarifnya mahal, tapi masih tetep aja ngrasa paling pinter
June 4th, 2009 at 15:04
Yup..saya setuju.!! Udah saatnya kita sebagai “KONSUMEN” untuk bisa “KRITIS” terhadap “PELAYANAN” ataupun “JASA2″ yang “MERUGIKAN” kita sebagai konsumen. Kita punya “HAK” karena kita “MEMBAYAR”. dan sudah saatnya juga Kita bisa memperjuangkan “HAK2″ Kita sebagai konsumen dari org2 yang hanya cari “KEUNTUNGAN” semata. Ayo bentuk ‘MASYARAKAT YANG BIJAK” dalam memilih produk dan jasa2 yang ditawarkan, termasuk “PELAYANAN KESEHATAN”. Karena ini menyangkut “HIDUP” dan “NYAWA” kita. Salah “DIAGNOSA” sekali saja, taruhan “NYAWA” SEUMUR HIDUP. Menurut “PENDAPAT SAYA” RS. OMNI begitu “AROGAN” dan “BERLEBIHAN” dalam menanggapi “CURHAT” ibu Prita. Pada dasarnya “KONSUMEN” tidak suka dengan “PELAYANAN & JASA2″ yang “AGRESIF” dalam melayani “KELUHAN” konsumen.
June 4th, 2009 at 15:06
Menurut penerawangan ki mangun karso dalam kitabnya prabuhosodowicaksono rumah sakit aneh ini akan segera bangkrut ,, maka disarankan bagi para karywannya untuk mencari job lain segera….
June 4th, 2009 at 15:16
SUDAH BAYAR DIPERLAKUKAN TIDAK ENAK DIPENJARA LAGI……..
ADA YANG MAU NYUSUL ……….
June 4th, 2009 at 15:17
Bagaimana dengan jaksa dan polisi nya yang ‘berhasil” menjebloskan Ibu beranak dua ini ?
Kita tunggu saja bagaimana hasil pemeriksaan team KEJAGUNG dan POLRI/POLDA memeriksa bawahannya. Dan bagaimana SBY (sebagai atasan kedua institusi tsb, dan sekaligus CaPres) akan bertindak terhadap subordinates nya. Tegas ? Peragu ? Safe play ? Wait & c in the couple days.
June 4th, 2009 at 15:25
Analisis yang tepat untuk menyikapi suatu aroganisme. Tentu masih banyak “prita-prita” lain di negara kita. Karena banyak yang tidak bisa menggunakan teknologi ini sehingga tidak mengakomodir keluh kesah mereka. Mulai sekarang jangan takut untuk menyampaikan sebuah hak keadilan. Semoga institusi pelayanan tidak hanya RS perlu mawas diri dan berlapang dada untuk lebih mematangkan pelayanan terhadap rakyat Indonesia pada umumnya dan masyarakat tidak mampu pada khususnya.
June 4th, 2009 at 15:27
Kalo mau mengeluarkan uneg - uneg seperti mbak Prita saja sampai di penjara, terus bagaimana kita menyampaikan ketidakpuasan dari pelayanan yang kita dapat (khususnya RS).
Saya pribadi sering sekali mendapatkan pengalaman yang menyebalkan dari RS, dari mulai diagnosa yang ngawur, obat2an yang diberikan tidak masuk akal, sampai kwitansi yang ngawur. Tapi, untuk komplain ke RS, malas…. Karena yang terjadi adalah tidak pernah di gubris. Karena pernah suatu hari, saya menanyakan kepada seorang dokter, beliau malah menjawab dengan ketus pertanyaan saya, yang kalo diartikan secara sederhana adalah ” udahlah diem aja loe, nurut aja ma gue, loe tau apa siy…???”. Menyebalkan bukan?
Saya salut banget dengan mbak Prita, saya doa kan semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu,mbak… ( karena Allah maha tau dan tidak pernah tidur)
Untuk RS OMNI, no way…. I will never ever come to you…!!!! Mendingan gue berobat ke puskesmas deket rumah gue….!!!!
June 4th, 2009 at 15:36
Hati -hati dirawat di RS Omni, keluar Rumah Sakit langsung masuk Penjara.
Hiiiii…………………………iiiyyyyyyyy
June 4th, 2009 at 15:43
Ambil Pelajaran Bagi kita konsumen harus selalu kritis melihat bukti test labaoratorium sebelum memutuskan mau rawat inap, kalo perlu test di RS lainnya dulu…bagi Rumah sakit lainnya bebenah deh….pernah ada lho satu suntik ampul satu JUTA Rp bo…pdhal berapa kali suntik…kali berapa pasien..pantes…pasti buat bayar utang pendirian Gedung tuh….pasien jadi sapi perahnya..
June 4th, 2009 at 15:44
kita boikot saja RS OMNI…!!
*sebarkan banner boikot (ada di SarangKoetoe™)
June 4th, 2009 at 15:51
dokter juga manusia. . . . .
June 4th, 2009 at 15:52
prihatin dengan kasus ini …
betapa susahnya … menyuarakan kekecewaan … menerima dakwaan …
hikmah yang bisa kuambil ….
berhati-hati dalam menyuarakan … agar tidak terjebak dalam … you know ..
dan mulai belajar mengerti mengenai penyakit dan tindakan pengobatan … secara garis besar saja ..
agar kita tidak mengalami .. you know …
oh dunia kita .. tempat yang penuh dengan pelajaran berharga …
June 4th, 2009 at 15:56
Di facebook ada group ‘Say No to RS. Omni Tangerang’. Udah join belum ?
June 4th, 2009 at 15:59
Om..ni..Om..ni..:)
June 4th, 2009 at 16:06
Wahai para dokter dan rumah sakit, janganlah hanya duit yang kaupikirkan. Tanpa pasien, apalah artinya dokter dan rumah sakit? Sudah sakit, biaya mahal, apa yang didapat ? Biaya mahal, dan bahkan penjara? Wahai para dokter dan rumah sakit, janganlah kau dzolimi pasien yang sudah tidak berdaya. Berbuatlah baiklah, pasti Allah akan membalasmu.
June 4th, 2009 at 16:14
AWAS 3 DOKTER YG SALAH DIAGNOSA ITU PENYEBABNYA , stelah RS Omni tdk laku akibat kasus ini, DOKTER tsb bisa saja PINDAH KERJA KE RUMAH SAKIT LAIN. NAMA NAMA DOKTERNYA YG HARUS DIINGAT PUBLIC !!!!
June 4th, 2009 at 16:21
ada beberapa hal harus dipatuhi oleh penjual jasa, yaitu :
1. jangan pernah argumen degan customer, jika anda menang anda akan kehilangan customer, jika anda kalah, anda akan malu dan kehilangan customer.
2. Positioning adalah janji, janji harus ditepati jika tidak ditepati maka market akan escape…jika kita put our positioning ” we care more ” maka hal ini harus benar2 ditepati.
3. membangun brand image butuh perjuangan, waktu dan dana yg tdak sdikit jika brand kita rusak maka yg hrus dilakukan adlah : rebranding, repositioning, PR campaign, penetration, dll dan itu butuh biaya.
June 4th, 2009 at 16:23
hahhah,,,
iya niyh salah bgt RS. OMNI, harusnya kalo berani beri klarifikasi tentang pelayanannya yang tidak memuaskan, jangan lantas malah menjebloskan orang. Malah dengan cara seperti itu menambah buruk citra pelayanan RS.OMNI….ckckckck. Makanya kalau mau ambil keputusan yaa mbok dipikirin matang-matang.Jangan gegabah langsung tuntut aja.
June 4th, 2009 at 16:25
wah analisanya bagus aku suka analisa nya.. cocok.. omni mau bunuh diri.
masak esensial rumah sakit sudah di bolak blik jadi rumah bikin sakit.. apa gak mbilung itu
June 4th, 2009 at 16:27
tulisan yang bagus.., setuju juga ma chero, undang-undang kita juga yang ribet, malah jadi nakutin masyarakat bukannya melindungi
June 4th, 2009 at 16:32
Bener tuh RS OMNI kebelinger kale… Wong komplain kok malah diperjarakan… memangnya gak ada musyawarah atas mufakat kale ye…
June 4th, 2009 at 16:36
Kembalikan kedaulatan RAKYAT….Tutup si OMNY…dan ga usah berobat lagi ke sana, kan masih banyak tempat berobat yang lain….dan bagi RS. yang lain tunjukan service mu…kami akan loyal berobat ke RS mu…..
June 4th, 2009 at 16:44
nuntut 1 milyaaar…………??? ngga’ kurang tuh……….
udah bangkrut kali……………. pake acara nuntut ibu rumah tangga segala……….
liat liat dong klo mau duit…..!!!!!
June 4th, 2009 at 17:01
Semoga semua kebohongan segera terkuak.
Ikut sedih dan kasihan terhadap karyawan maupun ex-karyawan (Ntar lagi) Rs OMNI. Mereka akan menjadi cibiran tetangga, teman maupun calon tempat kerja yang baru.
Karena kesalahan humas OMNI dan beberapa dokter disana, karyawan yang lain juga akan kena getahnya.
Hidup JBI (Jaringan Bloger Indonesia)
June 4th, 2009 at 17:22
Para calon pasien RS OMNI INTL. waspadalah !!!!. Setelah anda masuk RS OMNI INTL. anda bakal masuk penjara karena anda terlalu bawel dengan pelayanan yang gak profesional
June 4th, 2009 at 18:11
Setuju, awas dokter dokternya perlu di INGAT namanya, begitu bangkrut , dokternya akan pindah kerja ke rumah sakit lain dan buka praktek, hati hati !!!!
rs. Omni sudah bunuh diri itu pASTI, tp jangan lupa dokter dokter penyebabnya, jangan sampai bebas praktek membuat kita jadi percobaan ditempat berbeda!!
June 4th, 2009 at 18:38
Ownernya OMNI ini pasti KUAYA RAYA… nggak peduli RS nya kosong, yang penting Hati Puaaasssss…… Ck ck ck …
June 4th, 2009 at 19:23
hhhmmmmmmmmmm
June 4th, 2009 at 20:28
wow..postingan yang keren…
June 4th, 2009 at 23:14
astagfirullah… bgtu bnyak kmentar yg mmojokan RS.OMNI, skedar mlurskan krn sdkit bnyaknya sy tahu dduk perkara ksus Ibu.Prita.
sebelum menceritakan saya bersumpah DEMI ALLAH.SWT bhwa sy tdk akan mlbih”kan critanya…
bermula dr kdatangan Ibu.Prita ke OMNI tpatnya pd pkul 20.30 WIB. kbtulan Dr.I sdang jg pd mlm hr itu, dkrenakan suhu bdn Ibu.Prita tdk stabil maka Dr.I mnyarankan Ibu.Prita u/ mlkukan Tes uji darah di lab, dan hasil yg kluar dr pmeriksaan trombosit Ibu.Prita mnunjukan hsil 27.000 akn ttapi hsil trsebut blm divalidasi oleh pihak lab mlainkan brupa konsultasi hasil lab ke dkter jaga UGD. dari rundingan antara dkter jaga UGD dngan staff Lab mmutuskan untuk mlakukan pengambilan sample darah kedua untuk pamastian hasil atas perstujuan dari pasien dan trnyata hasilnya mnjadi 181. melihat Ibu.Prita yg pd kndisi tubuh yg pucat dan lemas maka Dr.I mnganjurkan Ibu.Prita u/ dirawat inap di RS.OMNI dan Ibu.Prita pun mnyetujui serta mnanda tangani surat pernyataan tindakan perawatan di RS.OMNI.
singkat cerita selama krang lbih 4-5 hari Ibu.Prita dirawat di RS.OMNI sy tidak tau tndakan ap yg diberikan kpd Ibu.Prita akan ttapi yg saya tau Ibu.Prita mnderita Virus Gondongan dan mncul pd hr ke4/5 yg mnyebabkan bdn Ibu.Prita trsa nyeri dan bngkak” pd bgian lher,nmun Ibu.Prita sdh mrasa tdk puas akan plyanan yg tlah dberikan oleh RS.OMNI maka Ibu.Prita mmutuskan u/ plng pksa dan akan pindah ke RS.lain.
Ibu.Prita mminta hsil pemeriksaan lab swaktu prtama kli dia dtang dan yg dkluarkan oleh staff lab adalah hasil yg tlah divalidasi yaitu 181,akan ttpi Ibu.Prita ttap mngotot u/ dibrikan hsil yg 27000,mrasa tntutannya tdk dipnuhi maka Ibu.Prita melakukan complaint ke RS.OMNI mlalui staff CS yaitu Mba.O dan btapa kgetnya sy ktika mmbaca salah satu blog yg berjudul PENIPUAN RS.OMNI dan sy mmbaca isi dr blog itu,kmbali ke masalah Ibu.Prita.
Ibu.prita mminta proses pnyelesaianya dlakukan scpatnya dan Mba.O (staff CS RS.OMNI) mnyanggupinya pling lmbat 2 hr ksus Ibu.Prita akan slsai dtngani akan ttapi Ibu.Prita mngotot u/ dslesaikan dlm wkt 1 hr dan Mba.O mnyanggupinya kmbali.
alhasil dr complaint yg Ibu.Prita tujukan ke RS.OMNI mnemui titik terang, pihak OMNI mmanggil Ibu.Prita u/ mnyelesaikan kasus ini scara kklaurgaan akan ttpi Ibu.Prita tdk dtang mmenuhi panggilan trsebut dan malah mmbawa kasus ini ke meja persidangan,jd apa yg di publikasikan slama ini bahwa RS.OMNI yg mmbawa ksus ini ke meja prsidangan itu hanya sebuah kebohongan belaka.jjur sy mmang mrasa prihatin atas apa yg Ibu.Prita alami saat ini akan ttapi sy jg sngat mnyayangkan atas langkah yg tlah Ibu.Prita ambil.
marilah saudara” smua kita berpikir kmbali jika sampai RS.OMNI di cabut/di tutup izinnya oleh DINKES berapa bnyak karyawan yg bkal khilangan pkerjaan mereka dan brapa bnyak anggota kluarga mreka yg akan khilangan nafkahnya cuma dkarenakan oleh sifat ke egoisan seseorang,klo mnurut sy isi blog yg Ibu.Prita atau mngkin orang ke 3 buat bkn mrupakan sebauh curhatan yg di tujukan kepada kerabat dkat mlainkan kepada khalayak luas dkarenakan dibuat di blog umum.u/ lbih jlasnya sy anjurkan kpd saudara” skalian u/mmbaca isi dr blog yg tlah Ibu.Prita buat.
sy rasa ckup skian saja crita yg dpt sy brikan kpd saudara”,skali lg sy tgaskan bhwa apa yg sy kbarkan serta sy critakan bkn mrupakan sbuah kbohongan melainkan sy hnya brniat mmberikan infrmasi yg ssungguhnya.
wassalamualaikum.Wr.Wb.
June 5th, 2009 at 00:16
pengacara dan jaksa main mata, pengacar omni siap nganggur,…bloon..ilmu marketing baru…biar namanya diingat …
June 5th, 2009 at 02:04
serba salah mo pilih mana…???
bela Prita.. bnyak yg bkal nganggur…
bela OMNI ksian ma anaknya Prita…
mending bela negara j kli y…
ahahahahahahaaaa…!!!!!!!!
June 5th, 2009 at 02:06
yah mnding ngk sah pd comment dech bg yg ngk tao permslahannya…
jgn pd sotoy…!!!!
June 5th, 2009 at 05:39
SAYA SNGAT SETUJU DENGAN PENDAPAT ANDA,TAPI AKU INGIN MENGINGATKAN KALAU KITA BANGSA YA SANTUN,JADI APA YG KELUAR DARI MULUT KITA ADALAH CERMINAN HATI KITA,ALIAS CERMINAN DIRI….
SEMOGA SEMUA INI MENJADI PELAJARAN BERHARGA ,SEMOGA IBU PRITA DIBERI HUKUMAN YG RINGAN.
June 5th, 2009 at 10:05
that’s the real neoliberalism style by RS Omni…….tapi mungkin yang lebih konyol lagi adalah perilaku JPU yang seenak udele memakai pasal ITE………keep spirit for fight ibu Prita….
June 5th, 2009 at 11:33
udah..selesaikan di pengadilan aja..btw emang pengadilan kita baik dan benar ya? hahahaha
Mendingan RS OMNI ama Bu Prita menuntut pengadilan ama polisi aja..
Bu Prita menuntut POLRI ama KEJAGUNG kenapa kok ditahan pake UU ITE padahal UU Perlindungan Konsumen boleh aja komplain
dan RS OMNI nuntut kenapa udah “mbayarin” POLISI dan JPU kok kalah di pengadilan…ahahahahjaha
June 5th, 2009 at 11:39
menurut saya dalam menghadapi email curhatnya Bu Prita Mulyasari Manajemen RS OMNI Internasional memang pintar tapi sangat tolol sekali. maunya memberi pelajaran akhirnya yang timbul rasa tidak kesenangan. maunya sok hebat sok gagah akhirnya kesialan yang muncul. saya yang orang awam tadinya tidak tahu menahu kini menjadi tahu.
Coba kalau manajemenya pintar. mereka lebih dahulu berupaya berunding dengan bu prita dan menanggapi apa yang menjadi keluhan beliu. nah dengan hal ini mungkin orang akan sangat bersimpati Pada RS OMNI. tapi sekarang semua sudah menjadi bubur. saya sebagai orang awam berjanji tidak akan berhubungan dengan RS OMNI karena sangat sadis.
June 5th, 2009 at 11:39
Sebuah analisis yg baik. Karyawan omni kalo mau bersaksi di pengadilan yaa, krn ada UU yg baru keluar kemarin sore bisa dijadikan obyek, coba pikir . . .
June 5th, 2009 at 11:52
Eh, pada tahu tidak, kalau ternyata pasien yang di tuntut rumah sakit omni bukan Prita aja, tetapi ada yang lain juga, sekarang dalam persidangan, sumbernya media Tempo,
June 5th, 2009 at 12:03
RS OMNI…..selamat….gulung tikar….(bang…krut…gitu looch…)
June 5th, 2009 at 12:15
assalam ….
wheeewww …. gw rasa ni blog langsung masuk 10 top rating .. . secara .. yang komen pada napsu napsu gituu … wa..ka..ka..kk ….
sangat di sayangkan yaahh …. . mungkin benar yang diblang mba karyawati omni nya … . mungkin benar yg di bilang ibu prita nya … . entah sapa yang bodoh … yang pastiii …. masyarakat kita juga not that smart untuk menalaah ampe lebih jauh lagiii … . dan yang terjadi adalah … masyarakat sudah menghakimi siapa yang salah based on cerita yang ada.
jadiii … sebagai pihak yang ‘jualan’, dah pasti rugi lah … . terlepas sapa yang bener dan sapa yang salah … . orang dah pasti mikir 2 kali mo ke rs omni … . akibatnya … pengangguran dei deehh …
well….
semoga bangsa ini bisa makin cerdas …
amiinn …
salam kenal,
-hafi-
June 5th, 2009 at 12:18
yahhh dirktur kok ga tau diri… coba dia jadi Ibu prita…
June 5th, 2009 at 12:24
udah lach .. gak usah ke RS omni lagi…. maleeesss
June 5th, 2009 at 12:31
Memang begitulah wajah rumah sakit sekarang ( meski tidak semua ) .. dokter 2-3 menit , analisa kadang salah ( tapi kalo salah hanya maaf saja dan ganti obat ) … dan kalo memberi obat kadang tidak memikirkan efek samping penderita ( meski katanya sih sudah dipertimbagkan ) … sebenarnya masih ada kasus-kasus prita yang lain, hanya tidak terekspos dan tanpa penjara …
June 5th, 2009 at 12:31
RS dodol…
June 5th, 2009 at 12:32
polisi dodol….jaksa dodol
June 5th, 2009 at 12:37
habis sudah legenda RS Omni, bubarkan, dari nol lagi, dan ganti nama baru………………..tapi harus tobat
June 5th, 2009 at 12:37
RS kampungan. Ngga pantas tuh RS itu menamakan drinya RS Internasional, pantasnya RS KAMPUNGAN.
June 5th, 2009 at 12:57
Aduuuh tolong Pak,Tuan,Ndoro……..kepalaku sudah mau pecah
( OMNI) tak kusangka jadi begini…….rupanya duitku tidak dihargai lagi……ampun patik ampun…..pedang dan anak panah
menyergapku dari segala arah……..
Aku sudah tak sanggup lagi…..aku tiru saja Mr.Roh di Korea…..loncat dari atap rumah sakitku……….
June 5th, 2009 at 13:07
Suatu analisa yang bagus dan cemerlang. Saya rasa analisa ini akan terbukti dalam waktu dekat……….
June 5th, 2009 at 13:10
Dlm kasus RS Omni vs Prita, yang sangat menyedihkan adalah pasien yang sudah membayar masih dituntut, yg menuntut adalah dokter2 yg merasa dirugikan? Kalau zaman sekarang hanya memikirkan untung rugi, ya,
June 5th, 2009 at 13:17
kalau tidak cepat mengambil jalan damai tidak tertutup kemungkinan hal terburuk akan terjadi di RS OMNI (Gulung tikar karna di tinggal pelanggan) misalnya…..
June 5th, 2009 at 13:19
RUMAH SAKIT YANG ANEH…..
June 5th, 2009 at 13:19
Kasus Prita vs RS OMNI merupakan salah satu bentuk arogansi (atau sebenarnya ketololan) berulang yang dilakukan management OMNI.
Kena batunya deh kali ini…
Semoga dapat membuka mata dan menjadi pelajaran management OMNI di kemudian hari.
*semoga saya tidak di tuntut juga karena postingan ini :-/
hiiii…..takyuuuutttttt…..
June 5th, 2009 at 13:24
RS Omni International akan berubah jadi RS Ponari International. Dokter Hengky Gosal dan Dr Grace sialan itu akan diganti Dokter Ponari SpBC (Spesialis batu Celup). Layanan utama nya Batu Celup, Tanpa Diagnosa, Tanpa Hasil Lab.
June 5th, 2009 at 13:25
Sadis ya?, masa orang sudah sakit, harus bayar terus dipenjara….
Kayaknya Bu Prita bisa masuk MURI nich….., dengan kriteria pasien pertama yang dipenjara……, atau masuk “HDI alias Hanya Di Indonesia”……..
Piis Bu Prita, Anda adalah pahlawan bagi orang sakit……
June 5th, 2009 at 13:27
buat comment dari karyawan omni , yg jelas pasien itu adalah customer jadi apa yg dimiinta oleh customer harus diberikan !!!wong ibu prita bayar knp permintaan haknya tdk dikabulkan????
June 5th, 2009 at 13:27
hm… RS OMNI Alam Sutera kan masih baru,
blom balik modal tuh
kasian…………….deh loe !!!
June 5th, 2009 at 13:28
suruh menteri kesehatan itu baca ini yak..mungkin dia akan lebih pinter mengeluarkan opininya tentang kasus ini…
June 5th, 2009 at 13:36
saudara…saudari beralihlah sekarang keponari sweat….cukup 5000 rupiah dijamin dikobok ama si PONARI….bebas tuntutan…dan pajak .hehehe
June 5th, 2009 at 13:38
analisa yg sangat bagus
June 5th, 2009 at 13:39
analisa yg sangat bagus
*walah, yg di atas salah nama tuh
June 5th, 2009 at 13:45
Gue setuju banget ama analisanya. Andai tuh RS adalah RS satu2nya yg ada di jagad ini gue tetep ga akan mau berobat kesono buat ngobatin panu kronis gue. Mending mati kegatelan deh gue …. hehehehe.
June 5th, 2009 at 13:49
Saya dengan sesadar saya. menuntut loe penulis opini. Anda harus diangkat menjadi Penasehat RS OMNI. Segera !!!!!!! Biar lugu-nya RS Omni jangan bertambah. You setuju khan? Gaji? Beres, sipp! RS OMNI khan banyak uangnya.
June 5th, 2009 at 13:49
gue udah komentar kocak tadi ye….. sekarang agak profesional dikit ah menanggapi karyawan OMNI
OK begini saudara2ku karyawan OMNI ….kalaupun Ibu prita dianggap bersalah tidak sepantasnya dia dihukum.Kedua yang melakukan tuntutan hukum adalah OMNI bukan Prita ..so jangan jadikan hukum menjadi satu senjata untuk menghabisi si rakyat kecil , beruntungnya ibu Prita saat ini adalah mendapat sorotan dan dukungan Publik…dan saya anggap itu tangan Tuhan yang memberikan jalan kepada hambanya yang teraniaya..dan pada saat proses perdata 6bulan yang lalu kenapa karyawan OMNI enggak memberikan suggest pada Manajemen yang akhirnya terjadi seperti ini…SO WHOS WRONG
June 5th, 2009 at 13:51
Dalam situasi begini, kita bisa ambil pelajaran.
Kadang-kadang penyelesaian secara kekeluargaan akan lebih baik, daripada menuntut secara hukum dengan kawalan LAWYER (tuntutannya ternyata salah kaprah pula).
Mungkin pihak OMNI sedang menyesali perbuatannya. Akan ada lagi biaya tambahan untuk proses-proses berikutnya, apalagi sekarang melawan KALIGIS.
Para LAWYER yang banyak job.
June 5th, 2009 at 13:57
yang jelas semakin lama kasus ini tidak selesai berarti RS. OMNI Int secara tidak langsug memberitahu dengan masyarakat banyak bahwa pelayanan mereka “RS. OMNI Int” yang kurang memuaskan, wah …. bisa gawat.
nah sekarang terserah manajemen RS. OMNI Int mau dilama-lamakan kasusnya atau ditutup dengan jabat tangan.
matur suwun
June 5th, 2009 at 14:01
hati2 nulis blog, dipenjara nanti
undang-undang kita tolol juga….sich
yang buat kebanyakan seperti produknys sich
June 5th, 2009 at 14:03
Tindakan yg grasa grusu dan konyol dari suatu institusi… bener banget analisanya Pak… Kami pun pernah dikecewakan oleh salah satu RS besar di Bandung, dan kami konsumen biasanya cuma mengurut dada walaupun merasa dirugikan. Salut untuk Ibu Prita yg pemberani..!!!!
June 5th, 2009 at 14:04
sudah…sudah jangan pada ribut……
memang jasa dokter itu sangat kita butuhkan, namun jika dokter2 sekarang hanya berorientasikan uang wah makin susah tuh…..
gimana klo kita kembali ke pengobatan alamiah…
khan masih ada PONARI……(heheheheheheheheh)
atau GUS MUH……
hidup mbak prita……
June 5th, 2009 at 14:04
Heran aq. email itu khan wilayah pribadi… ibarat sebuah buku diary, kita bebas mencurahkan semua perasaan kita … yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan, suka-suka kita khan !!! ehhhh …. kok bisa tembus keluar ya ?! kalo memang mau nuntut pencemaran nama baik jangan hanya ibu Prita aja dong … cari sumber yang menyebarkan email tersebut !!! Jadi bakal tambah rame deh indonesia …. mumpung lagi masa kampanye pilpres gitu lho !!!
June 5th, 2009 at 14:06
Sebuah Blunder yg sangat bodoh…, pasien yg seharusnya mendapatkan perlindungan dan pelayanan malah dijadikan terpidana…, bentuk arogansi yg sudah salah jaman, Aturan Hukum dan undang-undang dipelintir buat menjerat rakyat yg lemah….emangnya jaman kompeni ??? semakin memperjelas bagaimana keberpihakan para penegak hukum di negeri ini…Mari berjuang terus untuk mendukung bu Prita…
June 5th, 2009 at 14:14
Apa jadinya Sebuah RS bertaraf internasional klo manajemen dan pelayanannnya masih bobrok dan amburadul,saya rasa apa yg dilakukan OMNI sekarang dengan menuntut ibu prita malah akan menjadi senjata makan tuan bagi OMNI sendiri,karena seorang pasien berhak utk mendapatkan hasil dari pada rekam medis itu sendiri dan itu pun dilindungi oleh UU,utk para penegak hukum dimohon utk dapat melihat kasus ini dengan mata hati nurani tetapi tidak kepada lebih mendzolimi seorang ibu rumah tangga yg sama sekali tidak ada niatan utk melakukan sebuah penyebaran berita bohong,utk dokter yg menangani ingat bahwasanya jabatan anda telah disumpah di hadapan Tuhan YME,klo memang anda salah akuilah klo diagnosis yg anda lakukan salah tetapi klo anda benar anda jangan takut.
Hidup ibu prita
semoga ibu berbahagia berkumpul denga putra suami dan keluarga ibu.
June 5th, 2009 at 14:15
terus terang saya merasa prihatin membaca komentar Ibu Menteri Kesehatan di detik news seperti kutipan berikut :
“RS Omni itu swasta, jadi tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Saya tidak bisa menjewer, saya tidak tahu,” kata Siti saat ditanya pers mengenai kasus Prita Mulyasari ketika meresmikan Posko Kesehatan Pesantren Nurul Huda, Jalan Pemanggilan, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Kamis (04/06/2009).
Lalu siapakah yang berkewajiban dan berhak menjewer RS Swasta? Betapa perlindungan pasien di Indonesia masih menjadi tanda tanya besar kalau memang pernyataan Ibu Menteri Kesehatan itu benar adanya.
