Ganti Pilihan Setelah Debat Capres
Friday, June 19th, 2009Malang bagi Asbun karena sewaktu ditayangkannya debat capres putaran pertama Asbun sedang berkutat dengan pekerjaan di kantor yang menumpuk tinggi. Sampai larut malam Asbun dan para stafnya masih bergelut menyelesaikan pekerjaan untuk kejar tayang besok pagi
Sebenarnya debat capres bagi Asbun tidak terlalu penting karena Asbun adalah sorang Golput Ideologis garis keras, pilihan Asbun sudah jelas : tidak milih siapa-siapa. Tapi pada momen debat capres putaran pertama ini yang diinginkan Asbun adalah bisa menemani istrinya menonton acara itu. Sudah beberapa hari terakhir istri Asbun mengingatkan untuk nonton bareng acara itu. Barangkali karena istri Asbun adalah penggemar berat SBY, jadi dia ingin Asbun melihat penampilan capres pujaannya itu. Mungkin istri Asbun berpikir dengan melihat penampilan SBY dalam debat siapa tahu iman Asbun bisa goyah dan bertobat dari ideologi golputnya.
Waktu debat dimulai istri Asbun kirim sms dari rumah : “papi debatnya sudah dimulai lhoh, nonton deh”. Walaupun Asbun sebelumnya sudah bilang ke istrinya bahwa dia akan pulang larut malam tapi rupanya istri Asbun tetap berjuang agar Asbun bisa melihat penampilan capres pujaannya.
Sayang di kantor Asbun tidak ada televisi. Televisi satu-satunya ada di gardu satpam di bawah. Dari jendela kantor Asbun di lantai empat bisa terlihat beberapa satpam di gardu sedang menonton televisi dengan khidmat. Sesekali mereka tampak manggut-manggut, saling berkomentar, bahkan bertepuk tangan. Seru sekali tampaknya, baru sekali ini Asbun merasa ingin berkantor di gardu satpam.
Sekitar jam sepuluh malam Asbun melirik ke gardu satpam di bawah dan terlihat para satpam sudah pada bubar, barangkali acara debatnya sudah kelar, begitu pikir Asbun. Sekedar mencegah agar istri Asbun tidak ngomel karena Asbun tidak sempat mengikuti debat capres maka Asbun mengirimkan sms ke istrinya : “Debatnya sudah selesai ya mami? SBY bagus ga ? Mami yakin ga ganti pilihan ?”
Istri Asbun membalas sms : “Pilihanku ganti : Anis Baswedan !”
(based on true story)