Buat Ibu Prita, Selamat berjuang Ibu Prita do’a kami menyertai Ibu dan keluarga.
June 5th, 2009 at 14:16
saya sangat setuju dengan apa yang diutarakan oleh reka2 yg terdahulu yang sudah memberikan komentar, saudara saya juga pernah terkena mall praktek, yg tadinya hanya ingin operasi katarak tapi apa yang terjadi beliau koma sampai dengan meninggalnya itu terjadi di sebuah rumah sakit di daerah tangerang juga dan sampai sekarang pun rumah sakit itu tidak pernah diusut lalu apakah ini yang dinamakan hukum yang berlaku di Indonesia ini
June 5th, 2009 at 14:22
semoga dengan diblowupnya kasus ini, para dokter dan RS 2 di Indonesia jadi ramah 2,tidak pelit informasi dan memberikan pelayanan yang lebih baik pada pasiennya(walaupun terhadap pasien miskin). Sehingga walaupun badan sakit, datang ke dokter atau ke RS yg ramah, bisa mengurangi rasa sakit juga tuh.
June 5th, 2009 at 14:22
Untuk Para Lawyer OMNI utk lebih profesional lagi coba bayangkan klo kejadian yg di alami oleh ibu prita dialami oleh salah satu keluarganya,apa jadinya,ingat Allah SWT itu maha adil .
June 5th, 2009 at 14:31
saya kalau sakit takut ke rmh sakit, takut kalau layananya jelek trus complain,malah masuk bui ,mendingan ke mbah dukun aja aman kali..
June 5th, 2009 at 14:32
Saya jamin 6 bulan ini RS.OMNI karena bancruft akan berubah izin menjadi Hotel Bintang 4.
June 5th, 2009 at 14:32
Saya juga kecewa dengan komentar Ibu Menkes, bagaimana bisa seorang menteri lepas tangan seperti itu, mungkin sekedar mengingatkanpun Ibu Menkes tidak punya hak atau jangan2 RS swasta boleh berbuat semau mereka?????
June 5th, 2009 at 15:00
bersabarlah mbak prita, Allah swt bersama orang yang sabar, tapi lain kali, kalau mau berobat lakukan istikhoroh dulu insya Allah akan baik hasilnya amin.
June 5th, 2009 at 15:13
Ayo kita demo aja di depan RS Omni, biar management mereka tambah stress!
June 5th, 2009 at 15:28
Sebaiknya analisa diatas ditambah dengan embel-embel yang punya itu konglomerat hitam pengemplang BLBI lewat Bank BUN jadi ya begitu dianggap seperti tahun 1998 jadi karena uang bisa beli apapun termasuk jaksa. Tapi rebound tuntutan terhadap Ibu Prita malah kena mukanya sendiri.
June 5th, 2009 at 15:28
ANJING RS OMNI INTERNASIONAL !!!!
ANJING RS OMNI INTERNASIONAL !!!!
ANJING RS OMNI INTERNASIONAL !!!!
ANJING RS OMNI INTERNASIONAL !!!!
Taek loh !!! ….
untuk karyawan OMNI yang memberi kesaksian di atas… pake sumpah2 bawa2 nama Tuhan segala…. taek loh !!!!…
kagak simpatik gwe….
lo ujungnya takut kalo lo nganggur !!!
rasain akibat ulah lo sendiri monyong !!!
June 5th, 2009 at 15:29
Aku jadi sedih setelah membaca analisa dan tanggapan/tulisan dari pembaca. Dan mari kita ambil hikma nya yang terbaik dari kejadian ini semua. baik Yang di rugikan maupun yang merasa di rugikan
June 5th, 2009 at 15:32
Kalau bisa KPK juga dilibatkan untuk selidiki jaksa yang bikin tuntutan karena tindakan jaksa terlalu berlebihan serta diluar kewajaran, mestinya aspek kemanusiaan juga diperhatikan, ibu yang lagi netekin anak karena kasus sepele yang tidak urjen aja kok langsung ditangkap???? ah… saya gak tau mau ngomong apalagi tentang itu jaksa dan RS. omni… rasanya mau naik aja pitamku ini hah…!!!!!
June 5th, 2009 at 15:36
Kasus prita ibarat “pilot project” penerapan UU (UU ITE).
semua mata dan perhatian tertuju padanya…
bukan apa-apa….
setelah kasus ini “selesai” dan jika benar prita “dikalahkan”…
maka :
besok atau lusa akan banyak prita prita yang lainnya…
dan siap-siap bung !!!
mungkin giliran ente atau kita…
menjadi korban selanjutnya
dari penerapan UU yang sewenang-wenang !!!
June 5th, 2009 at 15:43
lihat wawancara OMNI di TV One… yang diwakili salah satu direktrisnya… sama pengacaranya….
nggak banget dech…..
pantesan aja pelayanannya begitu….
asli tuh cewek belom pernah di entot kali … asem mukanya !!!
weks..cuih…. kelihatan kalo cowok2 gak bakalan suka sama cewek tipe begitu …
muka sombong angkuh dan menyebalkan !!!…..
June 5th, 2009 at 15:46
pencemaran nama baik ??????
emangnya omni punya nama baik?
June 5th, 2009 at 15:47
Good blog !
Eh, gitu masih ada yg nanya juga… kenapa orang sini kalo sakit dan punya duit lebih suka berobat ke luar negri ? nyang tanya blo’on atau apa ya namanya ?
June 5th, 2009 at 15:48
Mari kita sama2 berdoa agar masalah yg dialami oleb bu prita cpt selesai, dan bu prita bisa bebas dari tuntutan…dan bagi orang2 (jaksa & oknum2 RS.OMNI) yang main mata, hati2lah bahwa ALLAH tidak akan diam..mungkin di dunia anda bisa tersenyum…tetapi di akhirat nanti anda bisa rasakan perbuatan anda.
Mari kita galang dukungan untuk bu prita, seseorang yang hanya menuntut haknya akan tetapi malah dituntut.
smoga kita bisa mengambil hikmah dari semua ini…amin.
June 5th, 2009 at 15:50
WALAH… lu dibayar berapa sama OMNI buat sumpah2 diatas sana, ati2 lo sembarangan nyumpah, ntar kena sendiri, emang parah di RS, namanya doank international, orang2 nya kampungan semua nya, mendingan di hukum UU deh daripada dihukum masyarakat, kalau gua dan keluarga besar gua sih dah mau muntah denger nama rumah sakit ini, namanya aja udah bikin sakit kan sampe mau muntah, apalagi masuk kedalam, yang ada pasien di jadikan bahan percobaan lagi ntar, dimana-mana Rumah Sakit itu kalau dimintain data dan keterangan harus jujur.
NGENTOD LO !!!
wakakakakak
sori moderator, kelepasan, abis gemezzz ^^,
June 5th, 2009 at 15:55
BUAT TEMAN2 ADA YANG TAU EMAIL RS.OMNI KAH?
BIAR KITA EMAIL AJA RAME-RAME…NTAR KITA LIAT,KITA DITUDUH MENCEMARKAN NAMA BAIK ATAU TIDAK?EMANG OMNI MAU MENUDUH KITA YANG JUMLAHNYA MUNGKIN JUTAAN…BIAR TAMBAH STRESS STAFF OMNI NYA…WKWKWKWKWKWKW
June 5th, 2009 at 16:10
Ya, setuju dengan semuanya. OMNI justru makin tersudut karena blundernya sendiri, yah gini deh klu mikirnya pendek …
June 5th, 2009 at 16:18
salam hormat
bapak-bapak/ ibu -ibu yang profesinya dokter mestinya kasih komentar dong.
jangan diam aja atu ikutan melindungi omni internasional
.
June 5th, 2009 at 16:20
A very good point, pak, and exactly the same with what I’ve been thinking. It should have been business as usual had they understand what the customer service is. And now, they already get to the point of no return, win or lose at the court they’re going to lose everything, and true its going to take years to build their name again.
June 5th, 2009 at 16:23
RS OMNI …….Lanjutkan!!! tuntutanmu thdp Ibu Prita .
saya mendukungmu……teruskan!!! dan Lanjutkan !!!
biar semua pada tahu bahwa kamu arogan,
bahwa kamu telah bayar polisi dan jaksa untuk memenjarakan bu Prita,
bahwa kamu sok jagoan, petentang petenteng
biar kamu juga ngrasain akibat dari pongah dan sombongmu
biar kamu juga ngrasain bangkrut dan gulung tikar
dan stresss…………….ya too….
biar kamu ….hick….hick….hick…..
“kenapa aku perkarakan si PRITA ???”
kini dicabut izinku…….
di robohkan OMNI ku ……….
Ya nasib……ya nasib…….ya nasib……
mending bunuh diri aja dech………
dari pada malu dan menderita …….
June 5th, 2009 at 16:30
Kalau tersangka menjadi saksi yang jelas gak fair…dalam kasus ini omni tersangkanya dan prita korbannya………. karyawan omni jelas motifnya takut dipecat…apa aja hayo….daripada gak makan.
So….balikkan nama baik Prita….dan Omni harus tanggungjawab dan minta maaf. Maksud hati mau arogan apa daya diserang balik dari segala kalangan….
Ih gak ngebayangin deh…maksud hati mencari kesembuhan …..malah berakhir dipenjara…amit-amit….
June 5th, 2009 at 16:32
Dari semua pendapat, saya rasa hampir semua orang membela Prita. Justru dengan adanya kasus ini malah tidak membuat RS OMNI semakin baik citranya, justru malah memperburuk citra RS itu sendiri.
Dgn adanya berita ini, komplain thd RS OMNI bukan hanya dari 1 pihak saja (prita) tapi dari semua orang yang telah membaca berita ini.
Kalau RS OMNI tidak mempermasalahkan sampai ke pengadilan, citra RS tidak akan sejelek sekarang.
Jadi sekarang setiap orang jadi tambah malas ke RS itu karena tidak bisa dikomplain.
June 5th, 2009 at 16:32
sabar yahh bu prita…kami bersama ibu dan selalu mendukung ibu Prita
June 5th, 2009 at 16:35
ini lah salah satu contoh bobroknya pelayan rumah sakit di indonesia….
June 5th, 2009 at 16:35
Ya udeh, jgn di hujat terusss tuh si OMNI ntar kolep, khan kacian karyawannya. Kite doain aje agar mbak prita cepet sembuh dan berobat ke herbal aje tak punye efek samping ape lagi ampek kena tuntut dijamin pelayanan sebaek mungkin deh. Herbal tiada due nye.
June 5th, 2009 at 16:43
lha …org mau komplain kok masuk bui.weleh2……
runyam jadinya jika mau nulis di surat pembaca di mass media ntar malah masuk bui.gimana nih hukum
omni…omni
kliatan sekali aroganmu…maksud lu mau masukin prita biar tutup mulut tuk menutupi kejelekanmu…
sekarang rasain …
orang dengar rs omni…jadi wehhhhh…
sory lah yauw…
tidaklah yauw..
June 5th, 2009 at 16:45
omni anjing babi monyet! uu ite anjing babi monyet! kita ternyata hidup di negri dimana kebusukan di tutup2i dan dilindungi dan pengungkapan kebenaran justru diberangus.
omni ini contoh rumah sakit abal2 yg nampung dokter2 abal2 yg kerjanya bikin pasien cacat krn slalu dijadikan klinci percobaan utk ilmu serba tanggung para dokter abal2.
sebetulnya sdh bnyk yg jd korban kebrutalan malpraktik para dokter abal2 di rs omni..
June 5th, 2009 at 16:48
dengan membengkaknya kejadian ini, bahkan juga tersebar kemana-mana sampai di facebook ada 150.000 dukungan ke itu prita, itu membuat orang semakin memposisikan rs.omni sebagai “hitam” atau dipihak yang tidak didukung.
seharusnya rs.omni juga berpikir ulang waktu itu untuk memperkarakan hal ini, karena ketika david vs goliath, cenderung dukungan kepada david lebih banyak…. rakyat indonesia ini sensitif terhadap kasus kecil vs besar, atau miskin vs kaya….
suatu penyesalan yang harus diratapi oleh rs.omni dan juga oleh ibu prita.
June 5th, 2009 at 16:53
untuk menjadi renungan bagi kita bersama ::: rumah sakit swasta sekarang ini telah menjadi suatu bisnis yang mengiurkan. pebisnis membangun rumah sakit seakan-akan membangun hotel bintang lima, megah dan besar. dengan demikian investasi yang keluar sangat tinggi, bagaimanapun dari logika bisnis mereka akan mengusahakan pengembalian secepatnya.
imbasnya adalah biaya yang tinggi yang mungkin tidak sebanding dengan pelayanan yang diterima pasien disana.
menteri kesehatan mungkin harus lebih bertindak melihat fenomena tersebut.
teori bisnis tidak bisa dipakai semuanya di rumah sakit, bila dalam pemasaran ada rumus untuk membuat bagaimana agar customer mau datang lagi membeli, maka di rumah sakit jangan sampai membuat pasien tetap tidak sembuh agar datang berobat lagi.
June 5th, 2009 at 16:54
Terkadang emg byk RS yg spt itu. MEnganggap pasien tdk tau apa2 sehingga tidak mau ambilo pusing dalam memberi penjelasan. Entah karena doktermya tidak pandai atau dokternya malas. Harusnya Prita nuntut RS Omni balik. Sy rasa byk org yg tdk akan mau ke RS itu lg kok. Dan dengan munculnya kasus ini malah semakin memberitakan ke banyak orang. Good Job Omni !
Kita selalu mendukung Ibu Prita !
June 5th, 2009 at 16:57
kalah atau menang RS OMNI di persidangan, tetap di mata publik mereka kalah dan salah, dan cepat atau lambat mereka akan di tinggalkan oleh konsumennya. dan kebangkrutan adalah suatu kepastian.
June 5th, 2009 at 17:00
kasus tuntutan (sampai di penjara) prita m, menambah buruk citra Indonesia di mata internasional (lihat aja banyaknya komentar/blog berbahasa inggris) dan merusak mental (keberanian mengungkapkan kebenaran bangsa ini). . . . karena itu apapun (orang, pihak atau lembaga) yang merusak Indonesia “harus dilenyapkan” dari bumi Indonesia tercinta ini.
June 5th, 2009 at 17:02
buat comment dari karyawan omni:
kalau anda punya hati nurani anda sudah keluar jadi karyawan
RS OMNI sebelum ditutup paksa oleh orang banyak.
June 5th, 2009 at 17:14
hehe.. mudah2an ini sebuah pelajaran bagi semua rumah sakit, dari dulu sering denger keluhan dari teman2 saudara2 etc.. kejadian mal praktek, sampai mertua saya juga, sama ada beberapa saudara juga makan obat bukannya sembuh malah tambah sakit, jadi kl memang ada kejadian yg menimpa diri anda.. email massal aja.. biar pada tau.. jadi jgn di tutup masalah ini, tidak akan ada habisnya korban2
kenapa skrg banyak berobat keluar negeri?
1. bukan karena banyak duit
2. lebih tepat sasaran utk penangganan
3. tidak berbelit belit
4. tidak di duitin terus (maksudnya cek ini, cek itu, terus cek ulang lagi etc..)
kl di local , selalu, cek ini, cek itu, scan ini, scan itu etc de.. trus minta datang terus utk check up, padahal di luar negeri kl uda pasti gak perlu checkup lagi ya bilang selesai
sebagai info saja, utk pengobatan ke luar negeri tidak mahal kok, yg jadi tempat favorite di malaysia, tepatnya di melaka, trus di KL juga gak mahal, lebih pasti, lebih yakin, dan tempat juga peralatan juga masi OK, di melaka harga lebih terjangkau
kadang kita nya serba susah, jalan buntu kl sudah masuk kerumah sakit yg dalam tanda ”
kenapa, karena sampai sana , sakit kita seakan di takutin, harus cek ini , harus cek itu, harus nginap, trus terakhir adalah RESIKO TANGGUNG SENDIRI , itu kata2 selalu bikin kita resah… mau gak mau pasrah, padahal hasilnya tidak separah yg kita duga, memang kita bukan dokter, tapi kita harus belajar dari pengalaman juga
ingat, nyawa kita jangan utk dijadiin tester, itu nyawa kita sendir, yg lain tidak berhak utk menjadikan sebagai tester, wong kita bayar juga kok
info soal rumah sakit di malaysia itu sebagai info saja, percaya tidak percaya itu terserah anda sendiri, terima kasih
June 5th, 2009 at 17:26
Jangan-jangan rumah sakit ini memang sudah mau bangkrut dan perlu uang, jadi dia berharap dapat uang dari hasil menang perkara………….
June 5th, 2009 at 17:32
pelajaran buat kita para konsumen..
teliti sebelum membeli..
sama hal nya kalo kita di rs..
jgn takut bertanya, jgn takut dianggap crewet, jgn takut dijutekin ma suster, jgn takut diomelin dokter..
kita dah bayar.. kita mesti tau apa yang kita beli..
obat apa yang kita makan, suntikan apa yang masuk..
obat ini itu untuk apa dsb.. kl kita merasa tidak perlu dan tidak ada hubungannya dgn penyakit kita jgn ragu untuk menolaknya… tanyakan apakah ada yang versi generik atau tidak.. karena kadang rs maen hajar aja kasi kita obat yang versi mahal hanya karena rekanan dari supplier.
kita punya hak..
untuk ibu Prita.. semoga tetap tabah dan tetap semangat memperjuangkan keadilan dan kebenaran..
wassalam..
June 5th, 2009 at 17:39
rasanya tidak bijak ya menilai masyarakat “masyarakat kita juga not that smart untuk menalaah ampe lebih jauh lagiii … . dan yang terjadi adalah … masyarakat sudah menghakimi siapa yang salah based on cerita yang ada”
zaman sekarang ini era informasi cukup mengandalkan jari tangan saja… banyak masyarakat yang sudah pintar kesehatan
pertama itu email pribadi…
kedua… mungkin kalau saya menjadi bu prita juga merasa tertipu… kasus bu prita ini (kasus layanan medis) juga di alami oleh keponakan saya di sebuah rumah sakit di bilangan tangerang juga. Bayangkan salah diagnosis sehingga pasien yang dirugikan hingga puluhan juta rupiah. Tapiii keluarga saya cukup baik tidak menuntut karena tidak mau ambil pusing.
Ibu prita ini salah satu yang menyuarakan suara hatinya. Jelas jelas yang dilakukan pihak rs terhadap ibu prita ini salah. Apa anda datang ke persidangan? mendengar apa diagnosis yang diajukan oleh dokternya?
OMNI mengklaim sudah melakukan sesuai prosedur. Tapi dari langkah pertama saja sudah salah. Mau cari apa pada demam tinggi hari pertama yang kemungkinan besar memang disebabkan oleh virus sehingga tidak memerlukan pemeriksaan apa-apa, dimana ibu prita juga tidak ada tanda gawat darurat. Selanjutnya jika memang curiga demam berdarah bukan semata mata trombosit yang jadi patokan untuk menentukan pasien butuh rawat inap. Apalagi perlu suntikan ini itu. Mau suntik apa. Ibu prita butuh penurun panas parasetamol, banyak cairan, dan edukasi.
jadii sudah salah langkah dari awal. Beruntung ibu prita menulisa email untuk temannya. apa bedanya dengan bu prita yang ceting dan curhat pada temannya.
jadi untuk yang menilai bahwa masyarakat terlalu menilai berlebihan terhadap kasus bu prita coba bayangkan jika anda yang ada di posisi bu prita…
untuk penulis… tulisan yang bagus… semakin mereka (RS OMNI) membela diri semakin aib terungkap
Bu prita semoga Allah melidnungi ibu sekeluarga. AMiin.
June 5th, 2009 at 17:43
Ada surat pembaca di detik.com yaitu dari seorang dokter yang memberi kesaksian bahwa kasus bu Prita bukanlah kebohongan, dokter ini mengakui bahwa pada saat pasien masuk, maka ada usaha2 manipulasi yang dilakukan para dokter (karena tekanan manajemen r.sakit) agar pasien yang seharusnya cukup berobat jalan, tetapi harus rawat inap…. Jadi, berhati2 lah kalau anda berobat ke r.sakit. Jangan ragu untuk meminta penjelasan dan bukti semua rekam medik.
June 5th, 2009 at 17:45
Ulasan ini sangat menarik, sebuah fenomena aneh yang terjadi di negeri yang mana kebebasan mengungkapkan pendapat dilindungi dalam UUD negera kita.
Kenapa ya akhirnya yang bersalah justru ibu Prita? Ini menimbulkan kecurigaan dari saya, apakah benar Kejari yang mengurus kasus ini ada permainan dengan Pihak RS OMNI??
Yang pasti saya sudah tidak respek dengan RS OMNI.. Ogah berobat baik rawat inap dan jalan di sana…
June 5th, 2009 at 17:48
RS OMNI = RS Nyeleneh….
Bu Prita, anda mendapat dukungan banyak dari warga negara Indonesia, termasuk CAPRES2 kita.. Tuntut ganti rugi materiil ke RS OMNI Bu.. Soal Tuntutan, saya punya saran, samain aja dengan kekayaan CAPRES kita yang paling kayak.. Mampu ga mereka??
June 5th, 2009 at 17:54
Yah kita lihat saja nanti ….
tapi yang jelas sih gue kaga mao datang ke RS OMNI walopun kebelet mending berak dicelana aja deh daripada be’ol disana.
June 5th, 2009 at 17:54
Opini yg bagus.. Secara logika RS OMNI sudah tidak mungkin lagi hidup menjalankan usahanya karena namanya sudah rusak serusak rusaknya. Pertanyaannya adalah jika sudah melakukan kesalahan seperti ini masih kah bisa diperbaiki? Jika seandainya anda menjadi pemegang keputusan disana apa yang yg sharusnya dilakukan? Ada yang tau kondisi RS OMNI sekarang bagaimana? Semoga Ibu Prita mendapatkan balasan yang setimpal atas perjuangannya dan semoga karyawan RS OMNI yang tidak bersalah tidak ikut kena getah dari kesalahan petinggi RS OMNI.
June 5th, 2009 at 18:01
Saran saya untuk management RS OMNI Internasional, Rubah aja gedung RS menjadi Lapang Futsal daripada kosong, untuk Dr. Hengky ganti profesi saja daripada jadi dokter tidak becus mending jadi sopir Busway, untuk Dr. Grace ganti profesi aja jadi Penjual Nasi Pecel, kalo bisa masak….
June 5th, 2009 at 18:05
Yo, pada akhirnya sing becik ketitik sing olo ketoro, bu prita olo2 kuwato, kita dukung terus…
June 5th, 2009 at 18:13
TEBULLLL…
Dr. Grace & Hengky kalian ke laut aja dech..
Ngapain? masi nanya lagi… Mnacing cari ikan buat RS OMNI Tercinta
June 5th, 2009 at 18:44
salut buat Ibu Prita…maju terus Ibu Prita..
untuk rs omi, sebaiknya segera instropeksi sebelum keadaan menjadi lebih buruk lagi..
June 5th, 2009 at 18:47
Wah seru banget nih. Gw boleh dong ikut kasi komen, kebetulan gw dokter. RS swasta di Indonesia (terutama yang baru) banyak yang “kejar setoran” (maklum modalnya gede). Udah bukan rahasia lagi bahwa para dokter secara halus “ditekan” untuk meningkatkan okupansi tempat tidur, memperbanyak pemeriksaan laboratorium atau penunjang lainnya (CT scan misalnya), dsbnya. Kalo dokter itu kurang target dalam periode tertentu mereka bisa diberhentikan. Tentu juga dengan iming-iming bonus (dari penjualan obat, pemeriksaan lab, dsbnya) bagi dokter ybs. Sehingga klop-lah terjadi “penjarahan”. Menurut gw ini konsekuensi logis karena RS dianggap lahan bisnis. Yang memperparah keadaan adalah kesenjangan pengetahuan medis antara dokter dan pasien (ibarat lo ke bengkel mobil, kalo lo ngga tau apa-apa nanti semua onderdil disuruh ganti sama montirnya). Ada lagi miskomunikasi (yang ini biasanya salah dokternya). Jadi masyarakat juga harus membekali diri dengan pengetahuan, kan jaman internet. Pasien berhak meminta keterangan apa saja tentang penyakit mereka, berhak mengetahui penyakitnya, alternatif pengobatan, kemungkinan komplikasi, memilih pengobatan, dsbnya. Beda sama pasien bule (negara maju), mereka ngga sungkan-sungkan nanya ini obat apa gunanya, kenapa saya harus makan, apa efeknya, dsbnya, dan dokter wajib memberi penjelasan. Apalagi kalo penyakitnya sampai perlu dirawat atau dioperasi. Kalo perlu minta second opinion (dokter yang baik tidak boleh tersinggung untuk hal ini).
June 5th, 2009 at 18:53
Inilah negeri jungkir balik. Orang udah disuruh bayar, hampir mati sekarang dipenjarakan pula.
Salut buat RS.Omni, jaksa, polisi dan pembuat undang-undangnya. Mungkin otak anda sudah lumer semuanya.
June 5th, 2009 at 19:02
wow….betul2 judul yang sangat bagus…istilah yg sangat-sangat mantap langsung mengena dg substansi..”bunuh diri sosial”
June 5th, 2009 at 19:11
Pihak RS OMNI Alam Sutera baca blog ini nggak ya.
June 5th, 2009 at 19:18
duit,… duti,… duit,…
saya rasa manajemen RS OMNI yang keterlaluan.
June 5th, 2009 at 19:20
Saya dulu dokter yang juga pegawai negeri. Mengabdi di daerah Indonesia Timur. Termasuk wilayah sangat tepencil.
Saya putuskan untuk keluar karena betapa dasyatnya kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) dan segala setan yang ada dalam birokrasi. Saya ke Jakarta untuk kerja di rumah sakit swasta.
Betapa bejatnya manajemen rumah sakit yang mengharuskan setiap dokter yang menerima pasien di poliklinik atau pun instalasi gawat darurat sedapat mungkin mengusahakan pasiennya dirawat dengan apa pun alasan klinisnya. Saya putus asa dengan keadaan yang melawan batin saya ini.
Saya pun keluar, dan syukurlah sebuah perusahan multi nasional dari sebuah negara di Eropa menerima saya sebagai overseas doctor untuk lokasi proyek mereka di berbagai negara. Saya juga bersyukur mendapat rezeki yang lebih tanpa harus berbuat dosa.
Temen-teman, apa yang dialami Ibu Prita bukan bohong. Saya yakin itu dan masih banyak korban yang sebenarnya tidak menyadari menjadi korban dari rumah sakit yang berbasis business atau money oriented.
Percayalah masih banyak dokter di Indonesia yang pintar dan berbudi. Tapi, mereka tenggelam oleh ganasnya kehidupan birokrasi yang bejat.
June 5th, 2009 at 19:27
Undang-undang ITE menjerat e-mail nya bu Prita?
Hebohhh ….
June 5th, 2009 at 20:06
Kalau umpama bu prita sampai kalah di pengadilan..
kite buat page di fb untuk kumpulin dana ye … untuk bantuin beliau …
Biar dah diambil OMNI ..
jadi pelajaran ke depan hati2x dalam memilih rumah sakit ..
June 5th, 2009 at 20:39
Bener yah kata tetangga, jaman sekarang jadi orang nggak punya jangan sakit, kalopun berpunya ya jangan sakit juga, rumah sakit pada gila soalnya… Mereka bikin bisnis bukan berangkat dari tujuan mulia, mudah-mudahan setiap rumah sakit yang seperti itu, para pimpinan dan pemiliknya dilaknati Allah SWT, dan para dokternya yang melakukan kezaliman juga diberi balasan kezaliman yang setimpal di saat hidupnya…
Para dokter hati-hati lho, serapah orang sengsara yang dizalimi itu mustajab…
June 5th, 2009 at 20:42
ulasan yang bagus,jadi baru mengerti sebenarnya maksud OMNI mau naikin ranking malah jadi terancam bangkrut… karena kalupun OMNI menang opini masayrakat akan menjudge pemerintah keparat..melanggengkan kongkalikong jaksa jahanam dengan omni, itu berrati SBY siap siap pulang kampung karena engga ada yang milih lagi. karena tak perlu DILaNJUTKAN budaya main uang…. he heh
June 5th, 2009 at 20:58
Mau urun rembug : Karyawan RS Omni harap siap-siap di PHK…segera cari kerjaan lain..karena tidak lama lagi RS-nya kagak laku..
June 5th, 2009 at 21:16
Omni Hospital ??? NO GOOOOOODDDDDDDDD
June 5th, 2009 at 21:22
Kaliber omni adalah RS yang tidak punya etika kemanusiaan, saya ngga setuju dengan pernyataan OMNI lugu, yang tepat adalah arogan. Jangan ada yg kesana satupun..dech
June 5th, 2009 at 21:24
kalo baca postingan @karyawan omni diatas gw jadi geli sendiri
“alhasil dr complaint yg Ibu.Prita tujukan ke RS.OMNI mnemui titik terang, pihak OMNI mmanggil Ibu.Prita u/ mnyelesaikan kasus ini scara kklaurgaan akan ttpi Ibu.Prita tdk dtang mmenuhi panggilan trsebut dan malah mmbawa kasus ini ke meja persidangan,jd apa yg di publikasikan slama ini bahwa RS.OMNI yg mmbawa ksus ini ke meja prsidangan itu hanya sebuah kebohongan belaka.jjur sy mmang mrasa prihatin atas apa yg Ibu.Prita alami saat ini akan ttapi sy jg sngat mnyayangkan atas langkah yg tlah Ibu.Prita ambil.”
“Bu prita membawa kasus ke meja persidangan” o jadi si bu prita yang melapor ke polisi terus dia juga yang disel gitu…..?? pembelaan membabi buta dari @karyawan omni yang paling menggelikan…………….
June 5th, 2009 at 21:41
Ibu Prita, anda Hebat, saya yakin Ibu Prita ini dari kalangan ekonomi menengah, dan pendidikan yang cukup, dengan begitu beliau cukup berani mempertanyakan Jasa yg didapat dari Omni dan bersuara ketika “DIKECEWAKAN”…
Ngomong2 Rumah sakit yang nyembuhin Bu Prita Bersuara Dong, Jadi Saksi Kek, takut amat !!!! Diagnosa Omni VS RS. X
June 5th, 2009 at 21:50
kepada karyawan omni: coba pikir rs udah salah labnya, dan melakuan tindakan dr hasil lab itu bisa pikir apa akibatnya dan jangan lupa biaya yg harus dibayar akikbatnya, dan adalah haknya untuk minta hasil lab yang toh sudah dibayar pula. eh malah arogan nuntut segala dasar otaknya duit doang……
June 5th, 2009 at 22:03
Begitulah negara kita, UUdibuat sambil tidur, pemerintah ga perhatian, yang punya uang bisa segalanya membeli hukum.
beginilah hidup dinegeri BBM.YA NASIB YA NASIB…
June 5th, 2009 at 22:17
menurut hasil lab terakhir…..
Om Ni trombosiiit nya tinggal 270 hari…..
ammmmmpunnnnnnn……..
June 5th, 2009 at 22:28
Kalau Prita kalah di pengadilan maka kita rame-rame kumpul duit sehingga melebihih yg Omni (mungkin) berikan kepada kejaksaan yg memenjarakan Prita. Lalu kita bayar deh kejaksaan supaya kasus dimenangkan oleh Prita. Giman? Setuju???
June 5th, 2009 at 22:36
Iya Para pembuat Undang-Undang itu ijasahnya mbeli sih kapan sekolahnya tau2 udah SH,MM,DR ya jadi ketika merancang UU pada gak ngerti alias pada tidur.Yg ada diotak mereka DUIiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttttt.Pejabatnya cuma mikirin korupsi aja berebut mo jadi pejabat,DPR<DPRD tapi bukan utk kebaikan negara.Cuma utk terlibat dlm lingkaran korupsi.
June 5th, 2009 at 22:36
Aku juga heran koq masih ada perusahaan yang memperlakukan konsumen seperti ini ?!? padahal sekarang jamannya pelayanan yang di utamakan. aku sich kerja bukan di bagian customer service tapi tahu dan mengerti bagaimana melayani seorang customer. apalagi sampe melayangkn surat kekecewaan secara terbuka. eh bukan perbaikan layanan yang diberikan koq malah penahanan. aku juga brani bertaruh sekarang pihak management Omni bingung bagaimana berbuat utk selanjutnya tapi yang pasti dengan tersebar luasnya kasus ini dengan sendirinya membuat ‘pencemaran nama baik” yang dilakukan oleh pihak RS Omni sendiri.
Salam kenal.
June 5th, 2009 at 22:37
sebenarnye ini hanya masalah komunikasi doank, tidak semua orang mengerti masalah penyakit, jadi tugas tenaga medis-paramedis yg harus menjelaskan sedetil mungkin, sampe pasien ngerti, kalo dah pake kekuasaan, gimane pasien mo sembuh, stress iya….. kalo dah gini gimane donk… kasihan bu prita n keluarga (anak ane 5 bulan, ditinggal istri 4 hari buat diklat aje dah ngambek ga’ mau nenen, gimane kaya’ bu prita) kasihan juga ama karyawan OMNI kena getah kasus ini….
June 5th, 2009 at 22:44
analisa yg bagus.
omni …kasihan deh lu..sebentar lagi tutup.
management omni goblok.
hidup ibu prita.
June 5th, 2009 at 22:57
Pasal pencemaran nama baik sudah dihapus di sebagian besar negara, namun di Indonesia nampaknya masih dipelihara karena dapat menjadi senjata pihak kuat berduit untuk menindas lawannya. Mari kita atasi masalah dasarnya dengan mengkampanyekan pencabutan pasal pencemaran nama baik dan memperkuat undang-undang pelindungan konsumen.
June 5th, 2009 at 23:03
Ya itulah cerminan aparat hukum kita dengan mudah mendakwa bu Prita, tidak profesional kata Bossnya. Kita lihat mahasiswa Hukum saja doyan tawuran, masih menggunakan otot ketimbang otak, bagaimana kalau jadi aparat nantinya.
Untuk si Omni biarin aje, kena hukuman sosial, publikasi buruk, masih banyak RS lain yang mengutamakan pelanggan adalah raja..
June 5th, 2009 at 23:12
saya setuju jika RS.Omni adalah pihak yang harus di persalahkan, tapi yang lebih salah adalah JAKSA yang memutuskan perkara ini. belum lama ini ada kasus korupsi yang melibatkan orang2 yang ada di keJAKSAAN AGUNG. apakah semua JAKSA yang ada dinegri ini seperti JAKSA yang menangani kasus prita? mudah2an TIDAK.
June 5th, 2009 at 23:26
sedikit2 lab2 jangankan rumah sakit,puskesmas ato poliklinik aja kalo dokter tdk bisa analisa suruh ke lab bahkan sdh di kasi brosur+formulir mungkin rumah sakit sdh kerjasama dan dpt fe,,, mungkin???
June 6th, 2009 at 00:22
Yang perlu di ketahui oleh kita sebagai pasien, kita punya hak atas diri kita. Ini hak hidup kita. Kita sakit maka kita bertanya pada orang lain yang tahu yaitu dokter. Tetapi kita punya hak bertanya apa penyakit kita dan apa treatment untuk kita. Dalam etika kedokteran memang dokter di sarankan untuk menjawab pertanyaan pasien. Tetapi ini masih etika kedokteran dan belum ada undang-undangnya. Kalau kita gak puas dengan jawaban dokter kita maka carilah second opinion, atau bahkan third, fourth opinion.
Yang lebih penting lagi saat ini adalah semua orang harus pinter dan kritis agar tidak percaya saja apa yang di katakan dokter.
Dan anda yang berprofesi dokter junjunglah informed concern.
Mengapa orang suka berobat keluar negeri karena dokter di luar negeri benar-benar menjunjung tinggi hak pasien. Segala tindakan yang dilakukan di tanyakan kepada pasiennya dengan penjelasan detail apa kelainan yang ada di diri kita dan apa tindakan yang akan dia lakukan untuk kita. Sehingga kita tidak bimbang dengan apa yang akan di lakukannya. Dan semua yang dia lakukan dapat kita amati secara jelas dari layar monitor yg di tunjukkan langsung di depan kita.
Tolonglah jangan bodohin pasien anda, karena segala tindakan anda terhadap tubuh pasien adalah dapat menjadi obat tetapi juga dapat menjadi racun bagi pasien anda.
Jangan ada lagi kasus-kasus salah diagnosis, salah tindakan, yang merugikan pasien, dan tindakan semena-mena seperti kasus ibu Prita. Mungkin kasus seperti ibu Prita banyak terjadi tetapi karena pasrah saja sehingga si dokter tenang-tenang aja, menganggap dirinya sudah canggih dalam mengobati pasien. Tolong update ilmu anda..
Bagi anda pasien sekali lagi sayangilah diri anda sendiri, dengan kritis bertanya dan cari ilmu tentang gejala penyakit anda di internet (buat yang sudah yang mengerti dunia maya) dan sebarkanlah ilmu anda ke teman-teman, saudara, baby sitter anda, prt anda, sopir pribadi anda. Sehingga makin pinter mereka untuk kritis maka mudah-mudahan kasus seperti ibu Prita tidak terulang lagi.
Hidup Pasien dan Dokter Indonesia….
June 6th, 2009 at 00:38
RS Omni..diinjek2..diremek2..jadi peyek..
BEBASKAN IBU PRITA
BEBASKAN IBU PRITA
BEBASKAN IBU PRITA
BEBASKAN IBU PRITA
BEBASKAN IBU PRITA
BEBASKAN IBU PRITA
salam Jhohan….
June 6th, 2009 at 01:03
aparat hukum dan pasal2hukum kadang diperalat oleh orang/institusi untuk menunjukkan kekuatannya.
Buat omni,kl ndak bs manej RS mbok ya bikin warung makan seafood aja (mino=iwak=ikan) aja, pasti banyak pelanggan. Janji deh nanti aq makan di warungmu. Ato bikin aja perusahaan valas aja (moniy) biar nyari duitnya gampang tanpa harus peras otak dan peras rakyat kecil.
Buat dkter beny and grace, ilmumu malapetakamu dan sombongmu nerakamu karena akan memakanmu.Kurikulum public service perlu diajarkan di fak kedokteran.
buat masyarakat luas, dalam waktu dekat akan ada rilis dari pemerintah tentang bangkrutnya RS OMNI. nuyum sewu.
June 6th, 2009 at 01:06
OMNI , oh malang nya Ibu Prita , malangnya Ibu Ibu negri ini , ayo ibu ibu masih banyaaaaak skali OMNI yang lain dinegri ini , banyak minum jamu biar lebih sehat dari pada , kecebur ke omni lainya lagi?
June 6th, 2009 at 01:24
yg jelas asal mula nya,aparat kepolisian di bayar rumah sakit omni untuk di bikin perkara,karena kepolisian yg paling gampang di bayar.dan juga jaksa nya juga di bayar oleh rumah sakit omni untuk memperkuat perkara nya,yg jadi korban ibu prita.ketiga nya ini yaitu kepolisian,jaksa dan omi sama sama bobrok nya.tapi dg tersebar luas kebenaran akan terungkap dan masyarakat bisa menilai…
semoga prita terbebas dari segala tuntutan dan mendapatkan ganti rugi yg layak..
June 6th, 2009 at 01:27
Kalau masih punya harapan untuk hidup. Jangan mencoba untuk berobat di RS Omni International Hospital. Bukan harta yang terkuras. Tapi nyawa Anda juga menjadi taruhannya. Trust me!
June 6th, 2009 at 01:32
wah…wah…wah memang sudah keterlaluan hukum di negeri ini ibu rumah tangga ko bisa masuk bui ini karena polisi = jaksa = $$$ main mata dg RS omni = only money.RS OMNI siap2 gulung tikar dech karena akan disulap menjadi pasar modern yang pasti lebih bermanfaat tempatnya. Bu Prita Sabar ya… doaku bersamamu selalu…
June 6th, 2009 at 01:51
di kepolisian ada nama nya proyek perkara,ada uang ada perkara,ada perkara ada uang.begitu yg melapor orang berduit atau sekaliber rumah sakit omni maka merupakan ladang uang bagi polisi.jaksa juga nggak kalah ketinggalan proyek,dia juga tentunya minta bagian uang nya.polisi tidak akan menyelesaikan perkara dg hati { kata pak sby - selesaikan dg hati }.bagi polisi bagi siapa yg melapor dan di lihat yg melapor banyak uang tidak padang bulu semua sikat,tidak peduli itu ibu rumah tangga dan punya 2 anak kecil.walaupun sebenar nya yg jadi korban adalah yg benar,
buat ibu prita yg tabah dan semoga tuhan bersama mu..
buat bangsa negeri ini..uang sangat menyilaukan kita jadi kebenaran bisa tertutup karena uang jadi kita harus tegakan kebenaran bersama sama..
June 6th, 2009 at 03:32
Sebaik nya delik aduan PENCEMARAN NAMA BAIK dihapus saja dari kitap perundangan. Karena substansi nya sangat subjektif dan berlandaskan atas grey area (kondisi yang samar-2). nama baik seperti apa yg tercemar dan menurut siapa dan dari sudut pandang yg mana seseorang itu pantas secara mutlak tercemar nama baik nya ? Dan coba kalian semua ambil semua records kasus PENCEMARAN NAMA BAIK, pasti korban nya adalah pihak yg lebih lemah dan yg tercemar nama baik nya adalah pihak yang LEBIH KUAT/BERKUASA/BERKEUANGAN LEBIH BAIK. Sering pula delik pencemaran nama baik digunakan hanya untuk mengalihkan perhatian atau kemungkinan tutntutan lain nya, sehingga menyerang dulu dengan alasan nama baik nya tercemar. Sebaik apa sih nama seseorang akan tercemar sampai harus pihak lawan di penjara dan diminta ganti rugi yg begitu besar. DELIK INI LEBIH CENDERUNG SIASAT AKAL-AKALAN an bukan murni ingin menuntut karena nama baik nya tercemar. Tercemar bgm ? Ada yg bisa jelaskan ? Robert Gallias.
June 6th, 2009 at 03:35
DELIK PENCEMARAN NAMA BAIK (PNB) sebaiknya dihapus atau:-
Sebelum seseorang berhak mengajukan delik Pencemaran Nama Baik (PNB), maka orang tsb sebelumnya hrs di-verifikasi terlebih dahulu apakah memang benar benar namanya betul BAIK, a.l:
1/. Pembayar pajak yg taat.
2/. Memelihara lingkungan hidup dengan baik.
3/. Bertata krama dan berbudaya serat berperilaku dengan adil, benar & baik.
4/. Beragama dengan baik.
5/. Ada bukti kebaikan lain nya yg menonjol yg pernah di sumbangakan kpd masyarakat
banyak di sekitarnya.
6/. Rajin beramal & beribadah.
Kalau tidak memiliki kriteria NAMA BAIK spt diatas, lalu apanya
yang akan TERCEMAR ?
June 6th, 2009 at 04:05
Sabar ya bu, kami mendukung ibu semoga dengan ini dapat menjadi hikmat untuk pelayanan semua RUMAH SAKIT baik negeri ataupun swasta bagi pasiennya (amin)
June 6th, 2009 at 05:10
sudah keluar uang, penyakit nggak sembuh, di penjara lagi.
apakah ini termaksud malpraktek?
June 6th, 2009 at 05:16
ayo,…maju bu prita,..hidup kebenaran,…jangan takut,……mari kita lawan bersama2
kalo musuh saya bank BTN :
kunjungi ke
http://4thn4antri4di4bank4btn.wordpress.com/
bank BTN,…udah 4 tahun masih nunggu di loket bank BTN,…untuk ambil sertifikat sampe skrng belom keluar,…..
aneh yach,….tawi nyata
June 6th, 2009 at 06:02
[...] http://indonesiagembira.blogdetik.com/2009/06/04/prita-vs-rs-omni-sebuah-contoh-bunuh-diri-sosial/ [...]
June 6th, 2009 at 06:25
Berati RS Omni Internasional ini belum ikut ISO ya… kalau udah ISO akan tahu bagaimana pelayanan terhadap komplain costumer…
Harusnya nama RS Omni Internasional diganti deh…
June 6th, 2009 at 06:27
‘bunuh diri sosial’, wah, tidak ada kata yg lebih tepat untuk menggambarkan kasus ini. gua gak kenal prita, ketemu juga gak pernah, tapi saat ini internet gw selalu on utk cari tahu perkembangan terbaru.
yg gua bingung, banyak perusahaan besar, kayak teh botol sosro, bca, kalbe, yang diguncang isu via internet/email, cuma mereka dengan caranya yg elegan, membatah melalui media yang sama. Dan hasilnya ? dalam 1-2 minggu, isu tsb padam.
Lha, yang ini bukan isu, emang kejadian beneran, dan dalam hal ini punca dari masalah adalah arogansi omni (baca : anjing) yang gak mau ngaku salah periksa pasien. organisasi besar yang pantang mengucapkan maaf, dan akhirnya memutuskan utk mengambil langkah yg menurutnya paling strategik, yaitu menuntut pasiennya.
hebat, dalam itungan hari, reputasi internasional yg sudah dibangun bertahun2 rontok.
jadi, kita ucapkan selamat tinggal utk omni, yg akan selama bertahun2 dikenang sebagai organisasi yg dzolim, tidak bermoral, dan arogan
June 6th, 2009 at 06:56
[quote]Original posted by crocon 04 Jun 2009 at 13:53
Omni goblok dan tolol
polisi = ????[/quote]
Polisinya Preman pasar yang nunggu setoran…
Polisi indonesia gituloh …
Gw cinta indonesia tapi tidak pemerintahannya …
Korup smua … Sucks
June 6th, 2009 at 07:25
jgn brobat ke R.S dh,tkng tipu semua,mnta rekam medis pnykt sndri aj ga di ksh,alasan kode etik lah,ini lah,itu lah,semua nyari duit semua,itu ibu prita yg lmyan ada,yg orang mskin aj di biarin smpe mati,mending ikhtiar sma ALLAH.S.W.T,Semoga Semua R.S,di buka pintu hati nya,saya berdoa&dukung bwt bu prita
June 6th, 2009 at 08:04
aku jg gak kenal ibu prita tp aku simpati bgt pada ibu prita
yg dimana ibu prita sdh diperkakukan sewenang wenang oleh RS Omni, RS kok bs sih melakukan tes lab. sampe bs salah gitu??!!..gmn nanti nasib n nyawa pasien??!!!.itu RS ngawurr!!!.
sebagai konsumen ibu prita pnya hak utk komplain atas pelayanan RS omni tp mengapa RS omni dgn arogannya menganggap itu sebuah pencemaran nama baik??!!..
saya dukung terus ibu prita,,tuntut balik RS OMni yg arogan!!
June 6th, 2009 at 08:12
jadi takut deh berobat kesana…
June 6th, 2009 at 08:13
“OMNI Hospital” semacam Tempat berobat yang mengerikan…
June 6th, 2009 at 08:20
aku pernah ke dokter yang katanya specialis dan sangat profesional, saat itu aku sakit batuk, akibatnya didiagnosa sakit nggak tau apa lupa aku, dan akhirnya habis duit 1,5 jt, tapi sayangnya nggak sembuh, trus aku ke puskesmas, habis 3000 rupiah saja, dalam waktu 2 hari langsung sembuh dan obatnya cuma 2 jenis, aneh ya??
June 6th, 2009 at 08:24
supaya pemerintah menindaklanjuti izin OMNI,dengan menerima kritikan kita akan maju tapiOMNI merasa hebat mampuslah dia, itulah type rumah sakit yg tidak mampu melayani masyarakat yg pelayanannya bobrok sekali,mulai detik ini saya beserta seluruh keluarga dan rekan2 saya tidak mau berurusan ama RS OMNI masi banyak RS yg lebih bagus pelayanannya..ini pelajaran utk RS yg lainnya
June 6th, 2009 at 08:24
menurutku rs omni harus minta maaf pd prita, gak perlu sampe seperti ini, tanpa ribut2 shg nama omni malah makin baik. toh ini memang untuk pelayanan. buat bu Prita yang sabar ya mengahadapi masalah ini…………
June 6th, 2009 at 08:31
OMNI RS tai kucing..jelek..amburadol..serampangan..berantakan..nggk profesional..maunya duit2 mana tanggung jawabmu.. pelayannan macam apa ini..pemerintah..tolong tutup aja ini RS..tidak mendidik.orang dah sakit dibikin sakit lagi..buk prita mendingan kamu tuntut balik RS nya biar kapok..tq
June 6th, 2009 at 08:46
Mungkin bagi yang tinggal di daerah serpong dan sekitarnya pasta sudah banyak yang tahu gimana buruknya dan mahalnya layanan rs OMNI ini, anda bisa nilai sendiri jika pernah berobat kesana…mending seh ditutup aja sebelum banyak korban lain berjatuhan, atau gak usah berobat kesana kali biar bangkrut dengan sendirinya…gak ada ruginya kok.
June 6th, 2009 at 08:51
lha temen pernah cabut gigi 1 aja biayanya 1,1 juta, gitu tau biayanya segitu mendingan balikin aja giginya pasang lagi,, sama -sama cabut di puskesmas pake dokter dah pengamanan cuman 20 rebon…., kalo pake dokter spesialis gigi diluar cuman 165 rebon, di omni??????luar biasa …..rumah sakit monster……
June 6th, 2009 at 08:55
absolutly brilian mind
June 6th, 2009 at 08:58
Berdasarkan hasil investigasi kejagung ternyata ada indikasi bahwa staff kejaksaan tangerang dapat fasilitas gratis dari omni???wah benar-2 negeri yang bobrok…
June 6th, 2009 at 09:05
dokter sekarang hanya mengejar gelar dan uang.saat mahasiswa banyak sekali calon calon dokter yg ujian nya pada nyontek.jadi hasil nya seperti sekarang ini.label nya international pada dokter tidak profesional.mereka pada dokter hanya berlidung di bawah perusahaan rumah sakit besar agar kelihatan profesional tetapi secara individu sama sekali tidak capable alias payah..
image dokter sekarang harus kaya.dokter harus kaya jadi di mata mereka hanya target uang tapi kemampuan nya nol..
korban nya adalah pasien..kasihan niatan nya mau berobat gara gara dokter nya nggak profesional malah jadi pinyakit lain yg muncul dan pasien keluar uang,mengeluh malah di tutut dan di penjara.rumah sakit lebih pintar kerena mereka sudah meyiapkan pakar hukum untuk jaga jaga bila ada pasien yg nuntut.uang sudah di siap kan untuk pengacara,polisi sampai jaksa.inti nya dalam bisbis rumah sakit di benak mereka untung untung dan menang.
kebohongan kalau di tutupi akan terbongkar juga,
June 6th, 2009 at 09:13
semoga RS Omni bangkrut karena dituntut balik oleh Ibu Prita dan Pengacara dkk…
June 6th, 2009 at 09:16
rumah sakit neoliberialisme di indonesia..yaitu omni..
masih masih omni omni lain yg dasar nya neoliberialisme tapi bertameng ekonomi kerakyatan.
omni adalah rumah sakit bisnis.mereka harus untung besar dan melibas bila ada musuh di depan.bila musuh menyerang sudah di siap dana perang dan pasukan nya yaitu pengacara,jaksa dan polisi.
rumah sakit dg biaya sekecil kecil nya tapi untung sebesar besar nya,rumah sakit jadi ajang bisnis dan tempat orang jadi orang kaya,korban nya adalah nyawa pasien.
June 6th, 2009 at 09:16
Koran Tempo hari ini (6 Juni 2009) : RS OMNI bukan rumah sakit internasional.
Hanya namanya saja yg “Internasional”.
Makin nyata niat buruknya.
OMNI = Only Money. No Interest
June 6th, 2009 at 09:17
Ibu Prita, Tuhan beserta mu..
Rs Omni Int , setan beserta mu..
Malu-maluin dunia kedokteran ja.. gak profesional.. gak beretika.. Go to hell…
Jaksa yang invistigasi dan yang nuntut tu di penjara ja… malu2in dunia jaksa ja.. setan kalian semua. ditunggu tu ma malaikat pencabut nyawa..
June 6th, 2009 at 09:28
Sudah di boikot saja OMNI.. Nanti masuk OMNI selanjutnya masuk Penjara
June 6th, 2009 at 09:29
Kepada sodara sodara,
Kenapa sih kalian pada protest ke kami. Sebagai negara hukun, kami kan cuma mengadukan permasalah kami ke polisi, masalah ditahan di penjara, itu kan urusan polisi dan jaksa. Protes ke mereka, saya kan sudah bayar banyak ke mereka. Biaya yg dibayar itu sudah termasuk resiko di marahi atasan, dimaki maki orang banyak dan sebagainya…
Gitu aja kok repot…
June 6th, 2009 at 09:36
saya dengar omni dah dua kali memperkarakan pasiennya. kl g salah tahun 2007 omni memperkarakan seorang pasien yang tunggakannya lebih dari 500 juta, bukannya pasien tidak mau bayar tetapi rekam medisnya tidak ada. dan akhirnya pasien tersebut menuntut balik omni 5 Milyar.
June 6th, 2009 at 09:36
lha kuwi jawaban nya orang orang omni yaitu orang orang neoliberalisme.saya memang wong bodoh dan nggak punya.tapi lama lama kalau di peras harta dan nyawa saudara kami.nanti akan terjadi kasus 1998 kedua, obong obong punya nya neoliberalisme
June 6th, 2009 at 09:37
Emang udah keterlaluan tingkah rumah sakit dan dokter2 di indonesia. Saya bisa merasakan sendiri bedanya dengan di LN. kebetulan saya kerja di rumah sakit luar (TKI gitu lo). Waktu plg cuti tetangga saya di kampung di vonis dokter kangker otak. Abislah uang harta benda untuk berobat. karena orang kampung, kurang pendidikan, jg miskin, larinya ya ke tabib atau dukun. Krn kasihan saya belikan obat di apotik yg harganya tidak lebih dr 50rb. karena perkiraan saya sakit gigi bagian atas yg lebih dr 3 gigi, eh sembuh sehat sampe sekarang. Saya berdoa semoga sistem kesehatan di indonesia suatu saat nanti seperti di negara tempat saya kerja, pelayanan pada pasien bagus, dokter dan perawat standby 24 jam, dan yg penting gratis lagi…. hingga gak ada lagi korban seperti bu prita atau tetangga saya yg miskin itu. (sorry ya gak nyambung hehe)
June 6th, 2009 at 09:49
Kepada semua masyarakat Endonesia setanah air, saya atas nama Management OMNI memohon maaf atas kejadian ini. Terus terang saya sudah bayar mahal untuk nyogok Jaksa dan Mafia Mafia Peradilan buat menjarain Prita jadi kalo mau menghujat silahkan hujat aja ke orang orang yang sudah terima duit dari saya. Siapa suruh mereka mau terima……
Untuk selanjutnya sama mau menutup rumah sakit OMNI yang saya kelola karena saya sudah terlanjur malu dengan masyarakat Endonesia. dan akhirnya kita semua mau bunuh diri masal, tinggal minta suntik mati aja sama dokter2 saya, karena mereka memang ahlinya bikin orang mati……. yah kalo berobat 40% sembuh dan 60% mati lah…
June 6th, 2009 at 09:51
MAMMMPUSSS LUH DOKTER GRACE DAN KAWAN2…..!!! GUE MAH OGAH DIPERIKSA ELO… GUA CATAT NAMA ELO DAN KETURUNAN ELO…. SEBAGAI DOKTER SETANnnn…
Eh maaf gue jangan dipenjara ya
June 6th, 2009 at 10:01
Aparat penegak hukumnya aja yg goblok, pembuat hukumnya juga goblok, ga belajar filsafat dulu sebelum membentuk hukum.
Aparat di Indonesia menegakkan hukum sesuai dengan unsur-unsur di dalam pasal-pasal, kalo unsur tsb terpenuhi, langsung jeblos ke penjara. Kalo begitu ya kasih aja buku undang-undang ke orang yg ga kuliah hukum, ngapain capek2 ambil sarjana hukum atau master hukum, kalo pasal di langgar …vonis…! gampang khan..?
Aparat hukum kita malas, ga mau tahu, korup, gelarnya diperoleh karena menghafal mati-matian buku-buku hukum. Ga tau mereka bahwa untuk membentuk dan menegakkan hukum dibutuhkan filsafat yg mendalam, pengetahuan sosiologi, iptek, sejarah, pengertian & wawasan yg luas.
Hendarman Supandi itu adalah seekor tikus yg memimpin segerombolan kucing garong di kejaksaan, habis dia ditipu & dikerjai kucing2 garong, untuk menertibkan gerombolan kucing garong, seharusnya dipakai Jaksa Agung bulldog.
June 6th, 2009 at 10:12
IKH KLW JADI TATUT NEH KOMEN YG MACEM-MACEM. NTAR DIPENJARA GY
June 6th, 2009 at 10:12
Semoga kejadian ini bisa dijadikan pelajaran bagi semua bidang jasa di Indonesia untuk meningkatkan kualitas pelayanannya, dan lebih respect terhadap customer/masyarakat
June 6th, 2009 at 10:14
setuju banget dengan komentar semuanya…yg disesalkan mengapa ada UU ITE, seakan membatasi orang untuk berpendapat saja…padahal sekarang sdh jamannya bebas berpendapat, klo memang harus ada harusnya masukkan di pelajaran sekolah sebelum orang menyentuh yg namanya teknologi Informasi khususnya email…lama2 orang indonesia jadi gaptek semua..karena dibatasi dengan UU ITE..
RS Omni, bukannya pasien yang membayar anda..kok pasien digitukan heheh…harusnya bu prita tuntut balik tuh rumah sakit sdh memenjarakan anda….RS Omni gak mikir klo hal ini akan membuat pelanggannya akan lari…trus dokter2nya mau kemana…
Gak akan diterima di rumah sakit lain..heheh
June 6th, 2009 at 10:15
seharusnya OMNI lebih bijak karena bergerak dibidang pelayanan…dengan tidak menuntut balik, dan seharusnya jaksa lebih arief dan memakai hati nurani…dengan melihat kasus secara hati - hati….bila hati kian bersih berfikirpun slalu jernih…jiayo jiayo jiayo ibu prita
June 6th, 2009 at 10:19
Sebenarnya Direktur RS,sebaiknya adalah Ekonom (yg sdh lulus
training ESQ),tidak perlu seorang dokter. Dokter bekerja saja se
suai bidangnya,tak usah memikirkan management.Saya melihat
konsultan hukum RS OMNI,masih memakai paradigma lama,yaitu
berorientasi pd kekuatan/kekuasaan.Harusnya mempertimbang kan juga keadilan dan kebenaran medis.Bukankah para dokter-2
/tenaga medis lainnya di OMNI masih banyak yg kualitas nya bagus,apakah mereka harus juga jadi korban karena kekeliruan
satu dua orang tenaga medisnya? kan tidak adil juga kan? Keluarga besar saya,juga ada beberapa jadi dokter.Tapi klg saya pernah juga jadi korban dari sebuah rumah sakit,tapi kita
tdk mau ribut,harus diakui RS yg terlalu komersial memang ada.
Ibu Menteri,mohon diketahui dan ditindak lanjuti dg adil.
Wass,Djoko Iswadi .
June 6th, 2009 at 10:29
Cilaka….cilaka….apa yang di lakukan oleh RS OMNI adalah Blunder yang parah…ini akan jadi boomerang buat ente sekalian …ibarat fenomena gunung es..mungkn anda berjaya bisa memperkarakan pasien anda dengan sewa pengacara dan misalkan menang….tapi itu cuma view sebatas permukaan yang kecil aja…tapi yang di bawah laut ( efeknya ) sangat besar dan luas
1. Masarakat sudah ga percaya sama RS OMNI…mereka mikir apa yang di terima dan terjadi sama bu Prita bisa aja terjadi pada diri mereka, dan kalo semua masarakat sudah ga percaya…ga bakal ada yang berkunjung dan berobat di RS anda…
2.hasilnya anda akan bisa itung berapa kerugian yang anda terima dari semua ini, anda bankrut, karyawan anda di PHK, manajemen di rombak total….pemegang saham rugi….Image anda sudah hancur……ck…ck…ck ga ke bayang……
June 6th, 2009 at 10:34
rumah sakit yg baik bila ada pasien yg mengeluh di dengar kan keluhan nya.kerena kita akan profesional bila kita mau di koreksi orang lain dan di jadikan pelajaran buat diri kita agar lebih maju.yg kedua kita juga punya hak jawab,
apa yg di keluh kan pasien kita jawab secara profesional dan memberitahuakan secara lurus kepada masyarakat.
kemudian apa yg di keluh kan pasien kita perbaiki bila perlu kita panggil kembali secara baik baik dan kita gratis buat dia,karena koreksi dia membuat kita maju.dan membuat usaha kita hidup berkepanjangan.
sangat arogan sekali dan seperti hukum rimba bila ada orang yg koreksi kita terus orang tersebut kita penjarakan,apabila kita orang international yg demokrasi dan terpelajar saya yakin tidak akan melakukan itu.
June 6th, 2009 at 10:41
Mudah-mudahan ini adalah pelajaran bagi kita semua. Bijak dalam bersikap, jangan sampai kita mendzalimi. Lebih baik masing-masing pihka ishlah. Penyesalan kemudian tidak akan mengubah segalanya, kehormatan, harta, pangkat & jabatan tidak akan di bawa mati. Tapi nilai2 kebaikan/amal shaleh akan mengantar kita kepada KHUSNUL KHOTIMAH.
June 6th, 2009 at 10:43
Analisis yang sangat bagus, saya juga mengalami hal yang sama pada RS lain. Ada 3 hal penting yang perlu blogger perhatikan :
1. Sama-sama memboikot RS OMNI, setidaknya pembaca jangan pernah berobat kesana
2. Menuntut pembebasan Buk PRITA
3. Para pengacara kita bersatu untuk menuntut balik RS OMNI, Jaksa dan Polisi. Karena telah memenjarakan buk Prita. Jangan tanggung-tangung, tuntut saja 100 M atau 1 T.
Mari sama-sama kita saksikan Kuburan terbesar, yaitu Kuburan RS OMNI.
Salam Perjuangan
June 6th, 2009 at 10:47
Setuju, Kita Tuntut saja RS OMNI, biar bangkrut dia.
June 6th, 2009 at 10:53
Buat “karyawan omni” kelaitannya komentar anda tata bahasanya hasil konsultasi somebody ya??? konsultanya pengacara atau manajemen “omni”???
To be frank memang kasian karyawan yang nggak tau apa2 kalo OMNI bangkrut, tapi ya ini memang pelajaran moral bagi rakyat Indonesia yg jaman dulu katanya terkenal ramah dan toleran
June 6th, 2009 at 11:00
Saya memprihatinkan kualitas dokter kita sekarang.
Ini akibat dari program instant menjadi Dokter. Sejak ada program “non reguler, jalur khusus, kelas khusus” atau apalah namanya untuk masuk Fakultas Kedokteran, kualitas dokter yang dihasilkan menjadi sangat menurun, terutama moralnya.
Setelah menjadi dokter target pertama meraka adalah mengembalikan uang masuk awal yang jumlahnya sampai ratusan jutaan.
A’uzubillah minzalik
June 6th, 2009 at 11:12
suatu analisa yg bagus dan masuk akal. dalam benakku jika nanti pengadilan memutuskan pritatidak bersalah bisakah nanti prita nuntut balik karena telah kehilangan kebebasannya selama dalam bui dan telah kehilangan haknya tidak berkumpul dengan anak2nya
June 6th, 2009 at 11:30
saya kecewa pernyataan menteri kesehatan… katanya preman di balas preman artinya tindakan bu prita preman terus di balas omni dg preman juga…
sangat tidak setuju sekali apa yg di lakukan bu prita adalah preman..dia seorang pasien yg mengeluh kan pelayanan,dan keluhan tidak di tanggapi rumah sakit omni,terus dia keluhkan ke teman dkt nya lewat email apakah tindakan itu di sebut preman..
sebenarnya bu menteri ini membela siapa..wong cilik apa penguasa..
sebagai menteri yg membela harkat dan martabat wong ciik harus segera menegur secara tegas tindakan omni..karena pemerintah berdiri di atas kaki wong cilik.
seandainya menteri kesehatan di pilih secara demokrasi saya yakin bu menteri akan di jauhi rakyat.
June 6th, 2009 at 11:43
Setuju dengan ulasan anda,
Tapi mengakibatkan RS Omni Tutup atau Kehilangan Pasien?,
Sementara mungkin iya, tapi satu-dua bulan kedepan?
Ingat, memory orang Indonesia itu pendek, sebentar juga lupa, apalagi jika ada kasus menghebohkan lain yang muncul…
Ayo Ibu Prita atau siapapun yang tengah mengalami problem yang sejenis dengan Ibu Prita, mumpung momentumnya masih hangat, segeralah selesaikan…
June 6th, 2009 at 11:43
RS . internasional kok kalah pelayanannya sama puskesmas
June 6th, 2009 at 11:55
Good posting,
Seandainya, RS OMni punya analisa seperti ini pasti dari kedua belah pihak ( Ibu Prita & Pihak RS ) tidak ada yang dirugikan..
June 6th, 2009 at 12:13
Good analized..!!
Buat Forum Komunikasi bagi yang pernah mengalami hal yang serupa dengan Ibu Prita di RS OMNI INTL. dan susun “CLASH ACTION” ke RS OMNI INTL. Agar Ibu Prita dan yang lainnya mendapat Ganti Rugi yang layak dari RS. OMNI INTL.
June 6th, 2009 at 12:36
Wahai para Jaksa yg senang menyalahgunakan wewenang bersiaplah ..anda serta anak cucu anda akan menanggung akibatnya…jelas2 oknum jaksa yng terlibat narkoba malah dibebaskan.. tantantangan buat calon presiden mendatang bersihkan indonesia dr jaksa korup
June 6th, 2009 at 12:39
Mungkin maksud awal Omni hanya utk menakuti-nakuti pasien yng klaim dng gertakan akan dituntut,agar lain kali gak ada yng berani klaim lagi. Lha RS-nya lapor ke polisi. Polisi tahu siapa Omni, ya ditindak lanjuti sembari membayangkan guntingan kertas warna merah bertebaran banyak. Laporan cepat ditindak lanjtui,entah apa isinya, nanti kalau kurang (tdk P21) kan bisa digarap lagi. Lha kejaksaannya juga sama. Jurus yng dipakai sdh umum “kau nanti aku bui”, dng harapan ada duit dr bu Prita keluar. Eh ternyata gak keluar, ya terpaksa dipenjara. Ini yng diluar perkiraan orang kejaksaan dan kepolosian, begitu dipenjara semua orang bereaksi negatif. Baru mereka kelabakan.
Kita semua melihat di TV bhw aparat kepolisan, kejaksaan negri dan tinggi, saling lempar tanggung jawab. Kita lihat polisi mengatakan salahnya di kejaksaan, kita lihat pak Kajari mengatakan bukan salahku, saya disuruh Kajati, jaksa punya wewenang nahan dng tanpa alasan (tanpa mimik salah atau se-olah2 dia yng paling benar). Ini menggambarkan bhw tiga instansi tsb tahu apa yng dibelakang kasus ini. Saya pribadi menduga (sekali lagi menduga) bhw dibelakang kasus ini adalah ada duit yng beredar dikalangan aparat (–mohon maaf hal ini).
Dr kasus ini pelajaran yng dpt dipetik oleh kita semua : lembaga pelayanan hrs memberikan pelyanan yng baik, tdk sekedar mencari duit; aparat penegak hukum hrs bekerja dng dasar “demi Allah”, shg tdk mungkin berbuat dng dasar bukan keadilan, tentu termasuk takut bhw nanti akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah di akhirat.
Ajakan rekan2 utk patungan bila benar bu Prita disuruh ganti rugi, saya kira sesuatu yng baik.
Salam
June 6th, 2009 at 13:42
Menurut penerawangan ke depan, jangan harap RS OMNI INTERNATIONAL menang secara psikologis walaupun berhasil memenjarakan Ibu Prita, karena secara masyarakat luas udah ogah menginjak RS tsb. Udah buang duit, gak sembuh, keluar dari sana langsung masuk penjara. Siapa yg berminat ? Hayo daftar sama Mbah Dukun sekarang…..
June 6th, 2009 at 14:12
buat RS OMNI = anda MENABUR ANGIN and MENUAI BADAI . . . .
June 6th, 2009 at 14:20
Ini hasil koloborasi antara Lawyer yg serakah dan RS yg arogan, dan membuahkan hasil seperti ini. Lawyer tamak selalu akan mendorong RS arogan untuk menuntut dan menggugat pihak manapun dengan alasan melindungi “nama baik”. Padahal Lawyer amatir yg tidak bermoral akan sangat berhaya karena advise hukumnya pasti menyesatkan dan bisa menjadi bumerang ke kliennya sendiri. Pada saat kliennya mengalami kerugian sangat besar, sangat bisa dipastikan si lawyer tsb tetap bisa tidur nyenyak dan berharap lain waktu mendapat klien-klien arogan yg lain. Hal ini tidak akan disadari oleh RS tsb karena NURANI nya telah tertutup oleh arogansinya sendiri (RS Omni sebelumnya pernah menggugat pasiennya yg tidak sanggup melunasi biaya perawatan - berita Koran Tempo 6 juni 2009). Jadi berhati-hatilah memilih lawyer apabila kita mengalami masalah hukum dan memilih RS ketika kita sakit, karena jika salah pilih maka siap-siaplah menjadi pesakitan.
June 6th, 2009 at 14:33
mana sumpah jaksa dan sumpah dokter
June 6th, 2009 at 14:52
Sudah banyak contoh Institusi Pelayanan Publikyang bangkrut gara2 melakukan “bunuh diri sosial” spt RS OMNI
June 6th, 2009 at 14:55
sabar ya bu Prita degan ini allah menunjukan kebenaran.. jangan takut…, kebenaran menghilangkan segala ketakutan….. maju truss dukungan akan trus bertambah buat bu prita sekeluarga…
June 6th, 2009 at 15:12
Asik neeh pada nyumpah-nyumpahin…
Kyknya seru…
Mw ikutan seeh…
Tp takut dosa ama penjara…
Tp bagi yang seneng hujat-hujatan & nambah2 dosa ya monggo…
“LANJUTKAN”…!!!
June 6th, 2009 at 15:30
Saya baru saja mengikuti kasus ini.
Ibu Prita telah dimuat fotonya, supaya seimbang harus diungkap juga data dan pribadi “dokter horor” dalam kasus ini.
Untuk itu saya menuntut di muat fotonya “dokter Horror”, yaitu dokter Grace dan dokter Herman, yang sudah berani menuntut pasien. Biar masyarakat tahu bagaimna rupa dokter f\horo yang telah memenjarakan pasien.
Saya rasa menjadi dokter terikat sumpah. Tetapi sumpah telah menjadi sampah, dan dokter ini terseret oleh kepentingan modal.
Mohon bantuan teman-teman untk memprint semua ulasan yang ada disini, dicetak dan disampaikan tertulis kepada semua RUMAH SAKIT di Indonesia. Agar mereka juga belajar dari kasus ini.
Mohon bantuan para penulis, untuk mengumpulkan semua komentar kita, dan menjadikan ini sebagai buku pelajaran semua CALON DOKTER di Indonesia, di semua Fakultas Kedokteran di Indonesia.
Terima kasih.
June 6th, 2009 at 15:30
Dari dulu udah dibilangin kalau UU ITE itu parah, contentnya apalagi sosialisasinya. Tapi tetap aja “diresmikan”. Beginilah kalau negara gak mau dengar komunitas yang ternyata lebih ngerti masalah.
Kalau udah ada kasus kayak Prita gini, baru aja melek.
Satu hal lagi, dokter di Indonesia kayaknya “kebal” ama yang namanya tuntutan, apalagi cuma “sekedar” keluhan. Semoga pemerintah dan IDI bisa perbaiki semuanya, walaupun saya pesimis itu bisa dilakukan.
June 6th, 2009 at 15:40
ITU YG DI SEBUT TUAN MAKAN SENJATA………KESELEK LO
June 6th, 2009 at 16:07
Sabar & Tabah ya Bu semoga Tuhan Berserta Ibu dan Mslh Ibu dapat selesai dengan cepat shg Ibu dapat berkumpul dengan keluarga seperti sedia kala. selamat berjuang kami sangat mendukung Ibu.
June 6th, 2009 at 16:10
“Hanya Papan Nama, Omni Bukan Rumah Sakit Internasional”
Lengkapnya di tempo interaktif :
http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2009/06/06/fks,20090606-651,id.html
June 6th, 2009 at 16:25
setuju bangetttt
saja juga pernah menulis
kalau RS Omni mencemari nama baiknya sendiri
June 6th, 2009 at 16:35
=) Klo artikel ini di tulis di facebook, pasti icon jempol dengan tulisan “like” sudah saya klik =)
June 6th, 2009 at 16:52
ada yang tahu reputasi dokter2 itu sebelumnya di tempat laen….
June 6th, 2009 at 17:02
hahahaha
saya kerja di bagian customer care.
kalo ada keluhan di surat pembaca di koran pasti lgsg rame dan bos lgsg tanya kenapa nasabah bisa komplen gitu..
kebaikan kita melayani customer yg sama tiap hari gak akan diingat oleh customer itu.
tapi kalo kita berbuat yg tidak menyenangkan sekaliiii aja.. akan selalu diinget oleh customer.. itu sih my rule aja…
hehehe lah ini ada yg komplen malah di hajar terus sampe ke bui….
rs yg anneeehh……
June 6th, 2009 at 17:05
to: info@omnihealthcare.co.id, info@omni-hospitals.com
cc: rhnp@cbn.net.id
Rekan rekan seperjuangan saya mendapat alamat e-mail RSOMNI dan yang di bagian cc adalah pengacaranya,…silahkan di copy.
selamat berjuang Ibu prita kami selalu berdoa untuk anda dan keluarga,…
June 6th, 2009 at 17:11
Wah ..good analyze
Saya hanya menambahkan, bagi para penegak hukum, mungkin bisa bekerja lebih baik lagi, dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah
June 6th, 2009 at 17:28
kemerdekaan prita telah terjajah, dia diperas dgn biaya RS krn tidak jelas diberikan obat apa…dan dipenjara pula..apalagi hak anak-anaknya……akankah RS dan jaksa mencicipi penjara..????
June 6th, 2009 at 17:38
abstain aja deh……gw nggak tahu masalahnya secara mendetail, salah komentar bisa jadi fitnah ntar nya
June 6th, 2009 at 17:50
Setuju ama commentnya! Buat yg kurang paham Prita dijerat dengan UU ITE 2008, bisa liat di blog saya (sapa tau bisa nambah bahan pertimbangan buat ngasih komentar..hehe…)
http://christinasanger.wordpress.com
June 6th, 2009 at 18:06
Sejenak kita fikirkan bersama-sama,
Sy sedih lihat komentar2 yg muncul, sebagai orang yang “berilmu” (melek internet sudah pasti terpelajar dong) kenapa muncul komentar2 yg bahasanya tidak enak dibaca & terkadang sangat kasar.
Agama manapun mengajarkan: kalau kita ingin berkomentar terhadap suatu hal, hendaklah kita mengetahui duduk permasalahnya secara utuh dan menyeluruh, sehingga komentar dapat berguna utk orang lain yg & tidak menjadi fitnah bagi orang lain. kalau tidak mengetahui secara utuh & bisa mjd fitnah, mendingan kita diam aja.
dalam kasus ini pula, telah terjadi “penghakiman” oleh opini publik yg mengakibatkan kerugian buat orang/pihak lain, padahal KEADILAN yg hakiki adalah KEADILAN TUHAN, bukan publik atau hakim yg menentukan, apalagi orang indonesia (orang indonesia terkadang berkomentar berdasarkan EMOSIONAL, TIDAK RASIONAL & tanpa mengetahui duduk masalahnya secara utuh) akibatnya menambah ruwet masalah.
internet bukan dewa yang disembah sampai mengalahkan akal & rasionalitas kita, sehingga atas nama KEBEBASAN berpendapat kita bisa menyalahkan (atau berkeleluh kesah kali ya bahasa halusnya……..) orang lain tanpa bukti yg jalas & mengerti duduk masalahnya.
Internet akan menjadi haram kalau hanya untuk menebarkan isyu/kabar yg merugikan orang lain, tapi akan menjadi berguna kalau untuk ilmu pengetahuan & kebaikan bersama.
CABALAH PAHAMI INI…………..
dan hentikan pembahasan kasus prita (Prita & Omni mungkin sama2 bersalah, KEADILAN pasti TEGAK, siapa menabur angin akan menuai badai).
INTINYA: JANGAN MENGHUJAT atau MEMBANTU ORANG LAIN itu, berdasarkan mlulu EMOSIONAL, pakailah RASIONALITAS & coba pahami & mengerti dulu duduk masalahnya dimana.
Kapan mau maju INDONESIA Tercinta kalau orang “BERILMU” yg melek internet seperti ini aja pendapatnya emosional mlulu.
Mudah2 kasus PRITA VS OMNI menjadi pelajaran buat kita semua ya untuk lebih dewasa dalam memberikan pendapat kita, sehingga kita lebih dewasa dalam menanggapi semua persoalan & tidak menimbulkan persoalan baru.
Bayak hal lain yang lebih penting/berguna untuk dipikirkan & diselesaikan…….daripada BERGUNJING kasus PRITA VS OMNI.
INGATTTT: KITA SEMUA TIDAK TAHU PERMASALAHNYA SECARA UTUH…..HANYA KABAR2 YG BEREDAR, KEMUDIAN KITA NGASIH PENDAPAT, BETAPA JAHATNYA KITA KALAU KITA SALAH NGASIH PENDAPAT DAN MERUGIKAN ORANG LAIN
Terima kasih, semoga bermanfaat.
June 6th, 2009 at 18:39
probably RS-nya mendapatkan ill advise dr lawyernya, sehingga mengambil langkah yang diharapkan dapat memulihkan nama baik.
June 6th, 2009 at 18:50
Udh waktunya
Dokter asing masuk ke indonesia, klo bisa semua dokter baru dan lama diwajibkan praktek or ptt di papua minimal 6 bulan..biar timbul rasa sosial..
Udh wktunya para apoteker, mulai berani untuk mengatakan “obat ini tidak cocok dok, krn bla..bla” biar dokter juga terkontrol klo ngasih obat… Dokter bukan profesi dari manusia pintar, dokter juga bisa salah..
RS Omni betul2 melakukan bunuh diri sosial…hmmm dia yg nabur angin eh akhirnya nuai badai juga
June 6th, 2009 at 19:38
untunglah akhirnya kebenaran berbicara.
salam
June 6th, 2009 at 19:46
RS OMNI tidak melakukan analisa resiko terlebih dahulu sebelum menggugat. Kompetensi direksi dan lawyer nya sangat rendah sehingga mengambil keputusan yang ternyata impactnya sangat besar dan merugikan bagi perusahaan.
Kasian karyawan nya, sebentar lagi RS ini akan bangkrut.
June 6th, 2009 at 20:28
iparku bsyukur ga jadi pake dokter kandungan dsitu
aplg stlh ada kasus ini
[pdhl sblmnya smpet muji2 dokter OMNI]
apakah RS swasta = komersil??!
apakah sikap ramah mereka = tidak tulus??!
who knows …
June 6th, 2009 at 20:32
Wah mas amri d atas lawyernya OMNI ya?? Yg emosionalkan OMNI dan rekan2 yg dukung bu prita. Dgn emosionalnya OMNI menghabisin eks pasiennya dgn jerat hukum & balasannya seperti yg terlihat d postingan temen2 pendukung bu prita.
June 6th, 2009 at 20:45
rasanya gak lama lagi bangkrut tuh rumah sakit… salah ndiri….
June 6th, 2009 at 21:00
@ om amri …..
Meski kejadian ini terjadi di Eropa atau amerika…. tetap saja masyarakat akan merespon sama seperti di indonesia …. Om amri terlalu sederhana dalam berpikir ….. permasalahan Omni Vs Ibu Prita sudah sedemikian kompleks ….
@ Dr Asing …
dengan masuknya dokter asing tidak menyelesaikan masalah, malah timbul masalah, devisa kita akan semakin disedot oleh asing …. kita akan semakin menjadi bangsa terjajah secara ekonomi ….
@ OMNI
Permasalahan Omni ke Ibu Prita, bukan lagi masalah HUKUM … tetapi masalah OPINI …. Mestinya OMNI menyelesaikan nya dengan OPINI pula … dengan ILMU HUKUM Omni anda bisa aja menang, tapi OMNI Kalah secara ekonomi dan sosial …. ILMU KOMUNIKASI / SOSIOLOGI yang bisa menolong OMNI ….. Ingat OMNI, dibelakang anda tidak hanya pemegang saham, tetapi karyawan anda juga menggantungkan diri ke anda …
@ Bu Prita
Semoga permasalahan ini segera selesai bu, Tuhan tidak tidur … Tuhan selalu mendengar doa Ibu … saya doakan Ibu prita dan sekeluarga … terutama anak anak ibu, bisa lebih kuat dengan adanya persoalan ini …..
June 6th, 2009 at 21:50
untuk amri :
sok alim lo, so bener lo, so menggurui lo…
emang yang lo omongin bener ? paling bener ?
itu kan keyakin elo dudul !!!
wajar saja lah orang marah, emang begitu dasarnya…
jelas-jelas kedoliman dipertontonkan di depan mata …
elo kemana aja bung amri ????!!!!!…
nggak ada tv? gak ada internet ?
gak punya mata ???
atau emang lo gak punya hati ?????
tulisan elo juga subjektif … dan berpihak !!!
loe menangin OMNI … dan gw gak suka !!!!
gw doakan lo dapet adzab yang sama dari kelakuan buruk OMNI
karena lo ikut dukung dia !!!…
tai luh !!!
June 6th, 2009 at 21:50
GUA MAU MENCEMARKAN NAMA BAIK RS. OMNI NIH…
INI KAN BLOG JUGA.
COBA AJA TANGKEP AKU..
HAAAAIIIIIIIII SEMUAA….
RS. OMNI ITU PARAH, JELEK, NORAK.
DOKTERNYA KILLER SEMUA.
ORANG-ORANGNYA CUMA MAU DUIT DOANG.
JANGAN PERNAH ADA YANG DATENG LAGI KESANA YAH.
BIAR BANGKRUT SEKALIAN.
RS. OMNI = OM-OM DOKTERNYA SUKA ONANI..
HIIH. JIJIIK….
June 6th, 2009 at 21:51
saya suka bahasanya “Bunuh Diri Sosial”
mudah-mudahan kasus bu prita ini bisa jadi pembelajaran buat institusi yang lain.
respon apapun begitulah adanya … yaa begitulah yang ada di benak kebanyakan orang .. atau orang kebanyakan … orang seperti saya
June 6th, 2009 at 22:26
sy setuju kalau omni dalam menangani kasusnya bu Prita telah salah langkah yg pada akhirnya mereka sendiri yg terkena akibatnya yg sangat berat buat mereka, tp apakah masyarakat yg memberi komentar jg memahami permasalahan yg timbul antara Prita VS Omni ini secara menyeluruh, yg pada akhirnya berkomentar yg macam2, tapi pd akhirnya kita tahu karakter masyarakat Indonesia bagaimana sesungguhnya dari komentar yg muncul, ternyata masyarakat kita belum cukup dewasa untuk memahami & mensikapi permasalahan yg ada. yg dikedepankan hanya EMOSI tidak RASIONALITAS, baiknya kalau kasus kyk gini bener kata menkes (walau terkadang juga komentar menkes terhadap bbrp kasus sulit utk dipahami), cobalah ibu Prita memakai saluran yg ada (Kalau ada keluhan Penanganan Dokter ya ke MKEK/Majelis Kode Etik Kedokteran-kalau nggak salah ya singkatanya, dan kalau menyangkut pelayanan ya ke CS RS setempat/bersangkutan atau YLKI atau somasi kali ya, sehingga dapat diperoleh informasi yg jelas mengenai dimana ketidakpuasanya & dimana letak kesalahan masing2 pihak dan pada akhirnya bisa berguna utk perbaikan kita bersama dikemudian hari tapi bukan dilemparkan ke forum’milist dimana siapa yg salah dan benarnya belum jelas.
Sekarang semuanya dirugikan, @Ibu Prita & keluarga Jelas rugi (walaupun pd akhirnya menuai simpati, tapi kita kan belum tahu ibu prita ini benar atau salau, kita baru sebatas simpati atas hal yg dialami oleh ibu prita, maslah benar atau tidaknya kita lihat nanti perkembangan berikutnya). @RS Omni sangat2 rugi karena kesalahan langkah mereka ini, (yang katanya bunuh diri sosial, padahal mrk ini kan bisnis jasa, yg memerlukan kepercayaan dr customernya, brp biaya & waktu yg akan dikeluarkan RS Omni utk semuanya ini, tentu sangat besar, tp kalau mereka kepunyaanya konglomerat yg banyak duit sy nggak tahu yaaaaa,,,,,,tapi kasian juga karyawan2 RS Omni yg pasti akan sangat terkena dampaknya, begitupun keluarga karyawan ini). @masyarakat kita yang terlalu gampang mengeluarkan pendapat tanpa tahu masalahnya secara utuh, yg pd akhirnya menambah ruwet masalah (walaupun judulnya kepedulian sosial, iya kalau ngerti, kalau ngak tambah ruwet deh jadinya).
Terhadap orang pinter, mungkin sy dianggap terlalu sederhana dalam berpikir, tp saya rasa dengan kesederhanaan berpikir ini, sy mencoba untuk mengerti kenapa masalah ini timbul, layakkah kita berkomentar jika kita tidak tahu masalhnya secara utuh. Mungkin anda pernah tinggal diluar negeri, tapi cobalah kembalikan lagi pada pemikiran sehat & sederhana kita, layakah kita berkomentar, bahkan menjelekan orang lain, sementara kita belum tahu secara utuh permasalahanya bagaimana? Anda pernah dengarkan acara di Trijaya tiap kamis sore, dengan Live Exellence (jamil Azaini), kamis, tgl 4 juni kmrn, kalau nggak salah sy tangkapya (maaf kalau salah tangkap maksudnya): Orang eropa/amerika lebih banyak hidup dengan RASIONALITAS, tapi orang indonesia lebih banyak hidup dengan EMOSI dalam memandang persoalan.
Pada intinya: JANGANLAH KITA MEMPERDEBATKAN SUATU HAL TANPA KITA TAHU DUDUK PERMASALAHANYA SECARA JELAS ATAU ILMUNYA KITA KUASAI.
semoga pendapat pribadi sy ini bisa bermanfaat buat kita bersama.
Catt: saya bukan pengacara-atau ada kaitan dengan pengacara omni ya seperti kata Sdr Bebas diatas
Terima kasih
June 6th, 2009 at 22:28
Ngeliat tampang lawyernya OMNI bikin bete dech, tampangnya sama sekali nggak enak dilihat, hehehehe
June 6th, 2009 at 22:54
Sebentar lagi RS OMNI akan membuat iklan mengenai pengobatan gratis dan discount bagi yang akan dirawat untuk mencoba kembali meraih dan menarik kepercayaan masyarakat… Tetapi sayang, itu sudah sangat terlambat ….. RS ini sudah membuat lubang kuburan untuk mengubur dirinya sendiri.
Saya pribadi sangat mendukung langkah Ibu Prita Mulyasari untuk melakukan gugatan balik… Maju terus Ibu Prita… kami pasti akan mengawal setiap kemajuan dari proses pengadilan, dan saya yakin saat ini banyak pendekar hukum atau pengacara yang akan membantu Ibu Prita………..
June 6th, 2009 at 23:06
kebanyakan RS memang tambah pintar cari uang, seharusnya bisa rawat jalan biasa dibuat jadi harus rawat inap, apalagi sekarang banyak asuransi yg dipakai karyawan/ti, ga tanggung2 obatpun dinaikkan lebih tinggi dibandingkan bila kita berobat sendiri. apalagi bila saat perawatan inap, begitu byk pemeriksaan diagnostik yg sebenarnya tidak menunjang diagnosa pasien itu sendiri tapi tetap harus dilakukan karena rujukan dari dokter yang merawat. payah ya………………………………………………..
mungkin sebenarnya masih banyak kasus ibu prita lain yang terjadi, tapi personnya tidak mau ambil pusing ataupun ribut apalagi menjadi besar seperti ini.
semoga siapapun orang yg melihat kasus ibu prita ini akan mau berpikir dua kali dan bertindak sesuai hati nurani.
Memang apapun bisa kita lakukan di dunia fana ini, tapi di akhirat nanti, Tuhan pasti akan minta pertanggungjawaban dari segala tindakan yang kita perbuat.
June 6th, 2009 at 23:25
Ha,ha….
Gw sependapat dg Mr. Asbun, tp gw jg setuju dg Bung Amri…
Yang pasti pada kasus ini, keputusan Jaksa/Hakim terasa sangat menyentuh rasa keadilan di sebagian terbesar masyarakat Indonesia. Nah….masalah penegak hukum ini menurut gw merupakan masalah yg jauh lebih besar (lebih parah) dari kasusnya sendiri. Kalo aja penegak hukum kita profesional, jujur, adil… pasti kasus ini gak jadi kayak gini…
Ngerame’in aja ni….
June 6th, 2009 at 23:28
Omni….tidak akan pernah aku mengenal mu…..cukup sudah cerita ini membuat aku tahu sikap mu selama ini….Titik….
June 6th, 2009 at 23:52
tulisan yang sangat tepat menggambarkan kasus ini, tapi sebaiknya kita tidak terjebak untuk hanya menyalahkan institusinya, kita justru harus hati-hati pada oknum dokternya karena dia bisa praktek dimana saja dan melakukan hal yang sama di rumahsakit lain. kita harus waspada dan hati-hati terhadap dokter itu dimana pun.
June 6th, 2009 at 23:54
ke ponari salah … ke omni salah …
ke ponari ditegur ulama … ke omni dicuekin bu menkes …
heran kok penguasa cuma bisa dan berani ngatur warga sendiri. warga tamu disilakan bebas-bebasan … uaneh tenan
June 7th, 2009 at 00:42
Saya nggak akan kerumah sakit itu..bukan karena takut…
TAPI BENCI KARENA MENG-KASUSKAN IBU PRITA…
June 7th, 2009 at 00:49
@amri
diterima ajalah, anggap aja ini bacaan seru gratis
btw, saya punya ILUSTRASI sederhana tentang kasus pencemaran nama baik…
Biasanya, “pencemaran nama baik” yang berdasarkan FAKTA akan membuat pihak yang merasa “tercemarkan” menjadi kebakaran jenggot & berusaha sekuat tenaga untuk menuntut pihak yang dianggap “mencemarkan nama baiknya” secara hukum. Pada kasus ini seringkali korbannya adalah pihak yang lebih lemah seperti bu Prita (sy selalu mendukungmu)
Nah, contoh “pencemaran nama baik” yang benar2 “pencemaran nama baik” karena didasarkan pada isu/fiktif/gosip/cerita palsu biasanya lebih mudah diselesaikan dengan kekeluargaan atau adanya pemberian maaf dari pihak yang merasa dicemarkan nama baiknya. Mungkin kita masih ingat kasus pencemaran nama baik yang menimpa YTH. Bapak SBY (saya memohon maaf sebelumnya karena telah menyebut nama bapak, saya tidak memiliki niatan selain untuk bahan pembelajaran). Pada kasus tsb, selain pak SBY yang memang pemaaf, tidak menutup kemungkinan pak SBY juga tidak ingin berpolemik lebih jauh mengingat hal itu memang TIDAK BENAR alias BERITA PALSU yang hanya akan membuat capek & membuang waktu jika ditanggapi.
Mohon pencerahan jika lebih banyak kelirunya….
June 7th, 2009 at 01:58
“UNTUK AMRI”… seharusnya anda menulis tulisan anda untuk RS.OMNI krn pihak mereka lah yg m’ambil reaksi atas EMOSI DGN MEMENJARAKAN BU PRITA. EMOSI KRN TIDAK BS MENERIMA KRITIKAN, AROGAN, DAN MERASA SLALU BENAR…. SEBAGAI ORANG YG T’PELAJAR SEMESTI ANDA TAHU, DLM MENYIKAPI SEBUAH KRITIKAN ALANGKAH LBH BIJAK DAN T’PELAJAR BILA KITA M’JAWAB DGN KRITIKAN DAN M’PERBAHARUI SIKAP… TP APA YG DILAKUKAN OLEH RS.OMNI… KRN T’LALU T’PELAJARNYA (MGKN SEPERTI ANDA) MALAH MEMENJARAKAN PASIEN,,, SUNGGUH T’PELAJAR SEKALI…., DAN SEKALI LG, TULISAN ANDA HANYA PANTAS UNTUK RS.OMNI MENGENAI JALUR B’KELUH KESAH..Dlm kasus ini bu prita hanya menulis melalui email yg entah bagimana t’sebar ke khalayak…. SEPERTI KATA ANDA, SEMUA ADA JALURNYA… KRN T’LALU T’PELAJARNYA RS.OMNI (MGKN SEPERTI ANDA) MALAH M’PERKARAKAN ISI EMAIL… BUKAKNKAH SDH ADA JALURNYA M’BALAS KRITIKAN… BKN DGN TINDAKAN T’PELAJAR(MEMENJARAKAN),,,, APA ITU YG NAMANYA T’PELAJAR, LBH MEMENTINGKAN RASIONALITAS DR EMOSI…. MOHON ANDA JAWAB…. APAPUN YG DUDUK P’KARANYA… KECUALI BU PRITA TDK MEMENUHI KEWAJIBAN SBGAI PASIEN DGN M’BAYAR JASA, ATAU M’AMBIL ASET RS.OMNI(MALING) ,, BU’PRITA TDK LAYAK UNTUK DIPENJARAKAN,,,, JD KASUS INI SDH JELAS BKN… DISINI JELAS SEKALI SIAPA B’TINDAK ATAS DASAR EMOSI. DAN SEMUA YG DIATAS BERKOMENTAR/BEREAKSI ATAS EMOSI RS.OMNI DGN MEMENJARAKAN PASIENYA,,,, INILAH DUDUK PERMASALAHANYA…. SEMOGA ANDA YG LBH RASIONALITAS DR SEMUA YG DIATAS DPT MENGERTI… BETAPA RASIONALNYA SEMUA YG DIATAS BEREAKSI….
June 7th, 2009 at 04:45
OMNI tai…….
June 7th, 2009 at 05:49
aku sih hanya 1 kalimat …
BEBASKAN MBAK PRITA
June 7th, 2009 at 06:09
RS OMNI ALAM SUTRA….
memberikan layanan PLUS….
menginap di rumah sakit dengan “standar buruk”
PLUS menginap di “hotel prodeo”, jika mempertanyakan “standar buruk” ini.
hehehe
June 7th, 2009 at 07:34
really really stupid move… yah cuma bisa bilang selamat atas kebodohan yg dilakukan OMNI…
buat bu prita : bertahanlah.. dan berjuang.. SALUT…
June 7th, 2009 at 08:17
ho ho ho…
Coba UU Pelayanan Masyarakat sudah dibuat, menurut gw harusnya OMNI yang di tuntut, karena tidak mampu melayani pasiennya dengan baik, klo menurut gw, tuntut balik aja tuh OMNI, biar makin Panas Bah,,,
http://expedisi.com
June 7th, 2009 at 08:21
Semoga menyadarkan anda yg sok gengsi ,sedikit sedikit sakit saja periksa ke rumah sakit besar,padahal ada Dokter Keluarga disekitar rumah kita.yg lebih ramah dan enak untuk diajak berkonsultasi dan memberikan solusi,bayarnya lebih murah….
June 7th, 2009 at 08:46
Pengacara, manajemen OMNI, jaksa dan kepolisian cepat diperiksa tuh….. Mereka itu penjahatnya yang pantas masuk penjara, bukan bu prita!!!!!!!!!!!!!!
June 7th, 2009 at 08:47
tuk @ amri …
loe bego bro ….. kacian deh loe.
June 7th, 2009 at 08:51
tuk @ amri … warning !!!
loe tipe orang penjual ayat.
persis begini nih tingkah laku orang yang biasa ngejualin agama, kebenaran dan ayat2 Tuhan….
berlindung dibalik atas nama kebenaran dan keadilan
sementara dia sendiri tidak bisa adil “karena berpihak” .. alias conflict an interest…
heh kunyuk !!! … kelaut aje lo !!!
loe, yang nyadar diri tahu nggak loe apa yang loe omongin ??!!!
June 7th, 2009 at 09:17
pengadilan boleh menyatakan anda salah, tapi masyarakat luas menyatakan anda sebagai pemenangnya. bravo prita.
June 7th, 2009 at 09:29
Mental org Indonesia memang begitu.. mental SINETRON, yg selalu simpati pada sosok ibu rumah tangga yg lemah, punya anak, pake jilbab, tukang nangis, yg di zolimmi oleh kekuatan yg besar.. adi daya.. konglomerat.. kaya raya dsb.
Coba bayangkan klo korban OMNI itu sosok yg kebalikan dari itu; seorang laki2, sangar, bertatto, dan bujangan yg tidak punya tanggung jawab apa2. Apakah ada dukungan dan simpati sebesar itu? Sekalipun kasusnya sama persis?
Ada kejadian serupa yg sekarang msh di sidangkan, kasus Bpk.Kho Seng Seng. Kenapa ga dapat simpati yg sama ya? Apakah karena dia tidak memiliki kriteria yg sama spt Ibu Prita?
Bahkan capres (Mega dan JK) turut ambil kesempatan utk cari perhatian dng memanfaatkan moment “sinetron situation” ini utk mendulang suara dalam pemilu nanti.
June 7th, 2009 at 09:36
@ djaelani
informasi nya disampaikan yang utuh donk bro….
yang jelas bukan alasan karena ibu2 nya gwe dukung prita…\
yang jelas gwe ANTI SINETRON !!!
yang jelas bukan karena faktor lemah Vs kuat semata…
siapapun orangnya kalo emang sudah diberlakukan tidak adil harus kita bela, kita dukung…..
kasus yang elo bilang = bpk kho seng seng …
publikasikan donk…………. sampaikan yang benar info nya…
masyarakat indonesia ngga bego kok …
jika informasinya penuh dan benar pasti akan mendapat simpati dan dukungan yang sama …
seperti kasus prita ini.
June 7th, 2009 at 09:39
untuk @ djaelani …
loe harus mempertanggungjawabkan “justifikasi” elo terhadap seluruh masyarakat indonesia
yang loe anggap begitu :
” Mental org Indonesia memang begitu.. mental SINETRON, yg selalu simpati pada sosok ibu rumah tangga yg lemah, punya anak, pake jilbab, tukang nangis, yg di zolimmi oleh kekuatan yg besar.. adi daya.. konglomerat.. kaya raya dsb. ”
keluarkan informasi loe seutuhnya tentang kasus :kho seng seng
June 7th, 2009 at 10:09
@ rudy..
Masa sih anda tdk tahu? kan sdh ada di beritakan di salah satu TV swasta. Itulah makanya saya bilang, krn Bpk. Kho tdk memiliki kriteria yg sama spt Ibu Prita, makanya ga banyak yg tahu.
Singkatnya begini, Bpk.Kho menuntut haknya tp ga kesampaian dan mengeluhkannya di surat pembaca di media cetak namun malah kena tuntutan hukum dari lawannya itu. Hmm.. cari aja di google deh.. masa ga tau sih..?!
Ttg mental SINETRON di Indonesia? Masih inget ga cerita Megawati (PDIP) saat di zolimi oleh ORBA? Begitu membabi-butanya rakyat Indonesia mendukung Mega pada saat itu.
Mungkin Manohara juga bisa kali ya di jadi kan contoh..? tapi jangan ah… nanti pembicaraan melebar ke wilayah negara lagi… hehehe…
June 7th, 2009 at 10:11
http://www.republika.co.id/berita/54556/Kho_Seng_Penulis_Surat_Pembaca_Jadi_Terdakwa
Kho Seng Penulis Surat Pembaca Jadi Terdakwa
By Republika Newsroom
Kamis, 04 Juni 2009 pukul 21:59:00
Font Size A A A
Email EMAIL
Print PRINT
Facebook
Bookmark and Share
JAKARTA–Khoe Seng Seng alias Aseng (44), terdakwa dalam kasus pencemaran nama baik karena menulis surat pembaca yang mengeluhkan PT Duta Pertiwi, bersimpati dengan Prita yang juga terjerat dalam pasal yang sama.
“Saya sampai menuliskan surat berjudul `Mengeluh Pun Bisa Masuk Penjara`,” kata Aseng kepada Antara di sela-sela persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis.
Aseng menuturkan hal tersebut ketika ditanya tanggapannya tentang nasib yang dialami Prita Mulyasari (32) yang juga terjerat pada kasus yang sama yakni tentang pencemaran nama baik.
Menurut dia, merupakan hal yang “gila” bila seseorang hanya mengeluhkan tentang pelayanan suatu institusi atau perusahaan bisa menerima ancaman hukuman penjara.
Prita Mulyarasi merupakan ibu rumah tangga yang menuliskan surat keluhan tentang pelayanan RS Omni Internasional dalam bentuk email (surat elektronik).
Namun, email yang awalnya hanya untuk kalangan terbatas ternyata tersebar ke sejumlah milis sehingga membuat RS Omni mengambil langkah hukum.
Prita lalu diancam hukuman enam tahun penjara karena dijerat dengan Pasal 27 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), selain Pasal 310 dan 311 KUHP.
Alasan tersebut membuat Prita sempat menjalani tahanan di LP Wanita Tangerang sejak 13 Mei 2009, sebelum status Prita diubah dari tahanan rutan menjadi tahanan kota pada 3 Juni 2009.
Sementara itu, Aseng “hanya” dijerat dengan Pasal 310 dan 311 KUHP. Sedangkan ancaman hukumannya adalah satu tahun penjara dan masa percobaan dua tahun.
Aseng mengeluhkan tentang PT Duta Pertiwi terkait dengan hak guna bangunan (HGB) kios di ITC Mangga Dua yang dibeli Aseng dari perusahaan tersebut. ant/pur
June 7th, 2009 at 10:15
http://www.surya.co.id/2009/06/04/lagi-penulis-surat-pembaca-dituntut-di-pengadilan.html
Lagi, Penulis Surat Pembaca Dituntut di Pengadilan
Kamis, 4 Juni 2009 | 16:24 WIB | Posts by: Sugeng Wibowo | Kategori: Berita Terkini, Nasional | ShareThis
JAKARTA | SURYA Online - Khoo Seng Seng (44), dituntut di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (4/6), karena dianggap telah mencemarkan nama baik PT Duta Pertiwi, pengembang kompleks pertokoan ITC Mangga Dua, melalui surat pembaca.
Khoo mengirimkan keluhan melalui surat pembaca ke Harian Kompas dan Suara Pembaharuan pada tahun 2006. Khoo protes karena merasa dibohongi. Kios miliknya di lantai 2 ITC Mangga Dua ternyata tidak bisa dimiliki sepenuhnya karena bangunan ITC Mangga Dua berdiri di atas tanah Pemda.
“Sewaktu beli, saya tidak mendapatkan penjelasan status tanah ini. Tetapi saya mendapatkan sertifikat HGB, IMB, dan akte jual beli yang menjelaskan obyek yang saya beli terdiri dari tanah dan bangunan. Kenapa ketika saya memperpanjang HGB dinyatakan ini tanah Pemda DKI Jakarta?,” kata Khoo.
Khoo mengaku membeli kios ukuran 2,5×3 meter dari lelang Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan harga Rp 421 juta pada tahun 2003. Dan dia baru mengetahui status tanah yang sebenarnya ketika akan memperpanjang sertifikat pada tahun 2006. Status tanahnya bukan lagi Hak Guna Bangunan (HGB) tetapi HGB di atas Hak Pengelolaan Lahan (HPL).
Jumlah pedagang di ITC Mangga Dua sendiri hampir 3.000, namun yang tidak mau memperpanjang HGB sekitar 40 persen. Sedangkan yang memprotes sebanyak 20 orang.
Dalam pengakuannya di pengadilan, Khoo mengungkapkan alasannya mengirim surat pembaca karena ketidakpuasan, meminta masyarakat berhati-hati, apalagi setelah status tanah berubah menjadi HGB di atas HPL, bank tidak lagi mau menerima sebagai jaminan. clara wresti/kcm
June 7th, 2009 at 10:24
saya sependapat, kebanyakan di negara kita ini, belum menjelaskan perkara yang sebenarnya tapi sudah mempersoalkan perkara yang lain, biasanya dengan gugatan atas pencemaran nama baik, ini sebagai bukti bahwa layanan publik yang jelek, memang benar-benar jelek. Keluarga kami juga pernah jadi korban R.S. Saya rasa Omni kena batunya, jadi terbongkarlah layanan yang jeleknya, emang sebaiknya, bagi masyarakat untuk menggunakan fasiltas Puskemas, yang murah, aman dan ngak pake main gugat-mengugat….
June 7th, 2009 at 10:33
Come on, sue everybody here if you can………for their comments
Sue all the capreses too
June 7th, 2009 at 10:34
tuk @ amri
kelihatannya anda terlalu pusing untuk menanggapi persoalan di atas, anda mengakunya berfikir sederhana, kok jadi pusing sendiri..he..he, enggak perlu di lihat secara keseluruhan, kalo mau komen ya komen kalo nga yah diam aja…gitu aja kok repot ..he..he
June 7th, 2009 at 10:34
@ djaelani…
gw gak suka dibilang mental sinetron sama elo !!!
masalahnya gw gak punya TV
gak pernah nonton sinetron !!!
gak tau berita apaan di TV….
kalo internet setiap saat itu kerjaan gwe disitu
wajar sajalah orang kemudian interest ke kasus prita
dibanding kasus yang elo “tawarkan”…
elo sendiri kagak bisa “menjelaskan” … dudul loe !!!
gak usah nyari2 di google …. kasus prita juga gwe gak nyari2 !!!
elo nyuruh2 gwe googling !!! gak ada kerjaan aja….
kalo loe mau dibilang “bermental” sendiri…. dibanding mental sinetron masyarakat indonesia lainnya…
MAKA SEHARUSNYA LOE MENJELASKAN DUDUK PERSOALAN KASUS YANG ELO TAWARKAN….
JELASKAN DISINI !!!
June 7th, 2009 at 10:37
KEREEN !!!!!
Bravo Bu Prita
June 7th, 2009 at 10:54
mang betul, pelayanan rs sekarang emang payah, sy salah satu korban rs sakit ternama di ibukota ini, dengan perlakuan arogan akhirnya anak kesayangan kami, yg datang dengan kondisi masih sehat besoknya pulang dengan mobil jenazah, dan kemudian krn terus memikirkan anak yg meninnggal , istri kemudian menyusul setahun kemudian, berdalih pasien harus dirawat krn analisa dokter yg ternyata konspirasi semata, apakah mereka tdk berpikir gara2 ingin meraup keuntungan semata, keluarga saya sekarang tdk tersisa…..mang bejat dokter materilistis….??????
June 7th, 2009 at 11:05
So true, bunuh diri sosial..
But, aq ga bilang “naif” atopun “lugu” namun cenderung “emosi yang gegabah” akibat unsur arogansi, ga paham ntah ga sadar kalo pasien-customer adalah pemegang bargaining position yang lebih tinggi sebenarnya. Jadi walo judulnya RS international, pola pikir manajemennya masih udik; mengira pasien adalah inferior dan RS atopun dokter superior.
Sebenarnya banyak kejadian yang mirip di RS di Indonesia.
Kakak saya sendiri adalah juga korban di suatu RS di Palembang. Kami tidak mendapatkan penjelasan yg sejelas2nya mengenai penyakit kakak yang bertambah parah, namun terus diopname.. Bahkan tidak ada rujukan ke RS lain misalnya yang mungkin lebih mampu ato lebih lengkap peralatan medisnya. Ketika memutuskan untuk berobat ke negeri tetangga yang terus terang pelayanannya memuaskan dan mendapatkan penjelasan yg sejelas2nya mengenai penyakit kakak dan tentunya dengan tindakan yg tepat pula sesuai penyakitnya, kondisi kakak pun baikan.
Sedangkan kasus orang tua sahabat saya di Medan, keluarga pasien bahkan tidak diberitahu dokter ybs bahwa kondisi jantung pasien tidak memungkinkan untuk dibawa terbang, ketika keluarga pasien berencana membawanya berobat ke negeri tetangga. Akibatnya pasien meninggal. Akibat meninggal ini teridentifikasi dan dijelaskan di RS negeri tetangga tsb.
Sudah waktunya baik RS maupun di dokter2 di Indonesia untuk membenahi cara berpikir dan bertindak atas nama kepentingan dan kesembuhan pasien-achievement oriented (maap, bukan atas nama komersialisasi: duit-profit oriented smata, karena ga kan pernah sustain-berkelanjutan) atau.. mereka bakal ditinggal pasien karena sudah tidak dipercaya lagi.. Kalo sudah begini, apakah mereka juga bakal mengeksploitasi pasien miskin, daripada tidak ada?? wake up!!
June 7th, 2009 at 11:37
ya sudahlah, mungkin ini cerminan masyarakat indonesia yg melek informasi internet tapi belum matang secara mental untuk mensikapi suatu persoalan muncul, pada akhirnya ketahuan kualitas mental mereka bagaimana.
memangnya kata-kata yg kasar & hujatan akan menyelesaikan masalah?
tidak ada unsur menjual ayat dr kitab suci manapun atau dalih agama apapun, yg perlu diingatkan.
Orang kita sih biasa,,,,,,,hanya berani ngomong di belakang, giliran di suruh ngasih pendapat di forum resmi atau ilmiah, pada diem deh……….
sekali-dua kali diingatkan, tidak ada tanggapan, ya sudah, nggak usah emosi an lah, masih banyak urusan & pekerjaan lain yg bermanfaat …………. (Demokrasi kan mengajarkan suara terbanyak adalah yang menang & suara rakyat terbanyak adalah suara TUHAN ya ……. tanpa sadar suara terbanyak tersebut benar atau salah ya, mungkin suara terbanyak itu cerminan emosi aja ya ……… Kebenaran yg sesungguhnya adalah kebenaran dimata TUHAN YME & pasti akan terungkap, kalau tidak di dunia ya diakhirat)
Buat ibu Prita: saya bersimpati atas apa yg ibu & keluarga alami, mudah2an ini menjadi pelajaran untuk kita semua dalam menentukan tindakan or melakukan sesuatu dan dengan kasus ibu ini, kita jadi mengetahui bagaimana respon masyakat & implikasinya buat masyarakat.
Pada intinya: JANGANLAH KITA MEMPERDEBATKAN SUATU HAL TANPA KITA TAHU DUDUK PERMASALAHANYA SECARA JELAS ATAU ILMUNYA KITA KUASAI.
Semoga ada perbaikan di sistim pelayanan kesehatan & Pengadilan di Negeri Indonesia ke depanya.
Singapura atau Malaysia mungkin akan senang melihat kejadian ini, alamat banyak pasien INDONESIA yg akan berobat ke ke-2 negara tersebut. tapi buat yg tidak mampu, akhirnya tetap berobat di Indonesia yaaaa…………
June 7th, 2009 at 11:44
setuju aja ama pendapat om amri deh
Turut simpati sama ibu Prita
RS Omni, semoga ada perbaikan
Buat semua: Mau dikemanakan kedokteran indonesia, kalau dokter2nya di hujat mlulu, makanya kalau nggak setuju ama dokter, minta second - third opinion aja atau kalau tidak ya ke MKEK (kata Ibu Menkes) atau IDI kali ya…..
Haloooooo IDI………………….
June 7th, 2009 at 11:49
wow…ikutan komen ah….ga macam2 koq….menurut saya “pasien” berhak tau penyakit apa yg dideritanya, dan dokter harus menjelaskan se jelas2 nya, mbacain hasil lab nya di depan pasien, penerangan ttg penyakitnya dan cara penanggulangannya…. Nanya nee untuk RS OMNI Internas…punya Medical record administration ga? masak hanya mbuka file pasien aja make di tunda2?
” Prita harus masuk bui hanya karena selembar imel…..”
rasanya aneh buanget…..ndak masuk akal.
Untuk Amri : koq anda ga jelas gitu…mana dunk blog anda? takut dikomentari yg seru2?
Gentle dunk..brani komen brani dibuka blog nya
June 7th, 2009 at 12:05
kpd semua yg berkomentar coba melihat permasalahan yg jernih dan jelas spt kata presiden sby maka dari itu lihatlah scr proforsional mgkn pihak r s ada salah begitu juga ibu prita biarkanlah hukum yg memutuskan jgn opini publik yg menentukan
June 7th, 2009 at 12:06
Luar biasa tulisannya .. btw, setuju dengan wieda, mana blognya?
June 7th, 2009 at 12:09
Siapa yang dirugikan dengan kasus ini.
1. Ananda Pritta Mulyasari dan keluarganya yang teraniaya akibat akan menyelamatkan orang lain dari tindakan yang menurut dia tak pantas diterima oleh seorang pasien.
2. Para pengguna internet/blogger/e.mail dan mereka yang ingin memberikan kritik dan kontrol pada “penyimpangan” pelayanan masyarakat.
3.Seluruh rakyat Indonesia yang ingin menegakkan demokrasi Pancasila dan melawan neolib/ ketidak adilan.
4. Para dokter yang mengabdi pada kesehatan untuk masyarakat, khususnya mereka yang dedikasinya tinggi.
5.Rumah sakit yang benar-benar tak sekedar mencari keuntungan melainkan mementingkan pelayanan kepada masyarakat.
6,Wakil rakyat, para penegak hukum dan pemerintahan yang kini berkuasa Apakah keadaan seperti ini akan dilanjutkan, tak dikoreksi bahkan jika perlu dihentikan?
Jika masalah ini dilanjutkan dan tak segera dikoreksi atau dihentikan. akibatnya krisis kepercayaan terhadap para wakil rakyat dan pemerintah, ini sangat berbahaya.
June 7th, 2009 at 13:06
anda semua mungkin mengenal dgn apa yg disebut “work of mouth”
sebuah survey membuktikan bahwa konsumen yg kecewa akan bercerita 4x lebih banyak ke org lain dr pada konsumen yg puas..
jadi benar dengan apa yg dikatakan o/ blog ini RS.OMNI tgl menunggu ajal..
coba anda bayangkan berapa puluh ribu pendukung bu Prita..apa jadinya bila puluhan ribu orang tersebut bercerita ttg ini ke 4 teman atau saudaranya…tentu angka tersebut akan menggelembung..
apa yang dilakukan OMNI seperti membunuh lalat dengan granat…
lalatnya tidak apa2 tapi rumahnya yg hancur lebur…
kiranya dukungan teman2 terhadap bu Prita tidak berhenti sampai bu Prita bebas dr sel saja…tapi terus sampai kasus hukumnya selesai…ini bukan hanya membela seorang “ibu yg sederhana” atau membela sesama anggota komunitas cyber tapi membela hak kita semua sebagai konsumen yg selalu diperlakukan tidak adil oleh produsen
bangkrutnya OMNI adalah suatu milestone dari perjuangan konsumen….dengan kebangkrutan OMNI,diharapkan semua produsen(dr bidang apa pun) mengambil pelajaran dalam memperlakukan konsumen…
untuk masalah OMNI VS PRITA…bravo PRITA
June 7th, 2009 at 13:09
Sebenarnya kasus Prita v.s dr yang merawatnya dan RS Omni merupakan teguran bagi dokter-dokter yang “kurang ramah” dengan pasien dan menganggap pasien tidak tahu apa2 ttg medis hanya mereka yang paling tahu. Ingat Internet telah memberikan sumber informasi yang hampir lengkap mengenai penyakit dan cara penanganannya jadi adalah wajar bila pasien ingin memperoleh kejelasan mengenai treatment yang diberikan kepada mereka. Tolong perlakukan pasien seperti pelanggan yang akan kembali membeli jasa anda bila pelayanan memuaskan. Saya salut dengan dokter dan rumah sakit yang sudah Friendly dengan pasiennya sehingga pasien menjadi nyaman dan terbuka dan para dokter juga mudah mendiagnosis penyakit yang di derita pasiennya… sehingga kasus “malpraktek” bisa berkurang…
June 7th, 2009 at 13:20
satu lagi yg mengganjal dalam hati saya…
berbarengan dengan kasus bu PRITA ada 1 kasus lg ttg penulis surat pembaca thd pengelola MANGGA DUA…
yg jadi pertanyaan ? kenapa kasus prita bisa menggalang begitu banyak simpati n dukungan sedangkan kasus ini diam semua…
apakah simpati n dukungan kita masih dibatasi oleh SARA….dengan mata telanjang kita bisa melihat perbedaan mencolok dr 3 terdakwa di 2 kasus ini…tapi sekali lagi mereka semua itu sama seperti kita….sama2 konsumen yg selalu dirugikan n mencari keadilan…
tapi kenapa kita diam seribu bahasa terhadap kasus yg satu lagi…
sedangkan untuk ibu Prita kita berbicara sampai mungkin OTOT leher menonjol…………
mungkin walaupun sudah “intelek” komunitas cyber kita masih membeda2kan SARA dalam bertindak atau menaruh “simpati”nya.. WALLAHUALAM..
mudah2an sih ga begitu….jadi kesimpulannya kita sebagai sesama warga Indonesia N sesama KONSUMEN harus membela n bersimpati terhadap perjuangan konsumen mana pun yg “teraniyaya” tanpa memandang unsur SARA
ayo kita bersatu memperjuangkan HAK KONSUMEN
KONSUMEN ADALAH RAJA yg BERKUASA ATAS JONGOSnya(baca: PRODUSEN)
June 7th, 2009 at 13:39
@ignatius hadi: setuju saya dengan pendapat anda…
sedikit tips dari saya bila berkunjung ke dokter:
1.googling n cari info sebanyak2nya ttg penyakit atau gejala2 yg anda rasakan sebelum ke dokter.
2.buat rangkuman kecil ttg semua info tsb…gunakan data dari rangkuman anda untuk tanya jawab dgn dokter
3.bila anda sudah mengetahui akan berkunjung ke dokter mana…ada baiknya anda googling nama dokter n RS tsb..untuk mencari info ttg track recordnya
4.bila anda mendapat resep suatu obat ada baiknya anda googling lg ttg obat itu…apa kegunaannya, efek sampingnya dll
5.gunakan kolom tanya jawab yg banyak ada di Inet untuk mencari 2nd opinion.
lima langkah ini sdh sy terapkan saat ini krn pcar saya pun skrg sdg menderita penyakit n harus bolak-balik ke RS
dokter yg merawat pasien saya pun awalnya tipikal dokter kolot yg menganggap pasien “BODOH” tapi sekarang dia menjadi terbuka karena dia tau yg di hadapi bukan orang BODOH tp “dokter” lulusan GOOGLE…. HAHAHAHA
June 7th, 2009 at 13:44
Apa yg dilakukan RS OMNI ( Ohh..Mau..Nipu ).. ya! sgt kontraproduktif dan tidak manusiawi. Adalah mjd hak pasien utk mengetahui apa penyakit dia dan jenis perawatan yg diterimanya, saya percaya bahwa para dokter RS Omni itu tau krn itu masuk dalam kode etik kedokteran. Tapi kayaknya jajaran managemennya diisi oleh TUKANG PUKUL dan PREMAN yg mikir untung saja. Tidak salah mencari untung tp harus dgn cara yg ber etika, pasien tidak begitu mempermasalahkan biaya selama perawatan yg diberikan berkualitas, profesional dan bertanggung jawab. Salah satunya adalah berikan informasi yg sebenar2nya, bila terjadi satu kesalahan ( ada semacam komisi yg akan menilai dan memutuskan apakah terjadi kesalahan medis ato tidak ) bisa dibicarakan baik2 dg keluarga pasien bukan main hantam bgt saja. RS merawat manusia bukan benda mati yg bisa diprlakukan semaunya. Oki berhati2 dan teliti dalam diagnosa dan tahapan perawatan, dan tidak kalah penting adalah komunikasi 2 arah. Cabut tuduhan kpd sdri PRITA dan bebaskan dari segala tuduhan kalo tidak anda sudah menzaliminya sebanyak 2 kali dan anda ( RS )tidak dapat untung apapun justru anda rugi 2 kali dan nama anda tetap RS OMNI ( Oh..Mau..Nipu.. ) ya!! ato ( Oh.. Memang..Nipu..) to!!
June 7th, 2009 at 13:55
ini suatu analisa yang briliant…, memang betul ini adalah BUNUH DIRI buat OMNI…, kasihan deh , ternyata OMNI punya management (crisis center) yang sangat ” NAIF, LUGU, POLOS, BLOON, BLEGUG DEBLUK dll” . Pesan saya tolong management & pengacaranya jangan sampai DENGKUL nya kebentur….nanti TAKUT GEGAR OTAK…, soalnya OTAKNYA DI DENGKUL…..
It’s realy realy realy realy BUNUH DIRI SOSIAL yang 100 % akurat….akurat guobloknya….
June 7th, 2009 at 13:56
SAY NO to OMNI…….
ntar komplain malah dipenjara lageeeeeeeeee………..
June 7th, 2009 at 14:20
Suatu potret menyedihkan dan memilukan bagi bangsa kita yang sdh 64 tahun merdeka….
Betapa mendapatkan pelayanan kesehatan merupakan suatu hal langka dan mewah…jadi tidak heran pasiennya PONARI bejibun…kerena berdesak2an malah ada yang pingsan bahkan mati berdesak-desakan demi menggapai kesembuhan… nasib…nasib menjadi rakyat kecil…
Semoga dengan kasus Prita ini membuka mata hati dokter-dokter dan penegak hukum yang tidak “punya nurani”…
Hidup Prita!
June 7th, 2009 at 14:24
Sebenarnya yang perlu dilakukan sekarang adalah OMNI meminta maaf kepada Ibu Prita dan seluruh masyarakat, urusan suap menyuap itu masalah lain yang harus diselesaikan secara hukum. Paling ngga masyarakat tidak merasa kawatir lagi dengan pelayanan OMNI.
OMNI segera minta maaf, jangan jadikan karyawan2mu korban dari ego …..
June 7th, 2009 at 14:46
Ulasan dan judul yg tepat dan bagus. Terlepas dari pro atau kontra, kasus ibu Prita dan RS Omni sebenarnya merupakan kasus hukum yg sederhana namun terdapat pelajaran yg luar biasa bagi pembuat UU, penegak hukum, institusi pelayanan dan masyarakat Indonesia yg kini semakin cerdas dan melek hukum. Sebenarnya ketentuan mengenai “pencemaran nama baik” didalam hukum pidana merupakan pasal karet dan isu yg sudah tidak populer lagi di negara-negara demokratis lain, bahkan di Belanda, negara kelahiran hukum pidana kita telah dibatasi hanya untuk orang atau kelompok yg menebar kebencian & diskriminasi, namun itupun hanya hukuman denda saja. Oleh karenanya seharusnya penegak hukum kita lebih hati-hati menggunakan ketentuan “pencemaran nama baik” karena disisi lain konstitusi kita menjamin kebebasan berpendapat. Untuk itu selama ada kebenaran (bukan fitnah) dalam suatu opini seharusnya aparat hukum tidak gegabah dan serta merta mengenakan ketentuan/pasal tsb apalagi melakukan penahanan karena jelas ini akan mencederai rasa keadilan masyarakat. Selanjutnya kedepan berharap ada revisi atas ketentuan UU ITE, setidaknya ada Peraturan Pemerintah (PP) yg menjelaskan batasan lebih lanjut pasal 27 ayat (3) sehingga tidak menimbulkan multi tafsir mengingat sangsinya cukup berat, dan kepada aparat hukum dalam melakukan penegakan hukum sebaiknya mengedepankan keadilan dengan HATI NURANI, disamping membuktikan kebenaran hukum itu sendiri dengan cara yg benar. Kita sebagai masyarakat “penonton” baik yg mengerti hukum maupun yg awam, baiknya sama-sama melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap proses hukum perkara ini (kalau perlu datang ke Pengadilan dan tidak anarkis) agar keadilan benar-benar dapat ditegakan, terlebih MA telah mengingatkan hakim harus hati-hati dalam mengambil keputusan dalam kasus “pencemaran nama baik” seperti dialami ibu Prita.
June 7th, 2009 at 14:58
Agak setuju dengan @rudi
kita memang agak pilih-pilih ya … (kelihatannya) …
tapi, mau gimana lagi, akses informasi yang kita dapatkan tentang kasus yang lain begitu terbatas. Beruntunglah bu prita (karena curhatnya ke NET. Coba semua kasus yang berhubungan dengan khalayak banyak juga tersebar di NET dengan indahnya.
Yakin dah .. Banyak pendukungnya.
Biarpun begitu saya juga sudah pernah mendukung (mendukung dalam hati, karena ngga bisa bantu apa-apa) dalam kasus bu Sisi Chalik.
http://blog.nusinau.com/pengadilan-kabulkan-gugatan-korban-malpraktik/
Kesimpulannya sih .. kita (orang indonesia kebanyakan) tidak adil dengan sesama (termasuk saya) .. Pilih-pilih klo mau mendukung keadilan.
Selama kita seperti itu. Saya yakin dunia kesehatan indonesia (ataupun bidan lainnya) juga akan mengalami hal buruk yang hampir serupa berulang-ulang.
Mari berubah !! … amien.
June 7th, 2009 at 15:06
Mulai sekarang ayo kita ke RS OMNI dan kita bakar habis borjois kapitalis seperti ini . Ganyang antek antek NEOLIB.
June 7th, 2009 at 15:11
Semua baru komentar Nantinya. Aku ngga akan ke Omni ! Jangan ke Omni, nanti bisa masuk penjara di denda lagi !
Tapi gimana yaa .. mereka yang udah terlanjur masuk Omni, alias saat ini sedang rawat inap. Udah lagi sakit, badan lemes, pikiran pusing, napsu makan kagak ada, buntut2-nya bakal masuk penjara, kena denda atau kalau Jeng Prita bener, dikasih obat yang salah biar tambah parah and tambah lama nginenya. Toh semua ada yg bayarin. Pasinnya sih emang ngga bayar, tapi kan ada Askes yang akan nombokin.
Kasian juga kan, mereka yg saat ini sedang rawat inap. udah stress mikirin penyakit ditambah stress resikonya. Mau pindah rumah sakit, ngga punya doku untuk bayar, krn cuman RS itu rujukan asuransi. woow …
June 7th, 2009 at 15:27
Saatnya Undang Undang Perlindungan Konsumen dijalankan dgn sebenar2nya. Slama ini undang2 itu sudah ada tp blom dimaksimalkan shingga ribuan kejadian yg merugikan konsumen tak terselesaikan.
June 7th, 2009 at 15:42
dari segi strategi promosi RS Omni benar-benar bodoh, kejaksaan mau juga ngaku bodoh asal cocok, polisi pun mau ikut dibodoh-bodohi…. dan akhirnya namanya orang bodoh ya tetap bodoh, karena bodoh itu dekat dengan arogan, tidak berpikir waras, serta tanpa pertimbangan….. selamat bu prita……..
tolong titip tuntutan balik ke RS Omni, agar RS Omni ditambahan namanya RSJ Omni Internasional, Kejaksaan tambahin juga dengan “j”, & polisi tentunya juga ditambahin “J”…………….
June 7th, 2009 at 15:44
tuk @ amri….
“Pada intinya: JANGANLAH KITA MEMPERDEBATKAN SUATU HAL TANPA KITA TAHU DUDUK PERMASALAHANYA SECARA JELAS ATAU ILMUNYA KITA KUASAI.”
Loe nongol dan ngoceh disini artinya loe lagi ikutan “memperdebatkan” …. so, jangan sok suci loe !!!!
June 7th, 2009 at 15:58
ADUH…..PENGEN DEH KOMEN TENTANG RUMAH yang Sakit itu…… tapi….. nanti aku dipanggil jaksa juga nggak yah…… Anyway… dukung Prita, LANJUTKAN……(pinjam kata ini ya Pak….)
June 7th, 2009 at 16:02
Wah yg ditulis penulis di opini itu sudah standard yang seharusnya dimengerti oleh perusahaan penjual jasa.semacam RS.OMNI ini,,
Konon Ibu Menkes bilang dimedia kemarin bahwa RS.omni izinnya belum standard Internasional..cuma dia pakai nama internasional..ini juga namanya penipuan publik tuh..
apalagi para pembaca menjelaskan apa itu marketing Horizontal ,apa itu damage control..dll…yakin deh..ORG2 rs.omni kagak bakalan ngerti..dasarr guoblokkkk buka rmh sakitt.
hari gini masih milih RS Omni…..heheheheh Sorry la Yauww
June 7th, 2009 at 16:10
Rs yg aneh orang mau cari sehat malah di sakitin ,di penjara pula???ihhh..jdi takut nich..salah nulis…
June 7th, 2009 at 16:32
dari case mbak Prita ini Konklusinya adalah PUBLIKASI adalah jalan yang paling ampuh untuk mengangkat problema mampet ke permukaan. Setelah tidak mendapat respon yang diharapkan dan jawaban yang berbelit2, memang jalan me-PUBLIKASI-kan persoalan jauh lebih efektif!…seperti case yang lain, misal customer care dari perusahan elektronik, jasa perbankan etc. yang begitu ada surat pembaca langsung menindak lanjuti (meski ngga lapor polisi untuk memenjarankan orang yang komplain itu).
GO AHEAD MBAK PRITA… juga untuk “prita-prita” yang lain
June 7th, 2009 at 16:33
MAJU TERUS !!
June 7th, 2009 at 16:34
Test
June 7th, 2009 at 17:29
untuk rumahku gak di sekitar BSD
June 7th, 2009 at 17:37
kasus prita adalah sebuah bumerang hukum kesehatan bagi para provider kesehatan (baca termasuk rumah sakit, dokter, perawat dll) yang dilemparkan pertama kali oleh mbak/ mas ………………(maaf gak kusebut namanya, salah- salah ikut jd tergugat ihik.ihik…..)
June 7th, 2009 at 17:37
Kenapa harus tahanan kota ya, padahal mau lari juga kemana ? lha wong yang disakiti kok malah mau lari. Wah hukum negara kita lucuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
June 7th, 2009 at 17:42
update info bagi yang lom baca :
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/06/04/11360027/sidang.prita.hanya.20.menit.jaksa.langsung.pergi
June 7th, 2009 at 17:43
test
June 7th, 2009 at 18:15
klo duit udah bicara jaksa udah lupa tugasnya…
kan yg ptg duit oh duit
June 7th, 2009 at 18:18
@ nono
baru tahu hukum negara kita lucu mas nono?
Gw cinta indonesia
tapi TIDAK pemerintahannya .. koruptor.. tikus busuk.
selama pejabat 2 kita masih kayak gini indonesia tidak akan GW tekankan yah TIDAK AKAN maju… mundur iya.
dah kasus 2 seperti diatas pasti akan banyak terulang kembali
June 7th, 2009 at 18:57
tak doakan bu prita segera bebas dan berkumpul sama anak2nya. dan untuk OMNI yang sok dan arogan, semoga anda segera dicabut ijinnya, dan karyawannya pengangguran semua biar jualan dipinggir jalan aja. dan Jaksanya semoga anda cepat dicabut jabatannya dan cepat jadi pengangguran juga. Ingat ya ….hukum ALLAH itu tidak bisa dihindari, tidak akan lama lagi keluarga jaksanya siap-siap terkena bencana yang akan lebih besar
June 7th, 2009 at 19:06
blog yang keren “bunuh diri sosial” untuk RS. Omni anda telah menabur benih kebencian kepada rakyat kecil yang berharap setetes sikap bijaksana dari tempat anda. untuk aparat penegak hukum kita dan aparatur pemerintahan yang menangani kasus mbak prita ini marilah pakailah “rasa” dari hati nurani yang terdalam bagi orang-orang yang tertindas bersikaplah lebih arif untuk memandang permasalahan itu tidak dengan dari sisi materi “mohon maaf saya yakin tidak semua begitu” alangkah indahnya dan bahagianya bila keluarga-keluarga anda dirumah tersenyum setiap saat bila melihat anda selalu bijaksana dalam bersikap tanpa harus terus merasa takut dihujat teman atau lingkungan disekitar anda. semoga TUHAN membuka hati nurani anda semua. amin.
June 7th, 2009 at 19:17
tidak berfikir panjang…kerugian OMNI akan melebihi apa yg dituntut..siap-siap aja gulung tikar, banyak rumah sakit yang lebih bagus pelayanannya…dukung terus ibu prita yg telah dizolimi haknya sebagai konsumen…
June 7th, 2009 at 19:57
itulah bukti kesaktian DUIT,ujung dari semua ini adalah DUIT,sekali lagi DUIT,,,,,,,,,,,,,,!!!!!! sudah akh ntar aku kena PASAL takut akkhh,ada anak istri di rumah.
June 7th, 2009 at 20:23
Yang terpenting dokter2 dan pihak2 di RS OI yg terkait mslh ini yg harus diwaspadai.
Dokter2 yg brmasalah tsb skrg saja praktek jg di RS lain.
June 7th, 2009 at 20:52
Bravo Bu Prita, saya dukung perjuangan kamu mudah2 an semua melihat siap yang benar dalam kasus ini knp kejaksaan bisa keterpihakan pada sisi lain dan sy sayang kenapa lembaga konsumen kita diam aja yah….
June 7th, 2009 at 20:53
Hai ya, lu olang-olang jgn buanyak omong lah, nanti uwe pake duuit tangkap kamu olang2, uwe buanyak duuit bisa kasih pengacala, polisi, jaksa buat tangkap kamu2 olang, jangan sembalangan omong ya, nanti uwe suntik mati yaa, kalo lu olang2 datang kelumah sakit OMNI yaaa.
June 7th, 2009 at 20:58
Dari kasus ini mungkin salah satu hikmah yang perlu kita ambil adalah perbaikan pendidikan dokter. Kalau dokter spesialis tampaknya sudah mulai membaik dengan sistem ujian nasional, tetapi dokter umum malah dibebaskan untuk diuji secara lokal. Ini membahayakan karena universitas (terutama yang swasta) cenderung menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya dan meluluskannya dengan mudah. Sudah saatnya ujian dokter (terutama empat besar: penyakit dalam, anak, bedah, dan kebidanan) bersifat nasional, berlaku untuk universitas swasta dan negeri.
June 7th, 2009 at 21:32
Moga2 memang karna kelalaian pada tingkat bawah Kejagung ,bukan karna main mata pada proses hukum
Kalo pada akhirnya konsumen bersalah atas karna keluhannya, sudah tidak ada lagi falsafah “pembeli (konsumen) adalah raja” yang ada konsumen harus pasrah apa kata penyedia jasa.
Jika ini terjadi ditambah dgn hukum yg selalu bermain mata,bisakah Negara ini maju???
June 7th, 2009 at 21:41
Moga2 memang karna kelalaian pada tingkat bawah Kejagung ,bukan karna main mata proses hukum.
Kalo pada akhirnya konsumen bersalah atas karna keluhannya, sudah tidak ada lagi falsafah “pembeli (konsumen) adalah raja” yang ada konsumen harus pasrah apa kata penyedia jasa.
Jika ini terjadi ditambah dgn hukum yg selalu bermain mata,bisakah Negara ini maju???
June 7th, 2009 at 22:48
bp preseden yang terhormat, lindungilah masyarakat kecil spt ibu prita . untuk OMNI kamu itu gooooooooooooooblokc dan tolol .
untuk jaksa kamu pekok amat dan untuk polisi belajarlah lagi ( polisi itu juga goooooooblok ) .
nah sekarang apa yang harus dilakukan oleh OMNI : berbuatlah sesuatu yang mungkin bisa mendinginkan suasana apalah artinya kamu ( OMNI ) menuntut 1 milyar dan penjara 6 th . puaskan anda
dengan hasil itu . pakailah otakmu . dalam suatu pelayanan itu pasti akan berhadapan dengan konflik , nah bagaimana kamu menangani konflik tersebut . brpikirlah sebelum bertindak . dimana letak pelayanan prima kamu ingat konsep pelayanan prima yaitu dengan mengacu pada konsep A 3 : attitude , attention dan action
mudah-mudahan kamu mendapatkan jalan yang terbaik tapi ingat jangan menyakiti ibu prita .
tank fery much
from tingkir salatiga
June 7th, 2009 at 23:24
saya setuju bu prita ditahan supaya tidak sembarangan bicara mulut adalah harimau..apakah sebelumnya bu prita memakai jilbab? Demikian mudahnya seseorang merubah imagenya untuk menimbulkan simpati..well semua itu berpulang kepada pribadi masing…salam
June 7th, 2009 at 23:35
Setuju, ini langkah bunuh diri bagi Rumah Sakit, pada saat seseorang mengomentari pelayanannya, malah dia berusaha untuk memenjarakan pasienya. menurut saya Rumah Sakit ini segera mencabut gugatan dan jalan damai yang terbaik dia perbuat, kalau tidak saya sangat yakin masyarakat akan takut kerumah sakit tersebut.
June 8th, 2009 at 01:11
Waw..banyak x yg comment..wajar sih lagi jadi buah bibir..
Generally aku setuju dengan analisa penulis. Tapi ada sisi lain yang masih jadi tanda tanya, apa sebenarnya motivasi pihak Omni mengajukann gugatan??Karena sejauh ini investigasi dan exploring kearah itu masih belum banyak.
Semoga dengan kasus ini menjadi pembelajaran bagi sebuah bisnis pelayanan. Merujuk pada kondisi real sekarang ini, sepertinya apa yang menimpa Omni tidak akan membuat sepi RS ini dari pasien. Hal ini dikarenakan jumlah orang sakit jauh lebih banyak daripada RS nya..anda mungkin setuju. Kalaupun pasien OMni menurun itu bisa jadi sementara waktu hasil efek psikologis masa. Dari kondisi ini saya sudah bisa menduga bahwa marketing Omni akan bergerak jauh lebih cepat dibanding kecepatan keputusan penahanan yang dilakukan sang jaksa penuntut PritA.
Semangat Perbaikan Indonesia…….
June 8th, 2009 at 01:30
@ jade….
elo kaleee yang jangan asal ngomong !!! kupret loe jade !!!
June 8th, 2009 at 01:39
Saiya tertarik dgn analisis di atas,,,
*menanti bagiamana nasib RS OMNI selanjutnya…
June 8th, 2009 at 01:59
INDONESIA MEMEANG TERKENAL SOMBONG, SI PRITA JUGA SOK-SOKAN, DIAJAK BAIK2 KAN MALAH NGANCEM2… JGNH PAKE NAFSU DONG MBA… TP SMUA DAH ADA HIKMAHNYA JUGA,… SMOGA OMNI TAMBAH SUKSESS… DAN ORANG2 YGV GA TAHU DUDUK MASALAHNYA PLUS MEMFITNAH OMNI DIMAAFKAN MA SANG KHALIK..TERMASUK PENULIS BLOG INI… http://WWW.FRIENDSTER.COM/CRIME
June 8th, 2009 at 02:09
@Djaelani
gw rasa sih karena peran media itu sendiri, gw juga baru tau kasus Kho Seng Seng dari tulisan lu, setelah googling sendiri baru tau masalahnya. Gw ga pernah nonton tv, gw cuman browsing, detik, kompas, tempo dll, tapi gw ga pernah nemu/baca kasusnya Kho Seng Seng. That’s mean kasusnya emang ga di blow up kyk kasus Prita vs OMNI.
Klo kasus Kho Seng Seng juga di “sebarkan” di media cetak/online, gw yakin dukungan yang diterima juga lumayan banyak, masalahnya tidak semua orang tau kasus itu sendiri.
neh nemu hasil googling ttg Kho Seng Seng
http://ekojuli.wordpress.com/2009/06/06/seperti-prita-ini-dia-surat-pembaca-yang-membuat-aseng-dituntut-1-tahun-penjara/
June 8th, 2009 at 03:29
@ Penulis: Bravo ………… tulisan anda merefleksikan pendapat(suara) masyarakat, hanya untuk paragraf terakhir menurut saya lebih cocok kalau disebut bahwa sikap manajemen RS tersebut tidak hanya arogan tetapi juga bodoh, apalagi kalau ditilik dari ilmu marketing dan publik relation. Tepat sekali istilah bunuh diri itu.
@ Bung Amri: cukup lama saya menahan diri untuk tidak berkomentar di forum ini, tapi dengan beberapa komentar anda saya jadi gerah juga. Jika orang atau masyarakat yang anda sebut rasional adalah orang seperti anda……… maka saya lebih suka memilih untuk tidak rasional, dan bersifat emosional……. meskipun itu menjadi seperti melodrama atau sinetron…. tapi setidaknya itu mencerminkan kita masih punya hati, punya nurani dan punya kepedulian. Kalo menjadi rasional adalah seperti sikap yang anda tunjukkan….. sok berskap arif sambil menyebutkan(’menuduh’) pihak lain sebaliknya; sok bersikap netral sementara tulisan anda justru menyiratkan sebaliknya; sok tidak bersikap emosional tapi disaat yang sama anda bersikap sebaliknya dengan tulisan/komentar anda…………>>>> maka bersikap berdasarkan emosi….. itu jauh lebih baik…… karena itu juga berarti kita jujur setidaknya pada diri sendiri.
Saya berharap dan sangat berharap …… juga yakin bahwa emosional ataupun rasional itu sama baiknya, dua sifat tersebut ada dalam diri setiap orang ……. hanya saja mana sifat yang akan muncul lebih dominan tergantung pada situasi yang dihadapi setiap orang.
Anda perlu CERMIN ????????
@ Prita, Kho Seng Seng, dan para korban pemilik kekuasaan: Hanya satu kata yang bisa saya katakan…. SABAR…… gampang ya saya ucapkan, tapi sungguh berat saat kita menjalaninya,……. saya dalam kasus berbeda juga mengalaminya.
Salam tuk semuanya.
June 8th, 2009 at 03:39
kalo kita melihat dari sisi konsumen, memang aneh seorang pelanggan yang membayar dan mengeluh malah dituntut dan dipenjarakan karena mengeluh akan pelayanan yang diberkan.
namun, kalau melihat dari sisi dokter, belum pernah dalam sejarah peradilan di indonesia saya membaca bahwa dokter dinyatakan bersalah di pengadilan akan kesalahan atas keputusan profesionalnya sebagai dokter.
dokter tidak pernah melakukan kesalahan. karena memang dokter di indonesia itu sempurna. hebat bukan ?
June 8th, 2009 at 05:42
Aneh Memang, keluhan itu kan seperti suara pembaca yang harus segera ditanggapi rumah sakit, dan saya setuju ini bunuh diri sosial, rumah sakit omni kita tunggu saja kabarnya, apakah akan terus bertahan atau …… tutup(bila tak ada perbaikan pelayanan).
June 8th, 2009 at 05:44
Ada yg aneh nih…
PR OMNI menyatakan klo hasil lab tidak valid, dikasus ibu prita pemeriksaan lab menyatakan kadar trombosit <30k dan beliau diminta untuk perawatan intensif setelah itu muncul hasil revisi 181k, tp beliau tetap menjalani prosedur pengobatan seperti layaknya pasien dengan kadar trombosit <30k dan bisa ditebak akibatnya…bagian tubuh pasien ada yg mengalami pembengkakan
Yg jd pertanyaan klo hasil lab ga valid lantas apa yg dijadikan patokan dokter utk penanganan pasien?? ini beda jauh 30k ama 181k, bukankah dari hasil lab itu kita bisa memperkirakan jenis penyakit dan penanganannya
Gw emang bukan dokter, tp jgn dikira gw ga tau ilmu kedokteran
Gw harap dokter indo jgn sok2 pinter deh, merasa statusnya paling tinggi dan paling pinter…
Pasien skrg udah pinter2 boss,udah bisa belajar sendiri dari internet
Pengalaman saya sih klo berobat ke dokter klo perut sakit diagnosa pasti tipus, klo demam pasti demam berdarah or malaria(coba aja klo ga percaya)..makanya gw mendingan lgsg ke Lab baru konsultasi ke dokter, tp skrg klo hasil Lab dibilang ga valid gw jd bingung mesti kemana lagi wkwkwkwk
June 8th, 2009 at 06:39
RS omnivora!
June 8th, 2009 at 06:40
sebenernya masih banyak RS omni omni lainnya, buka saja forumnya pasti semua berbicara,
June 8th, 2009 at 07:57
Analisa yang bagus banget, sangat setuju dengan pendapat Mr. Asbun, keadilan tampaknya semakin bisa dibeli di negara ini. Sangat-sangat disayangkan rumah sakit yang katanya International tapi justru terjebak dalam hal pelayanan yang tidak bermutu… bayangkan sebuah rumah sakit besar melawan ibu rumah tangga yang tidak memiliki jabatan apapun di negara ini selain ibu rumah tangga… tampak seperti jaman penjajahan, yang kuat menindas yang lemah.. Sungguh-sungguh memalukan !!!
Say No to OMNI INTERNATIONAL Say Yes to Ibu Prita
June 8th, 2009 at 08:03
Alhamdulillah … Allah memenag maha adil…ada keadilan buat Prita..untuk tindak lebih lanjut lagi , Omni lebih baik di tutup aja..
Dan untuk pemerintah bagian audit rumah sakit tolong lebih tegas lagi untuk mengaudit rumah saki2 swata karena mahal bukan berarti bagus dan yang saya tau sebagian besar rumah sakit swata di negara kita ini belum di audit oleh pemerintah jadi bisa jadi di rumah sakit swata perlakuannya juga sama seperti omni..
Semoga bisa dijadikan masukkan ke pemerintah untuk lebih tegas lagi agar kita2 mungkin saudara2 dari orang2 pemerintah sendiri tidak terkena malapraktek dan perlakuan yang tidak menyenangkan seperti kejadian bu prita..
wass
June 8th, 2009 at 08:10
Iya, dunia kesehatan Indonesia tambah aneh,
kemaren mau cek lab di P**A, sama CS-nya diwajibkan rujukan dokter siapa. karena inisiatif sendiri, padahal dulu2 nggak pernah rewel tuh CS-nya.
menurut saya, lab-nya udah ditekan ama dokter tuh.
karena kok yang analisis lab-nya banyak tapi pasiennya nggak nambah2. jadi bangkrut dong dokter2nya.
Seharusnya DPR mulai buka mata atas dugaan perselingkuhan rs swasta, supplier obat, dan dokter2
malu, dengerin diagnosa dokter indonesia salah terus (perngalaman pribadi Alm Mertua)
June 8th, 2009 at 08:22
terjadinya kasus ini menurut saya salah satunya juga disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah dalam membuat dan terutama mengontrol berbagai kebijakan yang telah dibuat.
terutama banyak terjadinya berbagai kebijakan (PP, UU atau kejikan teknis) yang saling berlawanan.
dalam kasus ini contohnya; ada UU yang mengatur ttg hak-hak konsumen tetapi di lain pihak ada yg bertentangan dengan UU ttg pencemaran nama baik ditambah lagi UU ITE.
jadi dari kasus ini pemerintah seharusnya segera melakukan instropeksi dan evaluasi terhadap segala peraturan/kebijakan yang ada.
June 8th, 2009 at 08:26
pelayanan yang baik adalah salah satu keharusan bagi penjual jasa,komplin adalah salah satu penilaian dari castamer adalah penilaian yang rill bagi pelayanan yang diberikan penjual jasa
June 8th, 2009 at 08:32
Baguslah kalau RS OMNI Bangkruttt.! ,
Itu bisa buat pelajaran perusahhan lain yg sering semena-mena
June 8th, 2009 at 08:32
Pihak RS OMNI tidak bisa berfikir bijak, katanya orang pinter semua. masa pasien mengkritik (tidak diforum) cuma lewat email sudah dituntut ke polisi. sebenarnya pihak OMNI jika dikritik bisa koreksi diri, kita bisa maju karena kritik dari orang.
menurut saya itu ada dorongan dari pihak jaksa, tuntut saja biar masuk penjara tapi saya kasih uang dulu.
untuk ibu prita semoga tabah, saya punya anak kecil juga. bisa merasaka bagaimana jika ditinggal ibunya, pihak jaksa tidak punya hati nurani. kalu pensiun lho kena stroke karena didoakan ribuan orang, sekarang masih bisa senyum, 5 th lagi gak bisa jalan lho.
bu prita terus berjuang banyak orang dibalakang anda, kami mendukung dari virtual saja, moga -muga hukum di Indonesia bisa adil? tapi kapan???
masuk jaksa aja sudah main suap.
malu-maluin negara lho
June 8th, 2009 at 08:33
Komunikasi dokter Indonesia jelek memang. Pasien dianggap pihak yang tidak perlu tahu apapun yang diperlakukan dokter atas dirinya.
Dokter malas ngomong karena kuruikulum di FK di seluruh Indonesia menempatkan dokter sebagai manusia pilihan dan tidak ada lagi yang terbaik selain mereka.
Image yang dibangun bahwa dokter harus mewah dan berkelas juga mendorong komersialisasi tanpa batas sering terjadi. Eksploitasi pasien juga sering tidak terhindarkan.
Prita hanyalah satu dari ribuan bahkan jutaan korban dari dokter Indonesia yang kampungan.
Jangan kaget bila masyarakat berlomba ke Malaysia atau negara lainnya untuk berobat karena buruknya pelayanan kesehatan dalam negeri. Kedean nasib RS dalam negeri akan lebih jelek lagi kalau paradigma berpikir para dokter dan system seperti ini tidak diubah.
June 8th, 2009 at 08:44
Good point of view…. Berarti blogger masih punya kekuatan untuk memberi suara dan meluruskan hukum, itu yang penting.
June 8th, 2009 at 08:51
Hari gini masih dateng ke rumah sakit OMNI ?????
SAY NO TO OMNI or RS yg sejenis
June 8th, 2009 at 08:56
OMNI vora = pemakan segala
June 8th, 2009 at 08:58
Saya sangat setuju dengan post anda… Sebuah analisa yang sangat menarik…
Betul itu…
Heru
http://siheyu.net
June 8th, 2009 at 09:02
dear all,
Adalah hak semua psn untuk mendapatkan informasi mengenai masalah yang dihadapinya.
saya adalah dokter (saya pernah dinas pedalaman kalimantan barat, Kec sejangkung, dari sana 2 jam lg naik speedboat th 2001), saya membaca kasus ibu prita vs omni ini turut prihatin, baik terhadap apa yg dialami ibu prita sekeluarga maupun komentar yang muncul terhadap profesi saya ini
saya mencoba untuk bersikap netral karena saya tidak mengetahui permasalahan tepatnya bagaimana sehingga kasus ini timbul.
masalah siapa yang benar dan salah, marilah kita ikuti perkembangnya melalui proses pengadilan. di pengadilan dapat kita lihat medical record nya penanganan ibu prita, apakah tepat atau tidak? kalau salah penanganan biarlah IDI atau pihak berwenang lainya yg menanganinya, kalau penangananya sudah benar, bagaimana??? tolong kesampingkan dulu apriori anda terhadap pengadilan, sekarangkan kasus ini kan sudah konsumsi publik, pasti banyak yg mengawasi, so pasti hakim & jaksanya hati2.
komentar yang muncul mengenai dokter2 indonesia di blog ini banyak yg menghujat. Apakah ini membantu menyelesaikan masalah? Buat yg menghujat dokter, kalau anda/keluarga sakit, anda berhak untuk minta second opinion, nyari informasi di internet, berobat ke luar negeri, atau bahkan mengobati sendiri penyakitnya karena tidak percaya lagi kepada dokter indonesia.
bisa aja dengan kasus ini pula, dokter2 akan khawatir, dan pada akhirnya menolak untuk menangani pasien yg kelihatanya akan bermasalah secara hukum, walaupun pasien tsb sudah diterangkan masalah yg dihadapinya.
masih banyak dokter2 di Indonesia yg berdedikasi tinggi terhadap pelayanan kesehatan & pasien. anda fikirkan tidak, rekan2 saya yg bertugas di pedalaman papua, kalimantan, daerah lain di indonesia dengan perhatian yg minim dari pemerintah dan masyarakat melek ilmu. tapi dengan seenaknya profesi kita dihujat seperti ini.
A GOOD DOCTOR TAKE CARE OF THE DISEASE, A GREAT DOCTOR TAKE CARE OF THE PATIENTS.
mudah2an ini bisa menjadi masukan bersama & jangan dihujat ya friends, ini hanya pendapat pribadi saya, PEACE AH……………
June 8th, 2009 at 09:03
kalau saya jadi karayawan rs omni maka saya akan demo mati matian,agar manajemen rumah sakit yg sombong dan congkak mempertahankan kesalahan nya segera di ganti dan suruh mengeluarkan dokter yg salah dari omni.dan segera manajemen baru untuk minta maaf kepada masyarakat atas insiden ini dan tidak akan mengulangi nya.dari pada rumah sakit omni di tutup dan semua nganggur.
June 8th, 2009 at 09:08
sekarang ini banyak dokter yg cari gampang nya saja.semua di cari dg cara singkat dan ujung ujung nya uang..
saya sarankan bila anda sakit datang ke dokter dokter muslim maka anda akan di obat dg cara herbal dan cara yg benar..
biaya nya pun sangat murah..pelayanan sangat intensif dan memuaskan..dan masih banyak pengobatan alternatif lain seperti ust haryono..mas danu..tabib muslim dan bekam..
jangan datang ke dokter umum..
June 8th, 2009 at 09:22
OMNI nya bego…dikomporin sama lawyer kemaren sore..
termehek-mehek dech tuch….
June 8th, 2009 at 09:32
kepada “karyawan OMNI”
ya, saya mengerti kalau anda tdk setuju /kurang setuju dgn pendapat teman2 lain..
tapi menurut saya kasus pem lab seperti ini adalah hal yang wajar (27.000) ketika diulang jadi 181.000.tapi yang tidak wajar adalah ketika pasien memperoleh data yang tidak valid tsb.
mengapa bisa terjadi seperti itu???hal ini pasti ada kebocoran informasi. adalah wajar bila lab(dr/analis)mengkonfirmasi kepada dr yang menangani pasien,tetapi tidak wajar bila hasil yang belum valid di publish ke pasien.nah siapa yang salah dalam hal ini??biasanya perawat yang sering salah omong…tapi walaupun begitu hal ini masih bisa diluruskan dengan cara menjelaskan dengan baik dan benar kepada pasien. Saya yakin pasien apabila dijelaskan dengan baik dan benar dengan bahasa yang dapat dimengerti (jangan kita arogan dmenggunakan bahasa medis) maka pasien akan menerima dengan baik.Jadi sebelum hal ini berlarut2 sampai ke e-mail dan lain2,seharusnya sudah dapat diselesaikan dengan baik. Masalah ini sebetulnya sepele (seperti kata ketua komisi IX DPR RI) hanya masalah komunikasi saja. Tidak perlu sampai dituntut segala.Saya pikir management OMNI terlalu responsif menanggapi hal ini. Tidak pikir panjang,hanya mengedepankan emosi semata.
Kepada RS OMNI bagaimana dengan apa yang dsebut Komite Medik? Seharusnya dari awal Komite ini terlibat,jadi tidak perlu ada cerita bgmn Ibu Prita ingin ketemu management dan ditolak mentah2,tetapi yang menemui seharusnya Tim Komite Medik ini.Buat pertemuan antar dokter2 yang terlibat dan lab.maka akan diperoleh suatu titik temu juga dengan Ibu Prita dan keluarga.
Sekarang bola sudah bergulir,nasih udah jadi bubur…mending kita makan bubur aja yoookkkk……Poor OMNI and the doctors…
June 8th, 2009 at 09:34
Pelayanan Rumah Sakit di Indonesia secara garis besar memang masih dibawah harapan masyarakat walaupun sebenarnya ada beberapa rumah sakit yang baik dan berkualitas pelayanannya. Namun bagi saya dan keluarga, Rumah Sakit di Malaka - Malaysia menjadi satu-satunya rumah sakit yang kami percayai untuk layanan medis kami. Dengan mutu pelayanan dan harga yang reasonable, dan yang terpenting respons mereka terhadap setiap keluhan pasien dan keluarga pasien ditangani dengan baik. Memang kita masih harus banyak belajar dari negeri tetangga dalam hal Pelayanan Rumah Sakit di Singapore, Malaysia dan Thailand, dan kalau bisa kita menjadi lebih baik lagi dalam hal ini sehingga dengan potensi 240 Juta penduduk yang mendiami negara ini, tidak hanya menjadi sasaran pasar RS negara tetangga, tetapi justru RS Indonesia nantinya menjadi rujukan bagi RS negara tetangga, AMIN (”khusuk berdo’a” mode on)
June 8th, 2009 at 09:57
Dduh kasihan Rs Omni?? maunya dapat uang malah dapat musibah. hehehe…….. makanya jangan lihat keatas terus. lihat kebawah donk……..! atau ditutup aja Rs Omni sebelum bangkrut boss, dijadikan Rumah Susun aja buat amal. untuk menebus dosa-dosa rs tersebut. hehehehe…………..!!!
ya….semoga Rs Omni cepet jadi Rumah Susun, me mo daftar duluan…….!
trims……!
June 8th, 2009 at 09:57
RS OMNI NAMPAKNYA TIDAK TAHU APA YANG DISEBUT CUSTOMER SERVICE, APA ITU CUSTOMER, DAN SEBAIKNYA SEMUA KARYAWAN DAN PARA DOKTERNYA MEMPERDALAM TENTANG PANCASILA..!
June 8th, 2009 at 10:02
Hmmm… Prita itu karyawan bank Sinarmas group dan di BSD Eka Hospital milik sinarmas group..hmm menarik sekali hubungannya. Intrik bisnis dari sinarmas group ???
June 8th, 2009 at 10:08
Untuk membuktikan keseriusan kita dlm mendukung bu Prita, bagaimana kalo kita minta KOMPAS & koran lain nya untuk membuka “dompet peduli untuk bu Prita”. Biar OMNI tahu klo kita tidak hanya support doa & komentar2 tp juga support materiil.
Siapa tahu Jaksa atau polisi perlu dana dari OMNI lg, khan kita bisa kasih :)……
June 8th, 2009 at 10:14
cuma satu kata : OMNI brengsek….kita liat berapa lama OMNI bisa tahan sebelum bangkrut..
June 8th, 2009 at 10:15
yup….setiap pelayanan terutama pelayanan kesehatan…
pastinya para tenaga kesehatan ingin memberikan pelayanan terbaik,namun ketika hal itu tidak seperti yang diharapkan pasien maka sudah seharusnya bagi pihak RS untuk “menangani” complain pasien…..
karena inti dari sebuah pelayanan adalah memberikan pelayanan terbaik,,,,termasuk “menangani” complain pasien ….
terus maju kesehatan Indonesia!!!!!!!
berjuang untuk mewujudkan patient oriented ^^
June 8th, 2009 at 10:17
akan lebih biadab dan bejat lagi apabila omni dan sinarmas group yg perang dan yg di jadikan korban adalah ibu prita ..hmmm
sangat kejam dan tidak ber prikemanusiaan
June 8th, 2009 at 10:21
antara RS OMNI (Only Money No Integrity) dgn aparat hukum, pasti ada maen………!!!!
June 8th, 2009 at 10:23
KATAKAN TIDAK UNTUK RS. OMNI
June 8th, 2009 at 10:45
kalau saya keluarganya prita saya akan sebarkan email prita dalam bentuk foto kopi di seluruh mal jakarta, masjid, gereja, pengguna kendaraan dan kampus2. biar mampus omni, bangkrut krut
June 8th, 2009 at 10:45
kalau bu menteri kesehatan nggak bisa menjewer rs omni biar saya laporkan langsung ke pak sby dan pak sby yg menjewer bu menteri kesehatan.masak tinggal di kasih warning saja kepada omni nggak bisa.ijin mendirikan rimah sakit itu kan di tangan pemerintah kalau ijin nya di cabut kan urusan selesai.
saya yakin bu menteri ada main dg omni nich.. mungkin di kasih pelayanan gratis seumur hidup atau dapat bagian yg lain nya.
yg jelas bu menteri kesehatan kelihatan borok nya
June 8th, 2009 at 10:50
Astagfirulloh..
Mohon ampun ya Alloh.. Tuhan penguasa jagad raya..
June 8th, 2009 at 10:58
Harus di buka juga tu siapa 2x yang megang manajemen nya harus di awasi itu para pejabatnya, supaya nanti kalo OMNI di tutup jangan beri ijin untuk manajemen RS lagi di masa depan. jadikan contoh bagi peruak kesucian ilmu pengetahuan terutama ilmu kedokteran yang mestinya berdasarkan Kemanusiaan.
June 8th, 2009 at 10:59
Untuk pak okter teguh, maksud teman2 bukan gak percaya sama dokter. masalahnya dokter di OMNI salah meanalisis penyakit yang diderita sama bu prita. sebernanya bila ada penyakit yang sulit dikenali kan bisa diskusi sama kolega dokter yang di OMNI.jangan langsung vonis. ini jelas mal praktek, memberi obat salah sebab kita manusia jika salah memberi obat mau kemana lagi nyawa kita. bu prita pindah ke rs lainya nyatanya kena penyakit gondokan katanya kalo tak salah baca.
June 8th, 2009 at 11:08
kasian..kasiman..
June 8th, 2009 at 11:15
Cuma satu kalimat saja yang pantas buat RS OMNI.
KALIAN SUNGGUH INTITUSI YANG AROGAN TAPI TOLOL!!!!!
June 8th, 2009 at 11:18
akh OMNI gmana seh… ga jadi deh berobat ksitu… ntar sakit perut dianalisanya kena HIV lagi…
June 8th, 2009 at 11:19
Wkkkkk, gw ngakak aja ada yang bilang RS. OMNI menjadi OMNIVORA … cocok banget tuh, segala-gala diembat.
June 8th, 2009 at 11:45
dear all,
@amang,
MOHON MAAF, dari mana kita mendapatkan kesimpulan bahwa dokter yang menangani prita salah? saya pikir belum ada vonis kesitu ya, ada baiknya kita tunggu respon IDI atau Pengadilan yang akan memanggil saksi ahli independen (yg kompeten tentunya dan tidak bisa di pengaruhi oleh OPINI PUBLIK, RS OMni, PENGUASA, atau JAKSA) untuk memutuskan apakah yang dilakukan dokter yang menangani prita salah atau benar, bukan publik yang memvonis dokternya salah, setelah membaca medical record ibu Prita …… bakalan repot dong penanganan & pelayanan kesehatan di indonesia kalau publik yang menilai bahwa dokter ini salah, dokter ini benar manangani pasien, bisa2 kalau gini, kita para dokter, menolak aja ahh menangani pasien2 yg nantinya kemungkinan secara hukum bermasalah, (hak setiap manusia untuk menolak kan????).
Ibu Prita dan Tim Pengacaranya sudah lapor IDI? Kok IDI diam aja sih, Mohon maaf mas amang ya, ini pendapat pribadi saya, tanpa tendensi apa2.
kalau masalah penanganan komplain pasien, selain urusan dokter, itu juga urusan RS sebagai institusi pelayanan kesehatan untuk menanganinya ……
@ Thomas
Masalah persaingan bisnis Eka Hospital (punya Sinarmas Grup, tempat ibu Prita kerja di Bank Sinar Mas) vs RS Omni, sama2 di BSD, …….. WOWWWWWWWW……Persaingan bisnis kah ini, sampai psn harus di korbankan?????
No Comment dech, saya nggak ngerti banyak & takut di perkarakan secara hukum….karena saya nggak punya duit buat bayar pengacara heheheeeee……..
PEACE AHHHHH………………
June 8th, 2009 at 11:53
Sebenarnya ini jelas2 murni kesalahan RS Omni. Sewaktu jumpa pers, bagian humas RS Omni sendiri pernah bilang ke publik bahwa hasil tes lab tidak bisa diberikan karena menyangkut hak privasi pasien KECUALI jika yang meminta adalah keluarga pasien atau pasien itu sendiri. Dari sini kan dah jelas, yang minta kan bu Prita sendiri, kok malah nggak boleh. Sapa yang salah hyou…. Dah gitu, pede banget lagi nuntut orang seenaknya sendiri.
. Mungkin namanya perlu diganti RS Omni ‘SOK’ International kli ya….
Lagipula, komplain adalah hal yang wajar dimana2. Coba aja detik.com, jawapos, kompas, republika, semuanya punya surat suara pembaca yang isinya komplain semua. Tapi nggak ada tuh yang maen tuntut mpe ke pengadilan segala. Mungkin RS Omni lagi bangkrut, makanya dia butuh dana. Makanya pake cara tuntut, kan dapetnya langsung gede tuh. Cepet lagi, nggak usah susah payah cari duit lagi
June 8th, 2009 at 11:53
Wah kasihan ya anaknya bu Prita yang harusnya mendapatkan ASI dari ibunya. Coba yang telah menjebloskan Ibu Prita ke penjara, jalan2 ke RS bersalin, pasti ada tulisan ASI Exclusive, ayo dong kunjungi salah satu RS bersalin. Apalagi orang yang menjatuhkan hukuman adalah seorang wanita yang mana perasaannya lebih halus dan perasa melihat seorang anak yang menangis kehausan ingin menyusu ke Ibunya.
Untuk RS OMNI untuk bisa hidup harus mandi kembang dulu seribu macam alis dikubur saja.
June 8th, 2009 at 12:01
diluar menghujat atau tidak, keluarga saya sudah dua yang meninggal akibat salah penanganan dokter, saya hanya berharap semoga indonesia berubah baik segalanya, sehingga kita bisa membanggakannya di dalam atau di luar negeri.
June 8th, 2009 at 12:07
dear all,
sekadar informasi, kalau penyakit ibu Prita adalah Mumps atau Gondongan, berarti itu disebabkan oleh virus paramyxovirus.
Sederhananya penyakit seperti yg disebabkan oleh virus ini biasanya didahului oleh demam tinggi dan sakit diseluruh badan (contoh demam berdarah, demam dulu bbrp hari, baru setelah 3-4 hari trombositnya akan turun dan obatnya cukup cairan, antipanas/nyeri, bila diperlukan antibiotik & steroid). istirahat sangat penting, karena akan mengembalikan daya tahan tubah pasien untuk melawan virusnya tersebut.
biasanya akan tegak diagnosis pasti penyebab yg disebabkan oleh virus ini beberapa hari kemudian atau setelah gejala utama timbul (seperti bengkak dileher atas/kelenjar liur parotis pada kasus mumps-gondongan).
penangananya: PRINSIP: Penyakit ini akan sembuh sendiri (self limiting disease), perlu isolasi supaya tidak menular, rehidrasi cairan/infus, obat-obatan penurun panas, penahan nyeri, bila diperlukan obat tambahan seperti antibiotik, steroid, dll tergantung kondisi klinis pasien).
atau bisa di baca di Google: ketik Mumps atau Gondongan. (saya pikir orang yang melek internet akan lebih mengerti bagaimana mencarinya di Google/Yahoo dll).
Ini sekedar sharing dan masukan ya, semoga bermanfaat ….
PEACE AHHHH………
June 8th, 2009 at 12:27
nice artikel, moga-moga di baca sama para manajemen dan karyawan RS Omni.
June 8th, 2009 at 12:42
Menurut saya yang tepat bukan bunuh diri, karena sampai hari ini omni masih hidup, melainkan Omni sedang
MENGGALI KUBURANNYA SENDIRI.
Untuk mereka yg para pengagum BARAT yg rasional dan Indonesia yg EMOSIONAL, maka sebaiknya anda berkaca pada diri sendiri dan belajar sejarah serta fakta-fakta yg ada sampai hari ini. Contoh yg kini di EMOSIkan yaitu kasus Ibu Prita ini, adalah semata-mata dampak dari RASIO omni yg sudah MATI. Omni yang pertama kali main api emosi dan para netter yg simpati tentunya juga melibatkan emosi dong, namun tidak separah pihak omni yg mentang2 punya lebih banyak duit lalu main penjara aja orang lain. Emangnya enak masuk penjara???
Saya tahu negeri ini banyak bobroknya, namun apapun jeleknya negeri ini aku tetap cinta Indonesia. Mari kita tegakkan hukum dengan memberikan dukungan kepada Ibu Prita.
June 8th, 2009 at 13:15
Padahal banyak sekali keluhan di Surat Pembaca, yang berakhir dengan baik, dan itu dilakukan oleh perusahaan yang jauh lebih besar dari RS Omni.
Arogan atau sumber daya manusianya yang lemah ? Yah tergantung penilaian orang.
June 8th, 2009 at 13:29
Jangan lupa peran pengacara…coba tanyain pengacaranya deh…biasanya masalah hukum pasti berawal dari pengacara…
Kalo pengacaranya masih muda berarti lagi cari nama dan setoran hingga cenderung sembrono
…kalo mau berandai2 keliatan kolusi antara pengacara dengan aparat hukum sampe bisa jauh ke UU ITE
Pengalaman gw ngomong masalah pribadi mau diseret pengacara bau kencur ke polisi hehehehe…
June 8th, 2009 at 13:37
kemana mas rudy yang komentarnya pedas tapi agak oon ya
June 8th, 2009 at 13:39
Keadilan harus ditegakkan, bukan cuma blow up berita aja. kalo emg RS salah, ya harus dituntut sesuai dengan kekurang ajarnya , sifat Arogansi era Orba yang masih ada sampe skarang !! Dan bu prika kalo emg begitu, haruslah tetap konsisten untuk menuntut hak ibu, sebagai bukti bahwa memang ibu sebagai obyek penderita. bukan skedar tenar di berita aja. Hitam dan Putih akan slalu menang Putih. Jalanin dgn tekad bulat untuk kebenaran dan keadilan !!!
June 8th, 2009 at 14:13
rata rata RS di indonesia begitu semua, kurangnya pelayanan tapi klo ingin di layanin dgn baik harus keluar duit dulu, gimana klo ada seseorang yg butuh pertolongan mendadak tapi tak dilayani karena belum membayar administrasi ?.
udah pasti itu pasien mati mendadak juga
June 8th, 2009 at 14:35
Sangat jelas / keliatan ada main uang antara dgn rs omni dgn jaksa, memang dimana-mana yg punya uang pasti bisa membeli hukum dan keadilan
” segenggam kekuasaan (termasuk banyak uang bisa membeli kekuasaan) lebih efektif dari sekeranjang kebenaran”
June 8th, 2009 at 14:38
Masuk Rumah Gering kalo nggak punya DP gak bakal di layani, kecuali punya asuransi yang tentunya akan di call dulu untuk konfirmasi.
TIPS SEHAT :
Olahraga teratur, jaga asupan makanan, berpikiran positif, rajin beribadah n berdo’a, bekerja dengan rajin n ikhlas, baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung (yaelah, hubungannya apa? :P), sehingga akan terhindar dari gering dan berurusan dengan Rumah Gering.
June 8th, 2009 at 14:52
eh…eh..menurut berita ,RS omni international bukan international lho…..so…nipu nggak ya??????
June 8th, 2009 at 14:55
ok deh, viva …..
June 8th, 2009 at 15:05
wuuuaaa…
udh byk yg ninggalin comment….
mslh antara Ibu Prita dan Omni, yg salah atau yg benar… yg paling banyak atw sedikit dpt dukungan….
yg jls, ada pelajaran pnting dalam kasus yg populer ini bagi kita smua…
berpikir sebelum bertindak adalah satu hal yang sangat penting
June 8th, 2009 at 15:55
Usul : urungan buat web site pengaduan layanan umum yuk…, sekalian bagian humasnya yang dikomplain dikasih hak untuk jawab, polisi dan jaksa cuman boleh baca, nggak boleh nangkap.
June 8th, 2009 at 16:15
Berikut ini kutipan komentnya Djaelani:
Mental org Indonesia memang begitu.. mental SINETRON, yg selalu simpati pada sosok ibu rumah tangga yg lemah, punya anak, pake jilbab, tukang nangis, yg di zolimmi oleh kekuatan yg besar.. adi daya.. konglomerat.. kaya raya dsb.
Coba bayangkan klo korban OMNI itu sosok yg kebalikan dari itu; seorang laki2, sangar, bertatto, dan bujangan yg tidak punya tanggung jawab apa2. Apakah ada dukungan dan simpati sebesar itu? Sekalipun kasusnya sama persis?
Ada kejadian serupa yg sekarang msh di sidangkan, kasus Bpk.Kho Seng Seng. Kenapa ga dapat simpati yg sama ya? Apakah karena dia tidak memiliki kriteria yg sama spt Ibu Prita?
Bahkan capres (Mega dan JK) turut ambil kesempatan utk cari perhatian dng memanfaatkan moment “sinetron situation” ini utk mendulang suara dalam pemilu nanti.
Sanggahan.
Dari blok pertama dapat disimpulkan Mr. Djaelani ini bukan orang Indonesia. Sebab hanya ia satu2nya yg tak bermental sinetron tapi doyan nonton sinetron. Ini terbukti dari dalamnya pengetahuan sinetronnya.
Blok2. kalau laki2 sangar bertato yg jadi korban, maka ia gak akan tulis surat pembaca di detikcom. Hari itu juga para dokter dll yg terlibat di dalamnya akan jadi korban ‘kesangarannya’.
Blok3. Pertama, satu kriteria yg beda adalah Kho Seng Seng seorang bpk sementara Prita seorang ibu. Itu bedanya?!?!?!. Yang jadi inti masalah adalah Bpk yg anda maksudkan tak pernah kami baca beritanya di Internet. Sementara kasus Prita ini dominan besar karena internet. Saya pun tahu kasus ini via Internet bukan koran.
Blok4. Jk dan Mega kampanye itu hak mereka. Tapi kasus ini bukan sinetron bung. Anda itu sudah kecanduan sinetron. Ini real kasus hukum. Arogansi yg berkuasa terhadap orang biasa.
June 8th, 2009 at 16:30
Gw…setiap hari PP kekantor lewat depan RS.OMNI….sampai hari ini RS OMNI masih berdiri….belum Rata Sama Tanah….ha,…ha..ha
June 8th, 2009 at 16:44
ngaak heran kalau sekarang kalangan atas lebih suka berobat ke luar
June 8th, 2009 at 16:56
Astaga….. RS OMNI, koq bertindak gegabah ya…apakah keluhan Ibu Prita itu bisa disebut merusak nama baik? Kalaupun disebut “melakukan penipuan” bukan kah lebih ideal jika Ibu Prita ditemui dan dijelaskan persoalan yg sebenarnya. Kemudian Ibu Prita bisa diminta dengan hormat menulis kembali surat bagaimana komplain dapat diatasi oleh pihak Rumah sakit. Nah….repotnya Ibu Prita dimasukkan bui, apakah ini gaya manajemen RS OMNI??
Persoalan akan makin panjang, saya merasa RS ini akan pingsan, karena hampir seluruh Indonesia apalagi Propinsi Banten tahu ini rumah sakit bermasalah. Sangat……sangat disayangkan mungkin kata “Internasional” sebaiknya dicabut saja, malu-maluin………..
June 8th, 2009 at 17:09
sungguh tidak terpikir oleh ku RS.OMNI yang begitu besar,tak pikir besar pula pemikiran&pelayanannya ,tapi hanya besar ego nya ajah
June 8th, 2009 at 17:10
Coba cek alat-alat kesehatan RS Omni Intl itu, apakah sudah terkalibrasi atau ngak? Sudah layak pakai atau ngak?
Karena itu akan mempengaruhi diagnostic dokter nya.
Termasuk alat yang dipakai untuk mengecek/diagnosa Ibu Prita…
Mungkin disini ada celahnya sehingga bisa diangkat ke Publik….
Jangan terlalu percaya dengan peralatan kesehatan yang ada di rumah sakit Indonesia……banyak yang tidak terawat……memang branded tapi kalau tidak ada preventive maintenance….sama aja boong…karena setiap alat kesehatan harus terkalibrasi dan layak pakai…..
June 8th, 2009 at 17:24
Yth&Yts(yang tersuci) Mr. amri
Dari isi koment anda dapat ditarik 6 kesimpulan.
Pertama anda adalah pendukung Omni yg memiliki sifat seperti Ryan(sang penjagal), karena link anda ditujukan ke situs ini sendiri.
Kedua anda berusaha mengacaukan sesuatu yg sangat jelas dan gamblang dengan harapan para netter akan ragu terhadap kasus ini. Usaha yg sia-sia. Peribahasanya: Menggantang asap mengukir langit. Sorry bung dalam agama saya tidak ada satupun ayat yg mengajarkan bagaimana cara mengomentari suatu postingan. Jadi kesimpulannya anda mengada-ada. Yg pasti ada adalah terjemahan ayat berikut: Janganlah kamu mengikuti sesuatu yg kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Karena sesungguhnya telinga, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggungjawabannya.(Qura’n). Dan Barang siapa yg beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yg benar atau diam.(hadits).
Dalam kaitannya dengan kasus Prita maka semuanya jelas dan gamblang. Jadi para netter semua punya ilmunya. Untuk mereka yg koment kasar maka saya pribadi juga tidak setuju dg cara2 spt itu.
Ketiga, KEADILAN TUHAN. Memang anda tahu apa tentang Keadilan Tuhan??? Kalau keadilan hanya monopoli Tuhan, maka anda ingin mengatakan bahwa TINDAKAN Omni terhadap Prita adalah salah satu bentuknya. Jadi biarkan saja.
Keempat, anda memposisikan diri anda sebagai bukan orang Indonesia (Atau mungkin anda cuma orang yg numpang hidup di Indonesia???). Jadi dapat dimaklumi kalau anda fans no. 1 Omni. Dan otomatis anda lah yg paling tahu perkara yg sesungguhnya karena anda orang yg RASIONAL dan otomatis pula EMOSI anda sudah tergerus oleh kapitalis dengan embel2 Internasioanl.
Kelima, hanya orang tolol-lah yg akan mendewakan Internet. Anda iri terhadap Internet. Ingat bung, iri tanda tak mampu.
Keenam, komentar and sama seperti sampah. Tak bermanfaat. Manfaat apa yg dapat ditarik dari komentar abu2 menghitam???
Kembali.
June 8th, 2009 at 17:50
semoga kita tidak jadi prita yang selanjutnya
June 8th, 2009 at 18:00
@amri & Djaelani … senang amat merendahkan bangsa sendiri
@OMNI … goodluck, setiap langkah pasti ada resiko lain kali di timbang2 dulu ya ..
@Prita … kalau yakin benar maju teruss … mbak
June 8th, 2009 at 19:12
Wish everything will be ok soon.
June 8th, 2009 at 19:48
ok deh
June 8th, 2009 at 20:20
wah banyak juga yang komen..
kalo menurut saya siy yang salah ya SBY, coba dibikin pengobatan gratis dengan kualitas baik, coba pelayanan kesehatan masyarakat terjamin, coba ndak ada hospital swasta yang (sudah pasti) mengejar keuntungan, pasti ndak ada deh kejadian kaya begini….
masih untung juga siy mbak prita masih bisa nyobain rumah sakitnya (tetapi saya tetap besimpati juga lho mbak), coba orang gak mampu dan pinggir jalan yg disekitar omni sakit keras ato kecelakaan, pasti deh gak boleh masuk ama rumah sakitnya. untung aja mereka gak ngerti email, kalo ga ya pasti dipenjara juga deh, padahal udah miskin, sakit, eh skrg dipenjara… kasihan negeri ini….
ayo wujudkan Indonesia yang lebih baik…
June 8th, 2009 at 20:44
bukan kasus mbak Prita aja yang terjadi di rs.omni?…. mungkin cuma mbak Prita yang nge-published kasus nya jadi naik kepermukaan, lha kasus2 yang terkubur dan dikubur rs.omni harusnya lebih dari satu….. ANDAI SAJA SEMUA PASIEN PUNYA KEBERANIAN SEPERTI MBAK PRITA MUNGKIN RS-RS DAN DOKTER-DOKTER BISA LEBIH MAWAS DIRI, MUNGKIN JUGA BU MENKES BISA FEEDBACK AMA KORPS NYA INI…
June 8th, 2009 at 21:14
Untuk menebus kebodohan & kecongkakan.
RS OMNI ganti nama aja jadi :
RS OMI (Rumah Sakit Orang Miskin Indonesia), biayanya garatis, para miliser yang menghujat pasti akan menyanjung setinggi langit.
Iyaa ngak coooyyy??
June 8th, 2009 at 21:45
@MalaikatMaut,..Thumbs up.Ur comment 2 Mr Amri was nice. @#AH…JGN2…,I was one of ‘em though in other hospital.Not cause of didn’t dare,but moneyless.So,bttr Quite than jailed.
June 8th, 2009 at 21:54
lucu ya…mereview sesuatu malah bikin masuk penjara…. Kalau saya mau belanja online atau booking sebuah tempat , biasanya saya akan liat review para customer yang pernah menggunakan barang/jasa tersebut. Ngga sedikit kok review yang isinya negatif minta ampun, tp ngga pernah tuh ada tuntutan apa2 dari produsennya…padahal jelas2 review itu ditulis di ruang publik yang pasti dibaca banyak orang…nah, kl kasus email prita ini bisa sampe urusan sama penjara…hadddoooohhh….kagak ngarti!!!
June 8th, 2009 at 22:20
Satu hal yang harus diketahui oleh masyarakat banyak, dan juga pers khususnya,,bersikaplah adil dan jangan hanya menanggapi cerita pada sebelah pihak saja. Karena bagaimanapun RS. Omni mempunyai hak jawab dan bertanggungjawab atas apa yg terjadi. Masalahnya adalah saat ini masyarakat sudah di racuni oleh berita2 yg beredar dan kebodohan2 orang2 yg berusaha memanfaatkan keadaan. Saat ini masyarakat sudah termakan isu pers yg digulingkan beberapa minggu terakhir ini, tanpa berfikir secara sehat dan realistis atau obyektif.
Hanya gara2 dua orang anak maka pers dan semua orang menghalalkan segala cara dan merelakan ribuan nyawa karyawan dan keluarganya. Berapa banyak anak kecil yang akan terlantar apabila RS Omni di tutup.
Masyarakat Indonesia yang merasa pintar sendiri, cobalah berfikir apakah kesoktauan anda bermanfaat????
June 8th, 2009 at 23:50
kasihan hukum ngr kita, bgt mudahnya dijadikan kendaraan kepentingan. tapi yg bermasalah hukum apa alat hukumnya ya..?
June 9th, 2009 at 06:34
Selain RS nya yang perlu ditutup, bagaimana kejaksaannya.
apakah kita perlu kejaksaaan yang seperti itu?
mungkin lebih baik 2-2nya tidak ada di indonesia ini.
untuk menjadi indonesia yang lebih baik.
June 9th, 2009 at 07:14
Kejadian yang sangat patut di ambil sebagai pelajaran bagi setiap instistusi public, bukan karena pertarungan sengit antara keduanya tapi karena masing-masing mewakili kepentingan pengguna dan penyedia jasa, dan sayangnya kasus kealpaan dan pelayanan buruk dari institusi public banyak terjadi di Indonesia dan sama sekali tidak terungkap…
Semoga berakhir baik dan tidak ada pihak yang dirugikan…
Thanks for Nice Artikel
June 9th, 2009 at 07:29
Omni tuh gimana seh?! Bukannya instrospeksi malah memenjarakan orang…
June 9th, 2009 at 07:46
Analisa anda luar biasa, sy setuju, apalagi kalau kita semua yang pro dengan Bu Prita baik yang lewat blog, Milist, Facebook, Frienster dan lain-lain kumpul dan mendatangi RS. OMNI. sekalian temu darat bagi pencinta dunia maya…. Bagaimana? Tentu, Jangan lupa harus izin pihak berwajib.
June 9th, 2009 at 07:50
RS Gilaa….. makanya jika hendak merekrut karyawan untuk posisi penting seperti Public Relation ya jangan seorang dokter dong, pilih yang benar-benar sesuai untuk posisi tersebut seperti lulusan ilmu komunikasi.. ini malah dokter jadi PR, goblog10x
June 9th, 2009 at 07:51
@meita
sungguh ironi jika keadilan yang diminta pihak omni, apakah anda merasa memenjarakan ibu prita di sel adalah keadilan ? apakah hal ini menjustifikasi bahwa omni dengan ribuan karyawannya ” tidak tersentuh hukum dan paling benar ” ? , jika isi rs omni hanya berisi orang2 dengan pikiran semacam anda, pantas saja dihujat banyak orang….
June 9th, 2009 at 07:56
Oh.. ini analisa yg brilian, semoga institusi lain bisa mencontoh kejadian ini, dan tidak selamanya uang,kekuasaan bisa selalu menang dan ini terbukti, ayo kita lawan AROGANSI,DAN KESEWENANG WENANGAN …
June 9th, 2009 at 08:06
Kalau membaca kembali email Prita, rasanya memang itu bukan hanya sekedar curhat ataupun review, tapi sudah membentuk opini publik dan menebar kebencian. Pasien memang punya hak, tapi RS juga punya hak utk membela diri, sedangkan dalam kasus ini RS tidak diberi kesempatan utk membela diri.
Mungkin jika ingin curhat bisa dilakukan di surat pembaca shg kedua belah pihak mempunyai kesempatan yang sama utk menjelaskan duduk perkara.
Dari komen2 di atas, adalah hukuman bagi RS padahal pengadilan belum mengatakan demikian. Ingat, kita adalah negara hukum.
Dan jika RS Omni harus bangkrut karena hal tersebut, berapa orang yg menggantungkan hidupnya disana harus menderita, dan disana tdk hanya ada dokter, tp karyawan bawahan, spt admin & OB. Mari kita bersikap adil.
June 9th, 2009 at 08:09
Kalau saya lihat pengacaranya yang masih yakin akan menang, jangan2 management omni terkecoh oleh over confidence pengacara2-nya … hehe
June 9th, 2009 at 08:32
rumah sakit international. saya pikir, harusnya mereka lebih kritis menghadapi masalah. tapi ko malah terkesan anak2 banget ya?
saya percaya, yg punya uang, tetap yg akan menang.
June 9th, 2009 at 08:33
Lebih arogan lagi jika RS OMNI membiarkan institusinya terjebak dalam polemik ini. Berarti pihak managemen nya tdk mempertimbangkan nasib karyawannya jika institusinya terbukti bersalah. Seharusnya bisa di selesaikan dengan penarikan tuntutan dan permintaan maaf kepada ibu prita.
June 9th, 2009 at 08:49
RS OMNI adalah contoh dan sampel, bahwa inilah model pelayanan rumah sakit di negeri ini. Nilai pengabdian dan harapan agar pasien cepat sembuh menjadi hal yang tidak perlu dipusingkan. Kami minta maaf kepada dokter dan tenaga medis yang masih menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan pengabdian yang besar. Hanya anda dan Tuhan yang tahu. Model pelayanan di RS sekarang:
Pertama ; anda/anggota keluarga masuk RS, sebelum isi formulir dan membayar uang muka, jangan harap anda akan mendapat pelayanan, walaupun anda sedang sekarat.
Dua; dokter/perawat RS akan marah2/tidak ramah kalau kita sebagai keluarga minta penjelasan atau keterangan tentang pasien (sakit apa? penyebabnya apa? dll). Seakan-akan merekalah Tuhan yang menentukan hidup mati seseorang.
Tiga; walaupun ini berlaku umum, namun sebagai orang yang merupakan perpanjangan tangan Tuhan untuk menyembuhkan seseorang, tidak sepantasnya menerapkan biaya yang berlipat apabila anda diperlukan pada hari libur, minggu, tengah malam dan sejenisnya. “ANDA SUDAH GANGGU WAKTU ISTIRAHAT SAYA, KALIAN SAYA KENAKAN TARIF 2 ATAU 3 KALI LIPAT DIBANDING TARIF NORMAL”.
Kasus Prita hanyalah satu kasus yang terekspos dari sekian banyak kasus yang sama, yang lebih kejam, yang lebih tidak berperikemanusiaan, yang tidak terekspos.
Walaupun kami sadar bahwa RS bukanlah badan sosial, namun kami berharap RS tidak beroperasi tanpa hati nurani.
June 9th, 2009 at 08:59
RS OMNI… ‘ditutup ajah!!’… mungkin kita setuju dengan kalimat itu (karena saya pun setuju begitu), TETAPI… disisi lain kita juga harus bisa berfikir terhadap dampaknya… banyak keluarga, banyak kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya dari gaji RS OMNI ini… sebagai contoh : OB, Perawat, dll… gampang ngomongnya, tapi kasihan mereka, nyari kerja susah, dan merekapun butuh uang untuk nafkah keluarga, anak dan istri meraka… (sedih deh…)
Tadinya saya berfikir ‘TUTUP AJA.. !!!’ sekarang pikiran itu berganti, RUMAHKAN ORANG-ORANG RS. OMNI yang berada dibalik kasus ibu Prita, yang tidak tau apa-apa janganlah… kasihan !!!
Atau JUAL RS. OMNI ke investor lain dengan harapan berganti manajemen yang lebih baik (tapi siapa yang mau beli?? sedangkan image-nya udah buruk!!)… tapi jangan lupa… ajak saya bekerja disana…
June 9th, 2009 at 09:05
Menurut gua, CS nya OMNI salah kasih input ke manajemen, CS nya harus belajar banyak lagi di industri pelayanan seperti RS, harusnya di persuasif saja dengan pasien ( kdg pasien ada yg macam-macam ) disitulah peran CS harus bagus. Apalagi memasukan berita besar-besar di koran , terkesan arogan ? setahu saya RS Omni baru mulai beroperasi 2008m , bad marketing strategi untuk sebuah RS yg baru beroperasi
June 9th, 2009 at 09:12
-Komisi IX, minta izin OMNI di cabut serta mencabut berkas perkara tuntutan ke Prita tanpa syarat!
-KOMNAS HAM, ada indikasi pelanggaran ham oleh OMNI
-Jampinsus, ada kemungkinan jaksa salah persepsi
Lengkap sudah !
June 9th, 2009 at 09:13
” bunuh diri sosial…”
asik bener istilahnya bro.. cakep..
June 9th, 2009 at 09:30
rs omni ga boleh sprt itu donk ma bu prita,,ya nak ya….
ayo minta maaf ma bu prita—skalian ksi ganti ruginya
besok2 jgn diulangi lg kesalahannya ya nak…
…ntar km tak pites looo
cup…cup……..cup
June 9th, 2009 at 09:40
Tepat sekali, sudah pasti masyarakat akan berpandangan negatif ke RS Omni. Sungguh kasihan RS Omni, niat “Bunuh” orang malahan “Bunuh Diri” sendiri.
Tapi bagus juga untuk RS-RS(institusi) lain, agar menghormati dan tidak semena2 terhadap hak2 pasien/pelanggan.
June 9th, 2009 at 09:42
Setuju banget ” Istilah Bunuh diri, tapi koq sosial ya…” menurut saya DPR tidak perlu minta pemerintah mencabut izin RS OMNI, karena dengan tingkah polahnya yang arogan dan angkuh memenjarakan Bu Prita apa masih ada yang mau berobat kesana.. Cepat atau lambat RS OMNI akan tutup. RS OMNI salah pilih Direktur salah pilih PR dan salah pilih Pengacara Semua tidak ada yang punya hati, karena semua berujung untuk mempertinggi kejatuhan RS OMNI… Coba kalo dapat masukan yang benar, tak akan begini jadinya… Tapi nasi udah jadi bubur, kalo dia ‘Smart’ buburnya masih bisa dijadiin bubur ayam… tp, kalo dia bloon… buburnya akan membusuk dan terbuang ujungnya RS OMNI Tutup…!
June 9th, 2009 at 09:49
Kasus bu prita dan Kho Seng Seng agak berbeda.
Kasus Bu prita adalah masalah pelayanan kesehatan ,dimana hampir seluruh masyarakat indonesia pasti pernah ke dokter atau rumah sakit. Ini yg menyebabkan kasus bu prita lebih mendapat dukungan /simpati dari pada kasus Kho seng seng.
Dizaman sekarang ini sering kali kita menerima e-mail mengenai komplaint pelayanan atau qualitas suatu product. Tapi tidak semuanya kita telan mentah2.
Kasus bu prita tidak akan menjadi ramai seperti sekarang kalau tidak ada arogansi dari rumah sakit OMNI dan ketidakadilan dari para penegak hukum.
Masih ingat kasus wakil ketua DPR yg dianggap mencemarkan nama baik Presiden SBY, apakah di tahan ? ini yg complaint masalah pelayanan malah masuk bui.
Sdh sakit, bayar ke rumah sakit masuk bui lagi …
Mungkin masih banyak perawat atau Dokter yg bagus di Rumah Sakit Omni, tapi menjadi korban karena kesalahan manajemen Omni dalam menanggapi komplaint bu Prita.
Saran saya cabut gugatan ke BU prita dan jelaskan kasus bu prita versi rumah sakit OMNI..
salam
June 9th, 2009 at 10:10
OMNI = ” Only Money No Intgerity
June 9th, 2009 at 10:21
Sodara sodara ku setanah air,
Bagaimana kalau kita tangkep2in aja tuh dokter2 OMNI trus kita suntik2 sesuka kita wakakaka…
Atau kita bakar aja gedung rumah sakit nya kekeke….
Karena begini sodara sodara, mau taruhan ga?? Kata gua RS OMNI ga akan di tuntut apalagi di tutup, pemerintah pasti bakalan cuci tangan ga lama lagi, dan Bu Prita selaku korban di minta menerima sejumlah bayaran dari RS OMNI agar masalah di anggap selesai.
Padahal kan kita mau nya tuh RS di tutup yaaa… biar pada kapok dan jadi proyek percontohan buat rumah sakit yang lain nya wakakaka….
**Provokator Mode On**
June 9th, 2009 at 10:30
saya pikir mencari keuntungan itu sah-sah saja… tapi bukan begitu caranya… jaman sudah demokrasi dan HAM dijunjung tinggi kok masih menganut aliran KUNO… halah….
lupa daratan, otak udah tumpul… mau bilang apa… kelakukan juga udah gak bener… yang dipikir cuma berbuat arogan karna berduit… , tolong yaa… perusahaan manapun jangan bekerja sama lagi dengan mantan petinggi rs omni… camkan itu… dan tunggu balasannya di akhirat nanti.
Bu Prita… yang sabar ya bu…. tuntut balik saja… gak perlu dikasih hati tuh… ambil alih saja semua kekayaannya dan kemudian hibahkan kepada orang² yang tidak mampu… saya pikir mereka tidak layak menerima titipan harta dari Tuhan
June 9th, 2009 at 10:37
RS OMNI… ‘ditutup ajah!!’… arogan juga ya saya… kasihan yang kena dampaknya, tapi juga percuma dilanjutkan imagenya juga udah jelek… pegawainya segera deh nyari kerjaan diluar.. ya meski mungkin salarynya lebih kecil gpp yang penting manajemennya sehat…
June 9th, 2009 at 10:47
Apakah ini tipikal asli bangsa kita? Dari pejabatnya, aparatnya, jasa pelayanannya, sampe urusan tetek bengek segala birokrasi sekelas kampung kok nggak pernah bener. Emang manusia nggak ada yg sempurna, tapi monyet aja nggak sempurna nggak malu-maluin tuh.
June 9th, 2009 at 10:49
saya dukung bu Prita untuk bebas dari jeratan hukum. OMNI pun sudah saya blacklist, saran saya lebih baik ganti nama jadi OMDO. Periksa juga tuh jaksa2/polisi yg nuntut krn dicurigai disogok. Lagian hare gene urusan hukum gak pake duit mending siap2 kalah aje deh.
Tapi gw gak setuju OMNI ditutup krn dokter dan karyawan yg baik2 juga masih banyak. Jgn karena ulah segilintir penguasa OMNI lalu semua dikorbankan, kasian cari kerja jaman skrng sulit.
Saran gw sih… pecat saja PIMPINAN OMNI yagng bermasalah, trus ijin dokter yg bermasalah itu dicabut. Biar yg biang kerok saja yg keluar. Nah berita ttg dipecatnya mrk yg bermasalah sebaiknya di-iklankan di media massa sekaligus meminta maaf kepada prita dan masyrakat umum yg kecewa thdp OMNI.
Lebih baik OMNI ngalah karena tidak akan mampu melawan opini negatif masyrakat. Minta maaf jauh lebih baik krn bisa meningkatkan kembali citra Rs Omni.
June 9th, 2009 at 11:33
yang penting kita harus smart sebagai pasien tapi jangan sampai jadi menggurui ke dokter, bagaimana pun dokt lebih tahu tapi kita sebgai pasien maunya cepet sembuh jadi dokter juga kadang 2 cepet ya udah kasih obat bla..bla padahal itu mungkin tdk perlu,,,,
be smarther and healtier
peace juga ah…..
June 9th, 2009 at 13:12
Meita on 08 Jun 2009 at 22:20
Satu hal yang harus diketahui oleh masyarakat banyak, dan juga pers khususnya,,bersikaplah adil dan jangan hanya menanggapi cerita pada sebelah pihak saja. Karena bagaimanapun RS. Omni mempunyai hak jawab dan bertanggungjawab atas apa yg terjadi. Masalahnya adalah saat ini masyarakat sudah di racuni oleh berita2 yg beredar dan kebodohan2 orang2 yg berusaha memanfaatkan keadaan. Saat ini masyarakat sudah termakan isu pers yg digulingkan beberapa minggu terakhir ini, tanpa berfikir secara sehat dan realistis atau obyektif.
Hanya gara2 dua orang anak maka pers dan semua orang menghalalkan segala cara dan merelakan ribuan nyawa karyawan dan keluarganya. Berapa banyak anak kecil yang akan terlantar apabila RS Omni di tutup.
Masyarakat Indonesia yang merasa pintar sendiri, cobalah berfikir apakah kesoktauan anda bermanfaat????
@meita
itulah dangkalnya otak kamu meita… sungguh naif hanya gara² RS OMNI ditutup lantas ribuan pekerja dan anak²nya akan terlantar… najis. memangnya menurut kamu memenjarakan bu Prita itu HALAL…. kalau memang kamu merasa pinter.. buktinya apa ? lagipula… kamu lebih kelihatan busuk daripada pinter…
June 10th, 2009 at 10:29
@ meita
Loe antek OMNI !!!
go to hell
June 10th, 2009 at 10:32
gw masih kesel neh ….
masih pengen hujat OMNI …
fuck your asshole … anjing !!! asu !!! tai !!! busuk !!!
June 14th, 2009 at 18:39
buat dokter yang meng clear…deskripsi anda masih menunjukan persepketif kesombongan.
June 14th, 2009 at 18:44
memang amat disayangkan testimoni dokter tu seolah-olah menjadikan profesinya lebih superior dibanding profesi lain… mata kuliah perikemanusian patut untuk anda ikuti 25 SKS lagi
June 14th, 2009 at 20:25
MATINYA KEBEBASAN BERPENDAPAT
Biarkanlah ada tawa, kegirangan, berbagi duka, tangis, kecemasan dan kesenangan… sebab dari titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menghirup udara dan menemukan jati dirinya…
itulah kata-kata indah buat RS OMNI Internasional Alam Sutera sebelum menjerat Prita dengan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik.
………………………………………………………………………………………….
Bila kita berkaca lagi kebelakang, sebenarnya pasal 310 KUHP adalah pasal warisan kolonial Belanda. Dengan membungkam seluruh seguruh teriakan, sang rezim penguasa menghajar kalangan yang menyatakan pendapat. Dengan kejam penguasa kolonial merampok kebebasan. tuduhan sengaja menyerang kehormatan, nama baik, kredibilitas menjadi ancaman, sehingga menimbulkan ketakutan kebebasan berpendapat.
Menjaga nama baik ,reputasi, integritas merupakan suatu keharusan, tapi alangkah lebih bijaksana bila pihak-pihak yang merasa terganggu lebih memperhatikan hak-hak orang lain dalam menyatakan pendapat.
Dalam kasus Prita Mulyasari, Rumah sakit Omni Internasional berperan sebagai pelayan kepentingan umum. Ketika pasien datang mengeluhjan pelayanan buruk pihak rumah sakit, tidak selayaknya segala kritikan yang ada dibungkam dan dibawah keranah hukum.
Kasus Prita Mulyasari adalah presiden buruk dalam pembunuhan kebebasan menyatakan pendapat.
July 11th, 2009 at 12:25
Well, to soon to say if it’s good, but at least it’s well designed.
I mean I thought I would be blocked after adding some interests, but the site helps you to add more.
Cheers
July 11th, 2009 at 12:27
good article , I added you in the ‘Liked’ category.. thanks for sharing the article!
July 18th, 2009 at 04:44
Hey all
I like Your blog. It is very interesting. Do You have RSS I would add to my favorites.
Let me know when it will be ready. Kee it UP.
regards Szczecin Hotele
July 24th, 2009 at 03:12
The best information i have found exactly here. Keep going Thank you
August 3rd, 2009 at 22:10
siasat news…
Who says the internet is full of garbage?? Great post, I was searching for siasat news and came across it. Glad I did….
August 5th, 2009 at 15:13
You made some good points there. I did a search on the topic and found most people will agree with your blog.
August 6th, 2009 at 07:25
Generally I do not post on blogs, but I would like to say that this post really forced me to do so! really nice post.
August 11th, 2009 at 04:30
Casino 1249862581…
Casino 1249862581…
September 27th, 2009 at 07:05
[url=http://spbhotnews.ru]Питерские горячие новост[/url]и
Пропущено порядочно запятых, но на интересность сообщения это казаться не повлияло
October 5th, 2009 at 02:34
You made some good points there. I did a search on the topic and found most people will agree with your blog.
November 3rd, 2009 at 18:22
Very nice site! cheap viagra
November 3rd, 2009 at 18:22
Very nice site! [url=http://opeyixa.com/qoxaao/2.html]cheap cialis[/url]
November 3rd, 2009 at 18:22
Very nice site!
November 6th, 2009 at 16:19
This is a great post and makes me think of where I can fit in. I do a little bit of everything mentioned here and I guess I have to find my competitive advantage.
November 6th, 2009 at 16:19
Good article - plenty of food for thought.
November 12th, 2009 at 09:57
This reminds me of something funny that my grandfather used to say…
Then its so not appropriate just now…
November 12th, 2009 at 10:01
This brings back to mind something that my grandmother always said…
Of course its most likely inappropriate at this time…
November 12th, 2009 at 10:21
This brings to mind something funny that my brother pretty much always said…
Then its totally not appropriate right now…
November 26th, 2009 at 02:56
boekhoud software
The best way of forgetting how you think you feel is to concentrate on what you know you know.
wadon17k
December 7th, 2009 at 17:45
very informative article… I would like to use a piece of this on my blog, is that feasible?
December 8th, 2009 at 15:29
very informative article… I would like to use a piece of this on my blog, is that feasible?
December 16th, 2009 at 21:54
To start earning money with your blog, initially use Google Adsense but gradually as your traffic increases, keep adding more and more money making programs to your site.
December 14th, 2010 at 15:17
nice post…
kunjungi ini ya..
FISIP Unand
thanks
August 11th, 2011 at 19:33
Hi there! Do you know if they make any plugins to assist with Search Engine Optimization? I’m trying to get my blog to rank for some targeted keywords but I’m not seeing very good results. If you know of any please share. Appreciate it!
February 12th, 2012 at 21:11
The result?People think differently and communicate differently depending on the size of the group. So recognizing you’ve gotta change paths sooner is a good idea if your actions are incorrect. Through this explosive growth and the advances in technology has arisen new and exciting job opportunities for video game testers. thwarts If you can’t find a strictly kosher hotel, then you may want to call different hotels to see if they can cater to your needs. Therefore, you need to give her some time and some space to get over things.